Aku tak paham lagi Tergerus tsunami informasi Apakah ini jebakan? Ujian akan kepedulian? Proses normalisasi Yang tidak kusetujui Sebuah perisai kata-kata Untuk memutar realita Dua sisi kontradiksi Saling melengkapi Saling beradu opini Bersatu dalam harmoni Bertikai akibat persepsi Aku kehilangan arah Antara benar dan salah Sebuah zona abu-abu Disitulah diriku Berbagai pandangan Sungguh membingungkan AkuLanjutkan membaca “Dilema Konstruktif”
Arsip Kategori: Send.Me
Termenung dalam Relung
Dalam relung yang kian termenungDioyak dikoyak-koyak, hampir dihampiri matiAsa yang tak lagi ada, yang terasah kian resahDalam rindu ia mengalir dalam kataKata-kata yang menjelma dalam rasaRasa-rasa yang kian tak terasa Di sunyi kian terhempas takut tuk meliukDi rebah dipukul galah hampir kalahDalam sepi gelisah tuk pergi hingga ke liniApalagi? Sirna ditelan semoga dalam lambung semestaMembumbungLanjutkan membaca “Termenung dalam Relung”
A Journal of my Journey to the Sky
A Short story written by LoneSky supported by : Lemma and TheBlackscar Creative Studio Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama tokoh, cerita/peristiwa, merupakan unsur fiktif belaka. Prologue Seribu tahun yang lalu, bumi telah mengalami kemerosotan tajam. Karena keserakahan manusia, peperangan terjadi dimana-mana, hampir seluruh daratan hijau kini berubah menjadi tandus, sungai dan danau mengering, lautanLanjutkan membaca “A Journal of my Journey to the Sky”
Secercah Perjuangan
Bram merupakan salah satu mahasiswa aktif Universitas Negeri di Jawa Tengah program studi S1 Matematika yang berasal dari Demak. Ia memiliki teman yang berasal dari Padang, Sumatra Barat yang juga menempuh program studi yang sama dengan Bram. Teman Bram ini bernama Dzulqar. Keduanya merupakan mahasiswa yang mempunyai kemampuan ekonomi yang pas-pasan. Hari dimana pertama kalinyaLanjutkan membaca “Secercah Perjuangan”
Rasa
Mentari datang silih berganti Tak hanya mentari Pun halnya rasa Wahai semesta, inginnya kutarik ruang dan waktu kembali, dimana bersamanya, aku satu kelana Namun, pun boleh buat? Semua sudah telanjur Nasi kian menjadi bubur Rasa pun kian memupur Kidung ini pun ‘kan pupur mengkilang Mungkin, aku salah mengartikan rayumu Gemintang rasa semua percuma Entah apakahLanjutkan membaca “Rasa”
Raih
Memang Butuh keberanian untuk meraih mimpi yang tinggi Namun kadang Butuh keberanian lebih untuk tidak meraihnya
Ikhlas
Wahai hati Kutitipkan kau kepercayaan Yang walau sakit ia tak pernah mati Yang akan tetap tumbuh bersama kekuatan Wahai jiwa Kubersihkan kau dari lumpur Meski tak sebersih dewa Tapi kau kan tetap subur Wahai diri Langkahmu tak lagi tegas Punggungmu penuh dengan duri Tapi hati dan lisanmu menggumam iklhas Biarkan berisikmu menjadi diam Meski hatiLanjutkan membaca “Ikhlas”
Alam Kita Karam
Temaram malam berteman bulan Bersimpuh lumpuh berbadan-badan Tubuh diangkut, nyawa dijemput Hati turut bersaksi tanpa luput Kita tak bisa lagi singgah dengan betah Sedang nyatanya asa berangsur punah Kita terusir dari tempat sendiri Sedang tubuh begitu payah untuk berlari Kesedihan jadi hal biasa Kehilangan semakin terasa Kemakmuran tinggal nama Kemegahan tak lagi bermakna Banyak orangLanjutkan membaca “Alam Kita Karam”
Kultusan
Sore ini ibu memasak opor ayam kesukaanku. Wanginya semerbak menguar ke setiap sudut rumah. Cahaya matahari sore mendesak masuk setiap celah rumah dengan warna jingga kekuningannya. Wajah ayah nampak muram sejak kemarin. Aku tidak tahu persis apa yang sedang membelenggu pikirannya. Namun akhir-akhir ini sejak ayah pulang dinas, Ia tak pernah terlihat sumringah berada diLanjutkan membaca “Kultusan”
Lebaran di Dapur Kosan
Aku menghela nafas menatap layar ponsel yang baru saja kumatikan itu. Baru saja aku menerima panggilan video dari Bapak dan Ibu di Jakarta. Sulit sekali rasanya melihat mereka hanya dari layar berukuran 6 inci ini. Memang, masih ada rasa hangat yang menjalar dalam raga ini ketika melihat wajah bahagia mereka. Namun, tanpa adanya pelukan danLanjutkan membaca “Lebaran di Dapur Kosan”