Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi akibat pengalaman. Ini adalah istilah umum yang merujuk pada kemampuan otak untuk mengubah, mereorganisasi, atau mengembangkan jaringan saraf. Hal ini dapat mencakup perubahan fungsional akibat kerusakan otak atau perubahan struktural akibat pembelajaran. Secara klinis, neuroplastisitas adalah proses perubahan otak setelah cedera, seperti stroke atau cedera otak traumatis (TBI). Perubahan ini dapat bermanfaat (pemulihan fungsi setelah cedera), netral (tidak ada perubahan), atau negatif (dapat menimbulkan konsekuensi patologis).
Plastisitas mengacu pada kelenturan atau kemampuan otak untuk berubah; bukan berarti otak bersifat plastis. Neuro mengacu pada neuron, sel saraf yang merupakan blok pembangun otak dan sistem saraf. Neuroplastisitas memungkinkan sel saraf untuk berubah atau menyesuaikan diri.
Neuroplastisitas dapat dipecah menjadi dua mekanisme utama:
- Regenerasi neuron/pertumbuhan kolateral: Ini mencakup konsep seperti plastisitas sinaptik dan neurogenesis.
- Reorganisasi fungsional: Ini mencakup konsep-konsep seperti ekuipotensialitas, vikariasi, dan diaskisis.
Hipotesis Plastisitas :
Hipotesis plastisitas ini didasarkan pada aktivitas impuls saraf dan perubahan selanjutnya yang terjadi pada serabut saraf di tingkat kortikal. Pertama, impuls saraf menyebabkan transformasi fungsional dalam jaringan kortikal dengan menghasilkan eksitabilitas serabut saraf. Lebih lanjut, transformasi fungsional ini meningkatkan perubahan plastis dalam sistem saraf yang mengarah pada neuroplastisitas.
Cara Kerja Neuroplastisitas:
- Pembentukan jalur baru : Pada tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan masa pertumbuhan otak yang pesat. Saat lahir, setiap neuron di korteks serebral diperkirakan memiliki 2.500 sinapsis atau celah kecil antar neuron tempat implus saraf diteruskan. Memasuki usia 3 tahun, jumlah ini berkembang pesat hingga mencapai 15.000 sinapsis per neuron.
- Memperkuat jalur yang ada : Neuron yang sering digunakan mengembangkan koneksi yang lebih kuat. Neuron yang jarang atau tidak pernah digunakan pada akhirnya akan mati.
- Beradaptasi dengan cedera : Terkadang, jika suatu area otak rusak, area ain dapat mengambil alih fungsi yang sebelumnya dikendalikan oleh area yang cedera.
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
- Pengalaman : Lingkungan belajar bahwa menawarkan banyak kesempatan untuk fokus, hal-hal baru, dan tantangan telah terbukti merangsang perubahan positif pada otak.
- Tidur : Tidur berperan dalam pertumbuhan dendritic di otak, yang dapat mendorong plastisitas otak yang lebih besar.
- Olahraga : Aktivitas fisik yang teratur dapat mencegah hilangnya neuron dan mendorong perkembangan neuron baru.
- Cedera : Otak terkadang dapat memulihkan dirinya sendiri setelah cedera. Namun, beberapa kerusakan dapat bersifat permanen.
- Kondisi medis : Beberapa kondisi medis dapat membatasi atau menghambat plastisitas otak. Di antaranya berbagai gangguan neurologis pediatrik seperti epilepsi, palsi serebral, sclerosis tuberosa, dan sindrom fragile X.
Manfaat Neuroplastisitas
Tanpa neuroplastisitas, pembelajaran atau peningkatan fungsi otak akan sulit. Neuroplastisitas juga membantu pemulihan dari cedera dan penyakit yang berkaitan dengan otak.
Membiarkan otak beradaptasi dan berubah membantu meningkatkan:
- Kemampuan mempelajari hal-hal baru
- Kemampuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif yang ada
- Pemulihan dari Stroke dan cedera otak traumatis
Neuroplastisitas juga dapat membantu orang beradaptasi dan berfungsi di lingkungan mereka. Misalnya, penelitian telah menemukan bahwa anak-anak dengan kebutaan memiliki konektivitas dan reorganisasi sirkuit saraf yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak tanpa kondisi ini.
Refrensi:
Oleh: Nadia Lintang Putri Darmawan / LMA.2524017