Mengulik Pesan R. A. Kartini Melalui Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Halo, Sobat Lemma! Seperti yang kita semua ketahui, nih, bahwa pada 21 April kemarin kita merayakan Hari Kartini, di mana R. A. Kartini ditetepkan sebagai pahlawan nasional karena perjuangannya yang menginspirasi pergerakan perempuan Indonesia hingga saat ini. Selain dengan perjuangannya, R. A. Kartini juga terkenal dengan buku buatannya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, loh! Pasti nggak asing, tapi pernah gak sih kalian mengulik lebih dalam tentang apa yang disampaikan R. A. Kartini pada buku ini? Yuk, kita bahas sama-sama!

Pertama-tama, isi dari buku ini berupa surat-surat yang dibuat oleh R. A. Kartini untuk temannya di Eropa. Sebagian dari kita mungkin tahu, terutama pada masa kolonial, perempuan Indonesia dahulu sering terkungkung adat dan stigma “Dapur, sumur, kasur” sekaligus mendapatkan diskriminasi pendidikan serta sosial. Nah, surat-surat yang dikirimkan ini menguraikan pemikiran Kartini terkait berbagai masalah termasuk tradisi feudal yang menindas, pernikahan paksa dan poligami bagi perempuan Jawa kelas atas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.

Pada buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, terdapat 87 surat yang dikelompokkan menjadi beberapa bagian berdasarkan isi dan waktu suratnya. Pada salah satu suratnya, R. A. Kartini menuliskan, “Tujuan usaha kami ada dua maksudnya, ialah turut berusaha memajukan bangsa kami dan merintis jalan bagi saudara-saudara kami perempuan, menuju arah ke keadaan yang agak berdasarkan kemanusiaan”. Dari surat ini, kita dapat melihat bahwa R. A. Kartini memang sungguh pantas untuk mendapat gelar pahlawan Emansipasi Wanita melihat dari semangatnya untuk berjuang meskipun pada waktu itu, kondisinya sangat tidak memungkinkan bagi Kartini bahkan untuk menyampaikan keinginannya, pendapatnya.

R. A. Kartini memiliki cita-cita untuk dapat mendidik kaum pribumi, melihat akan ketidakadilannya pendidikan, namun tidak pernah disetujui oleh saudaranya. Dalam salah satu suratnya, Kartini mengatakan, “Kami yakin, banyak yang akan menurut, asal ada seorang yang berani me-mulai. Sungguh usaha itu tiadalah akan sia-sia.” Dari sini, kita dapat melihat bahwa meskipun ditentang, tidak disetujui, namun Kartini siap untuk membuka jalan. Mimpi yang mungkin terdengar sangat sulit untuk dicapai pada akhirnya dapat terwujud dengan terus mencoba, dengan terus bermimpi.

R. A. Kartini merupakan simbol perlawanan wanita. R. A. Kartini merupakan salah satu pahlawan nasional yang memberikan pengaruh besar pada perubahan budaya di Indonesia. Dengan adat kental yang turun temurun, Kartini dengan berani melawan untuk keadilan untuk wanita.

Maka dari itu, Sobat Lemma, penting untuk kita agar tidak melupakan pengorbanan dan perjuangan pahlawan nasional. Tanpa mereka, negara kita tidak dapat menjadi seperti sekarang, sehingga kehidupan yang kita jalani sekarang pun akan berbeda. Oleh karena itu, yuk, kita rayakan Hari Kartini setiap tanggal 21 April sebagai bentuk apresiasi kita atas perubahan dan kemajuan yang dibawakan oleh Kartini bagi bangsa Indonesia termasuk kaum perempuan.

“Teruslah ber-mimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada mimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.” — R. A. Kartini

Source:
https://www.scribd.com/document/455684873/sejarahsosial-habis-gelap-terbitlah-terang
https://tirto.id/apa-isi-buku-habis-gelap-terbitlah-terang-karya-kartini-gEUi

Oleh: Deswina Aisya Ayu Rahadiani / LMA.2524009

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai