Hai, Sobat Lemma! Kalian pasti pernah merasa capek kuliah, kan? “Capek kuliah” mungkin sudah dianggap lumrah oleh sebagian besar mahasiswa. Tugas yang menumpuk, deadline yang datangnya bersamaan, tugas organisasi, tuntutan akademik, hingga tekanan untuk selalu produktif sering dianggap sebagai hal normal dari kehidupan perkuliahan. Namun, bagaimana jika yang dirasakan sebenarnya lebih dari sekadar stres biasa?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk salah satunya yaitu social anxiety atau kecemasan sosial. Statistik terbaru mengungkapkan bahwa sepertiga mahasiswa mengalami gangguan kecemasan. Kondisi ini bukan hanya tentang rasa malu semata, melainkan juga ketakutan berlebihan terhadap penilaian orang lain yang tentunya dapat memengaruhi kehidupan akademik maupun sosial.
Di lingkungan perkuliahan, tekanan sering datang dari banyak arah sekaligus. Kebanyakan mahasiswa dituntut untuk aktif, kompetitif, komunikatif, dan berprestasi dalam waktu yang bersamaan. Di sisi lain, media sosial juga kerap kali membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Tanpa sadar, hal-hal tersebut dapat memicu rasa tidak percaya diri, overthinking, bahkan kelelahan mental.
Selain itu, ketidakpastian dan kejelasan mengenai masa depan dapat menyebabkan perasaan putus asa dan kegelisahan, terutama ketika mahasiswa merasa kebingungan dan kehilangan arah terhadap masa depannya. Hal inilah yang memicu kesulitan bagi mahasiswa untuk merencanakan masa depannya, yang pada akhirnya berkontribusi pada kecemasan berlanjut mengenai masa depan.
Akibatnya, banyak mahasiswa mulai mengalami kesulitan untuk berpartisipasi di kelas, takut menyampaikan pendapat, menarik diri dari lingkungan, bahkan kehilangan motivasi belajar, sehingga tentunya hal ini dapat memengaruhi prestasi akademik mahasiswa. Selain itu, kecemasan juga dapat berdampak negatif pada kualitas tidur, yang nantinya akan menyebabkan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Sayangnya, kondisi ini sering disembunyikan karena takut dianggap “lemah” atau “berlebihan”. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu merasa baik-baik saja. Menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, bercerita, dan menerima bahwa setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda. Lingkungan pertemanan yang suportif, komunikasi yang sehat, serta keberanian untuk mencari bantuan juga menjadi langkah penting dalam menghadapi tekanan selama masa perkuliahan. Selain itu, untuk mengatasi kecemasan dapat dilakukan terapi relaksasi berupa afirmasi positif di mana individu mengucapkan kalimat pendek yang mengandung pemikiran positif yang dapat memengaruhi pikiran bawah sadar untuk mendukung perkembangan persepsi yang positif.
Nah, Sobat Lemma, inilah saatnya untuk kita menjaga kesehatan mental kita bersama. Karena pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya soal bertahan mengejar nilai saja, tetapi juga belajar menjaga diri sendiri di tengah banyaknya tuntutan kehidupan.
Source:
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666915323001968
https://www.newportinstitute.com/resources/mental-health/college-anxiety/
Oleh: Hepi Sasmita/LMA.2625012