Halooo, Sobat Lemma! Gimana nih hari-harinya setelah melewati kuliah semester ini dan menghadapi ujian? Pasti rasanya lega banget dan sekarang waktunya buat liburan. Di waktu liburan semester ini, Sobat Lemma punya kegiatan yang berbeda-beda. Ada yang magang, ada yang KKN, ada yang sibuk prokeran, dan banyak hal lainnya. Tapi, ada satu hal yang penting banget dan nggak bisa kalian lupain loh, Sobat Lemma, kira-kira apa ya? Nah, hal itu adalah self-healing! Pas ujian, pasti ngerasa pusing dan capek banget karena belajar, oleh karena itu, self-healing itu merupakan hal yang krusial untuk dilakukan. Mungkin beberapa Sobat Lemma udah sering denger tentang istilah self-healing sendiri. Menurut salah satu ahli, self-healing adalah proses yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri.
Self-healing ini emang kedengeran simple, tapi nyatanya dalam kehidupan asli, masih banyak beberapa orang yang bahkan belum mengenali dirinya sendiri secara jelas terutama dalam segi emosional. Nah, self-healing salah satunya adalah mengenali tekanan emosional dan secara aktif melakukan praktik-praktik yang mendukung penyembuhan emosional, mengidentifikasi pola pikir negatif, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Self-healing ini melibatkan identifikasi aspek-aspek dalam hidup di mana kita pernah mengalami rasa sakit, trauma, ataupun tekanan sehari-hari. Setelah mengidentifikasinya, proses ini mencakup pengembangan kebiasaan harian untuk mendukung proses penyembuhan.
“Self-healing adalah sebuah perjalanan, bukan destinasi.” Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, self-healing mencakup beberapa langkah. Mungkin terdengar mudah, namun sebagian orang menganggap ini adalah hal yang sulit dan itu karena kebiasaan diri yang sering disebut ‘toxic positivity’ dimana kita memaksa diri untuk berpikir positif yang kemudian kerap sekali membuat kita sendiri mengabaikan emosi negatif, padahal itu adalah yang sesungguhnya kita rasakan. Oleh karena itu, kita perlu bersabar dengan diri sendiri dalam proses self-healing dan menemukan apa yang sesuai dengan diri kita: apa yang sebenarnya dirasakan, langkah dan cara mana yang paling tepat.
Beberapa orang berpikir bahwa apakah mungkin bagi kita yang hidup dengan stres dan masalah kesehatan mental untuk benar-benar menyembuhkan diri sendiri? Jawabannya, tentu saja bisa. Maka dari itu, pahami terlebih dahulu masalah kamu sebelum mencari metode paling tepat. Mungkin kedengerannya kayak self-healing ini ribet, tapi sebenernya, self-healing dapat dilakukan dengan menambahkan beberapa rutinitas ke dalam keseharian kita loh. Misalnya memprioritaskan tidur dan mendapatkan tidur yang baik untuk tubuh setiap malamnya, berani mengatakan “tidak” jika diperlukan dan memprioritaskan kebaikan emosional kita, lalu menerapkan kebiasaan bersyukur setiap hari yang dapat meningkatkan kepuasan hidup, mengurangi kecemasan dan depresi, serta membantu mengubah pola pikir menjadi lebih positif.
Beberapa manfaat dari self-healing sendiri di antaranya adalah kesadaran diri yang lebih baik, pengaturan emosi yang lebih baik, rasa pemberdayaan, tujuan, dan harga diri yang semakin kuat, dan kemampuan yang lebih baik untuk mengenali keterkaitan antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Setelah melewati waktu yang sulit, penting sekali untuk melakukan self-healing demi kebaikan diri kita dan agar kita juga dapat melanjutkan hari kita esoknya dengan lebih baik, tanpa beban dan perasaan negatif yang kita bawa kemarinnya. Pada akhirnya, bentuk self-healing dapat berupa hal-hal lain dari yang sudah disebutkan, tergantung dengan kebutuhan dan keinginan kalian, jadi, jangan pernah mengabaikan perasaan kalian sendiri ya, Sobat Lemma!
Setiap dari kita akan menemukan cara-cara yang paling cocok bagi diri kita masing-masing, tapi intinya adalah menjadikan penyembuhan dan pertumbuhan sebagai prioritas dalam hidup kita, demi kebaikan kita dan keberlangsungan hidup kita.
Source:
https://www.verywellmind.com/self-healing-techniques-8665438
Oleh: Deswina Aisya Ayu Rahadiani / LMA.2524009