Gurun Sahara adalah nama sebuah padang pasir terbesar di dunia. Nama “ Sahara” dambil dari Bahasa Arab yang berarti “padang pasir”.
Tahu nggak sih, kalau Gurun Sahara itu bukan cuma gurun panas terbesar di dunia, tapi juga gurun terbesar ketiga setelah Antartika dan Arktik? Bahkan luasnya mencapai 9,2 juta kilometer persegi, hampir sama dengan wilayah Tiongkok atau Amerika Serikat, lho!
Gurun Sahara adalah gurun terpanas di dunia. Suhu tahunan rata-rata nya adalah 30°C, bahkan suhu disana pernah mencapai 58°C. Meskipun banyak yang menganggap bahwa gurun ini beriklim panas sepanjang waktu, suhu turun drastic di malam hari akibat kurangnya kelembapan dan dapat mencapai suhu terendah -6°C.
Kita tidak hanya dapat menemukan pasir saja – faktanya, sebagian besar Sahara terdiri dari dataran tinggi tandus berbatu, serta dataran garam, bukit pasir, pegunungan, dan lembah kering. Sungai dan aliran air yang terdapat di Sahara semuanya bersifat musiman, kecuali Sungai Nil. Terdapat lebih dari 20 danau di Sahara, yang mana sebagian besar merupakan danau air asin. Ada satu-satunya danau air tawar yaitu Danau Chad.
Meskipun luas, Sahara memiliki kepadatan penduduk yang rendah, dengan penduduk yang terkonsentrasi di sekitar area yang menyediakan padang rumput dan air. Bukti menunjukkan bahwa Sahara dulunya dihuni lebih luas, dengan populasi yang beragam dan saling ketergantungan ekonomi yang berkembang seiring waktu. Peternakan nomaden, pertanian menetap di oasis, dan pekerjaan khusus menjadi ciri khas masyarakat Sahara.
Ciri-ciri fisik gurun sahara:
1. Fisiografi
Gurun Sahara memiliki topografi yang beragam dan menakjubkan. Di beberapa bagian terdapat cekungan dangkal yang tergenang air secara musiman, disebut chotts atau dayas, serta cekungan oasis besar yang menjadi sumber kehidupan. Hamparan datarannya pun bervariasi, mulai dari dataran luas berkerikil yang dikenal sebagai serirs atau regs, hingga dataran tinggi berbatu bernama hammadas. Selain itu, Sahara juga dipenuhi pegunungan curam, lautan pasir luas, dan bukit-bukit pasir yang menjulang. Titik tertinggi gurun ini adalah Gunung Koussi di Pegunungan Tibesti, Chad, dengan ketinggian 3.415 meter. Sementara itu, titik terendahnya berada di Depresi Qattara, Mesir, sekitar 133 meter di bawah permukaan laut.
2. Drainase Sahara
Sungai-sungai yang berhulu di luar Sahara berperan besar dalam pasokan air permukaan dan tanah di gurun ini. Di antaranya, anak-anak Sungai Nil yang mengalir ke Mediterania, sungai-sungai yang bermuara ke Danau Chad, serta Sungai Niger yang melewati barat daya Sahara sebelum berbelok ke selatan menuju laut. Dari utara, Pegunungan Atlas dan dataran tinggi pesisir Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko juga menyumbang aliran melalui sungai seperti Saoura dan Drâa, serta wadi yang bermuara ke chott. Di dalam Sahara sendiri terdapat jaringan wadi luas, sebagian sisa aliran dari periode yang lebih lembap di masa lalu, sebagian lagi terbentuk akibat badai besar—seperti banjir Tamanrasset, Aljazair (1922). Wadi, danau, dan kolam di sekitar Pegunungan Tibesti, Tassili n’Ajjer, dan Ahaggar sangat penting, termasuk Wadi Tamanrasset. Selain itu, bukit-bukit pasir Sahara menyimpan cadangan air hujan, yang muncul kembali sebagai rembesan atau mata air di berbagai lereng curam gurun.
3. Tanah
Tanah di Sahara umumnya miskin bahan organik, kurang horizon yang jelas, dan minim aktivitas biologis, meski bakteri pengikat nitrogen masih ada di beberapa wilayah. Tanah cekungan sering bersifat salin, sedangkan di tepi gurun kandungan organiknya lebih tinggi. Komposisinya didominasi mineral mudah lapuk dan lempung aktif secara kimia, dengan karbonat bebas yang menunjukkan sedikit pelindian. Lapisan keras atau kerak banyak ditemukan di barat laut, terutama pada daerah berbatu kapur, sementara endapan halus seperti tanah diatom terbatas di cekungan.
4. Iklim Sahara
Usia Sahara masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menyebut gurun ini terbentuk sekitar 2–3 juta tahun lalu (akhir Pliosen–awal Pleistosen), namun penemuan bukit pasir berusia 7 juta tahun di Chad menunjukkan kondisi gersang sudah ada sejak Miosen. Sejak itu, Sahara mengalami siklus kering dan lembap. Aktivitas manusia, seperti peternakan sapi sejak 7.000 tahun lalu, turut memperkuat kondisi gersang dengan meningkatkan reflektivitas tanah dan mengurangi evapotranspirasi. Dalam 2.000 tahun terakhir iklimnya relatif stabil, meski sempat terjadi peningkatan curah hujan pada abad ke-16 hingga ke-18 (Zaman Es Kecil). Pada abad ke-19, iklim kembali seperti kondisi sekarang.
Iklim Sahara terbagi menjadi dua zona utama. Di utara (subtropis kering), iklim dipengaruhi sel tekanan tinggi yang stabil. Suhu siang bisa melebihi 38 °C dan turun hingga –4 °C pada malam hari, dengan ayunan suhu harian yang besar. Musim dingin relatif dingin, musim panas sangat panas. Curah hujan rata-rata hanya sekitar 76 mm per tahun, sebagian besar turun antara Desember–Maret dan Agustus dalam bentuk badai petir yang kadang memicu banjir bandang. Salju sesekali turun di dataran tinggi utara. Angin panas pembawa debu juga umum, dikenal sebagai khamsin di Mesir, ghibli di Libya, dan chili di Tunisia.
Di selatan (tropis kering), iklim dipengaruhi interaksi massa udara subtropis kering dan tropis maritim lembap. Suhu rata-rata mirip dengan utara, tetapi lebih moderat, meski puncak panas bisa mencapai 50 °C. Dataran rendah biasanya mendapat hujan maksimum di musim panas, terutama badai petir, dengan curah rata-rata sekitar 127 mm per tahun. Salju kadang turun di pegunungan tengah. Di barat, Arus Canary menurunkan suhu dan meningkatkan kabut. Sementara itu, musim dingin di Sahara selatan ditandai dengan angin kering harmattan yang membawa pasir dan debu.
Refrensi:
Oleh: Nadia Lintang Putri Darmawan / LMA.2524017