Overthinking: Hobi Jelek yang Menggerogoti Gen Z

Overthinking sudah seperti kebiasaan baru di kalangan Gen Z. Rasanya hampir setiap hari ada saja hal yang membuat kita sibuk menebak-nebak sesuatu di kepala. Dari pesan yang tidak kunjung dibalas, tatapan orang yang terasa “aneh”, sampai kata-kata seseorang yang kita pikir “ada maksud tersembunyi” di baliknya. Hal-hal kecil yang seharusnya bisa diabaikan, malah jadi bahan analisis panjang seperti sedang memecahkan kasus besar.

Banyak orang tidak sadar kalau overthinking sering muncul dari hal yang sepele. Misalnya, saat seseorang tidak segera membalas pesan, pikiran kita langsung berasumsi, “Aku salah ngomong, ya?”, “Dia marah, mungkin?”, atau bahkan “Dia udah bosen ya sama aku?”. Padahal bisa saja orang itu hanya sedang sibuk, atau memang belum sempat membaca pesan. Tapi otak keburu panik, lalu memutar ulang percakapan terakhir berulang kali seperti kaset rusak.

Di kehidupan sosial pun sama. Ketika sedang berbicara, sedikit perubahan ekspresi lawan bicara bisa memicu kekhawatiran. “Tadi dia kelihatan jutek, apa aku ngomongnya kebangetan?” atau “Dia ketawa, tapi nadanya beda. Apa dia nyindir aku ya?”. Dari situ, kita mulai menyusun skenario demi skenario di kepala, seolah sedang membaca pikiran orang lain. Padahal, belum tentu ada apa-apa.

Fenomena ini semakin kuat karena kita hidup di era serba cepat dan serba terlihat. Media sosial membuat kita terlalu mudah membandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang lain terlihat bahagia, sukses, atau punya hubungan yang stabil, seringkali membuat kita bertanya-tanya, “Kenapa hidupku nggak seperti itu?”. Dari situ, overthinking berkembang jadi rasa kurang percaya diri dan cemas tanpa alasan yang jelas.

Masalahnya, semakin sering dilakukan, overthinking bisa jadi kebiasaan. Otak jadi terbiasa memikirkan kemungkinan terburuk setiap kali ada hal yang terasa janggal. Lama-lama, ini bisa melelahkan. Bukan hanya mental, tapi juga fisik, karena pikiran yang tidak berhenti bikin sulit tidur, susah fokus, dan cepat capek.

Padahal, tidak semua hal perlu dipikirkan sedalam itu. Kadang, hal yang kita takutkan bahkan tidak pernah terjadi. Orang yang tidak membalas pesan mungkin sedang tertidur. Ekspresi datar seseorang bisa jadi hanya karena lelah. Dan apa yang kita khawatirkan hari ini, seringkali kita lupakan keesokan harinya.

Belajar mengurangi overthinking bukan berarti berhenti peduli, tapi tahu kapan harus berhenti menebak. Tidak semua hal punya makna tersembunyi, dan tidak semua orang menyimpan maksud tertentu. Kadang yang kita butuhkan hanyalah menerima bahwa dunia tidak selalu bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Untuk mulai keluar dari lingkaran overthinking, kita bisa mencoba hal-hal sederhana terlebih dahulu. Misalnya, berhenti menebak dan mulai bertanya langsung ketika ada hal yang mengganggu pikiran. Menuliskan isi kepala di catatan atau jurnal juga bisa membantu meredakan pikiran yang berputar terus-menerus. Selain itu, batasi waktu bermain media sosial agar tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Kalau pikiran mulai ramai, alihkan perhatian ke hal kecil yang bisa dilakukan saat itu juga, seperti berjalan sebentar, menghirup udara segar, atau sekadar menarik napas panjang. Kadang, ketenangan datang bukan dari menemukan jawaban, tapi dari berhenti mencari kemungkinan yang belum tentu ada.

Jadi, kalau lain kali pikiranmu mulai sibuk membuat skenario-skenario liar di kepala, coba tarik napas dan bilang ke diri sendiri, “Tenang. Belum tentu seburuk itu.” Karena mungkin, yang kamu kira masalah besar, sebenarnya cuma hasil editan otakmu sendiri.

Refrensi:

Oleh: Gabriela Radita Rahardjo / LMA.2423010

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai