Fenomena Attention Residue: Ketika Pikiran Tertinggal di Tugas Lama Saat Beralih ke Tugas Baru

Hai, Sobat Lemma! Kembali lagi di seri Matematika Harus Tau!

Di era yang modern ini, rasanya kita seperti dituntut untuk bisa multitasking sekaligus cepat. Membalas pesan, mengerjakan tugas, lalu pindah ke kegiatan selanjutnya, pastinya Sobat Lemma sudah terbiasa dengan melakukan hal-hal tersebut dengan cepat dan tepat, beberapa juga bangga dengan kemampuan multitasking. Tapi, pernah nggak, sih, baru buka roomchat buat balas pesan lain, tapi yang diingat masih topik di pesan sebelumnya yang berakhir kita bisa lupa sama apa yang mau kita omongin? Nah, fenomena inilah yang disebut dengan Attention Residue.

Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog manajemen, Sophie Leroy. Attention Residue ini adalah sisa-sisa kognitif dari tugas A yang tetap aktif dan menyita sumber daya mental, bahkan jika kita secara fisik sudah beralih ke tugas B. Intinya, sih, ini adalah alasan mengapa kita sulit untuk segera fokus setelah terinterupsi. Secara teknis, otak kita tidak melakukan multitasking sejati, melainkan task switching yang sangat cepat. Proses peralihan ini tidak instan dan di sinilah Attention Residue muncul.

Sobat Lemma pasti pernah ngerasain juga, nih, misalnya lagi ngerjain sesuatu tapi tiba-tiba ke-distract, setelah itu kemungkinan besar bakal lupa. Hal ini disebabkan karena otak kita mencoba melakukan dua hal sekaligus: menjaga informasi tugas A tetap aktif dan mulai memproses tugas B, yang karena ini pula, fokus terhadap tugas B menjadi tidak maksimal. Selain itu, Attention Residue diperkuat dengan adanya fenomena psikologis yaitu The Zeigarnik Effect yang dimana menurut efek ini, otak cenderung mengingat dan terus memproses tugas-tugas yang belum selesai atau terputus daripada tugas-tugas yang sudah selesai. 

Di zaman sekarang, mungkin kita semua dituntut untuk dapat multitasking, namun, Attention Residue ini memiliki dampak buruk bagi kita. Bukan sekadar rasa terdistraksi, tetapi dapat menyebabkan menurunnya produktivitas yang kemudian dapat menyebabkan penurunan kinerja kita, dan apabila diteruskan maka akan menyebabkan kelelahan mental atau burn out. Coba Sobat Lemma pikirin lagi, deh! Apa yang kalian rasain kalau kalian lagi mencoba untuk multitasking, terutama ketika ada banyak tugas yang perlu dikerjakan? Kemungkinan besar orang-orang merasakan hal-hal tersebut.

Nah, tapi, kita juga bisa buat melawan Attention Residue ini, loh! Salah satu strategi terbaiknya adalah dengan prioritaskan satu tugas terlebih dahulu. Daripada Sobat Lemma bingung dan pikirannya tercampur, lebih baik untuk menyelesaikan terlebih dahulu satu tugas sebelum lanjut ke tugas selanjutnya. Selain itu, dengan mengambil sedikit waktu untuk beristirahat juga dapat membantu otak kita untuk sepenuhnya melepaskan diri dan me-reset dirinya sendiri. Jadi, Sobat Lemma bisa banget untuk memberikan jeda sebelum lanjut ke tugas selanjutnya. 

Attention Residue bukanlah sebuah kegagalan pribadi, melainkan konsekuensi alami dari cara kerja otak kita yang luar biasa. Dengan memahami keterbatasan kognitif ini, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri karena sulit fokus. Produktivitas sejati bukan tentang seberapa banyak tugas yang kita kerjakan dalam satu waktu, tetapi tentang seberapa fokus kita saat melakukan satu hal. Mengenali dan mengelola sisa perhatian sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan memperbaiki kesejahteraan mental kita secara keseluruhan. Dengan memahami bagaimana fenomena Attention Residue memengaruhi konsentrasi kita dan menerapkan strategi untuk meminimalkan dampaknya, kita dapat mengembalikan fokus kita dan bekerja dengan lebih efisien.

Refrensi:

Oleh: Deswina Aisya Ayu Rahadiani / LMA.2524009

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai