Helm Hijau di Jalan Asap
Arman hanya ingin mengantar orderan ayam geprek sore itu. Tapi di depan kampus, jalanan sudah penuh manusia. Spanduk terbentang, toa meraung, ban menyala terbakar. Asapnya menyesak, membuat mata perih.
“Bang, muter aja lewat belakang!” teriak seorang mahasiswa, keringat bercucuran di wajahnya.
Arman mengangguk, walau dalam hati menggerutu. Orderan bisa dingin, rating bisa turun. Sementara orang-orang di depan sibuk berteriak soal “keadilan.” Kata yang sering ia dengar, tapi belum pernah mampir ke dapurnya.
Lewat jalan tikus, pandangannya tetap melirik ke arah gedung DPR. Bangunan megah itu berdiri kokoh di balik pagar besi, dijaga aparat dengan tameng berkilat. Ironis, pikirnya. Di dalam ruangan ber-AC, orang sibuk membahas tunjangan rumah dinas. Di luar, rakyat berebut udara di jalan berasap.
“Rumah dinas dicabut, katanya penderitaan,” Arman menahan tawa. Bagi dia, penderitaan itu kontrakan bocor kena hujan, motor cicilan lima tahun, dan bensin yang naik tiap bulan.
Sesudah orderan selesai, notifikasi baru muncul: antar paket ke alamat… Gedung DPR RI.
Arman bengong. Serius? Ojol masuk DPR?
Di pos jaga, aparat menatapnya tajam.
“Mau ngapain?”
“Antar makanan, Pak. Orderan,” jawab Arman, sambil menunjukkan aplikasinya.
Aparat itu mendecak, lalu setelah pemeriksaan ketat, ia akhirnya diizinkan masuk.
Di dalam, ruangan sejuk dengan pendingin ruangan. Kursi empuk berderet, meja rapat penuh kertas, botol air mineral tersusun rapi. Seorang staf mendekat, menerima paketnya sambil bergumam,
“Syukurlah makan siang datang. Kalau enggak, bisa kelaparan kita di sini, kayak rakyat di luar tuh.”
Arman tercekat. Ia ingin tertawa sekaligus muntah. “Kelaparan? Di kursi empuk dengan gaji belasan juta?” pikirnya. Tapi suaranya tertelan. Mikrofon mahal di ruangan ini lebih nyaring daripada lidah rakyat.
Ia melangkah keluar, dada sesak. Di luar, teriakan mahasiswa pecah:
“Hidup rakyat!”
Aparat maju, tameng beradu, gas air mata siap ditembakkan.
Arman menyalakan motor tuanya. Mesin batuk-batuk, bensin hampir habis. Ia berhenti sebentar, menatap gedung megah itu.
“Mungkin suatu hari nanti, motor tuaku bakal dianggap lebih berguna daripada kursi empuk mereka,” gumamnya pelan.
Lalu ia melaju pergi, meninggalkan jalan berasap. Asap motor tuanya mungkin kotor, tapi setidaknya jujur—berasal dari bensin murahan, bukan dari kebijakan busuk.
Inspired by: the recent protests and social turbulence in Indonesia.
Oleh: Lu’lu’ Tsaniya Hasya / LMA.2423018