Halooo Sobat Lemma!
Masih semangat kan malam-malam pantengin langit? Nah, kali ini kita bahas salah satu pertunjukan alam yang bikin mata nggak bisa berkedip loh, yaitu hujan meteor Perseid!
Hujan meteor ini sering dijuluki “raja hujan meteor” karena jumlahnya paling banyak dan cahayanya paling terang. Bayangin aja, kita bisa melihat sekitar 50 hingga 100 meteor terlihat per-jam yang melintas dengan cepat seolah langit sedang menaburkan bintang jatuh. Hujan meteor ini terjadi saat malam musim panas yang hangat. Fenomena ini biasanya muncul setiap bulan Agustus, dengan puncaknya antara tanggal 11–13 Agustus.
Nah, kenapa bisa ada hujan meteor? Jadi, asal-usul Perseid datang dari debu komet Swift–Tuttle. Saat Bumi melintas di jalur orbit komet ini, partikel debu kosmik masuk dan bertabrakan dengan atmosfer dengan kecepatan yang luar biasa sekitar 59 km per detik! Partikel kecil itu terbakar habis karena gesekan udara, lalu tampak seperti garis cahaya berkilat di langit malam. Itulah yang kita kenal sebagai meteor.
Perseid tampak seperti bola api yang bersumber dari ledakan cahaya dan warna yang lebih besar yang dapat bertahan lebih lama daripada rentetan meteor rata-rata. Kelebihan ini disebabkan oleh bola api berasal dari partikel material komet yang lebih besar.
Potongan-potongan puing antariksa yang berinteraksi dengan atmosfer bumi untuk terbentuknya Perseid berasal dari komet besar yaitu Komet 109P/Swift-Tuttle. Komet Swift-Tuttle membutuhkan waktu 133 tahun untuk sekali mengorbit matahari. Komet Swift-Tuttle ditemukan pada 1862 oleh Lewis Swift dan Horace Tuttle. Pada 1865, Giovanni Schiaparelli yang pertama kali mengamati secara ilmiah bahwa komet ini yang menjadi penyebab Perseid. Nama Perseid diambil dari radian, titik di langit tempat Perseid tampak berasal, yakni rasi bintang Perseid.
Fakta menarik lainnya, fenomena ini sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Catatan pertama tentang Perseid bahkan ada sejak tahun 36 Masehi di Tiongkok! Lalu di Eropa abad pertengahan, hujan meteor ini sempat dijuluki sebagai “Tears of Saint Lawrence” alias Air Mata Santo Laurensius, karena puncaknya bertepatan dengan hari peringatan santo tersebut.
Oh iya, Sobat Lemma, meteor Perseid juga bisa memancarkan warna cahaya yang berbeda-beda loh! Warna hijau biasanya berasal dari kandungan magnesium, sedangkan warna kekuningan bisa muncul dari unsur besi yang terbakar di atmosfer. Jadi, setiap kilatan meteor yang kamu lihat itu sebenarnya membawa “sidik jari” unsur kosmik dari luar angkasa.
Fenomena ini juga jadi salah satu yang paling ditunggu para fotografer langit. Dengan kamera DSLR atau bahkan kamera smartphone yang sudah punya mode long exposure, kita bisa menangkap jejak cahaya meteor yang melintas sebagai garis indah di langit malam. Nggak heran kalau Perseid disebut sebagai salah satu hujan meteor paling fotogenik di dunia.
Menariknya lagi, Perseid bisa terlihat hampir di seluruh belahan bumi, termasuk Indonesia, selama cuaca cerah dan minim polusi cahaya. Itu sebabnya, setiap tahunnya banyak komunitas astronomi di berbagai daerah mengadakan acara nonton bareng hujan meteor Perseid. Seru banget, kan?
Jangan khawatir, Sobat Lemma, karena fenomena ini tidak berdampak negatif apapun bagi bumi atau manusia seperti mengikis lapisan ozon. Karena meteor ini habis terbakar terlebih dahulu oleh atmosfer bumi sebelum sampai ke permukaan bumi. Hal ini diungkapkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia.
Jadi, kalau Sobat Lemma mau melihat hujan meteor yang paling keren dan indah ini, kalian dapat menyaksikan Hujan Meteor Perseid di derah bukit, pegunungan, atau pedesaan yang bebas dari penghalang, langitnya jernih, minim polusi, dan tidak berawan.
Jangan lupa siapin tempat nyaman jauh dari lampu kota dan juga bawa bantal, kursi santai, serta camilan biar makin seru. Siapa tahu sambil nonton, bisa sekalian bikin wish pas lihat bintang jatuh~🌠
Refrensi:
Oleh: Maia Cahya Iqlima / LMA.2524014