- Five Feet Apart (2019)

Five Feet Apart adalah film drama romantis Amerika Serikat tahun 2019 yang disutradarai oleh Justin Baldoni (dalam debut sutradaranya) dan ditulis oleh Mikki Daughtry dan Tobias Iaconis. Film ini terinspirasi oleh Claire Wineland yang menderita fibrosis sistik. Cystic fibrosis sendiri adalah penyakit genetika yang mengakibatkan lendir-lendir dalam tubuh menjadi kental sehingga menyumbat beberapa saluran terutama pernapasan dan pencernaan. Haley Lu Richardson dan Cole Sprouse memerankan dua pasien muda dengan fibrosis sistik, yang berusaha memiliki hubungan meski diharuskan untuk menjaga jarak tertentu antara satu sama lain.
Bermula pada saat Stella berlibur ke pantai bersama temannya, mendadak ia jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Ternyata Stella divonis mengidap penyakit langka tersebut. Penyakit langka ini butuh perawatan yang terbilang ketat dari tim medis. Hal ini mengharuskan Stella banyak menghabiskan hidupnya di rumah sakit.
Seringnya berada di rumah sakit, membuat ia bertemu dengan pasien cystic fibrosis lainnya yang bernama Will Newman. Memiliki kesamaan penyakit yang diderita dan seringnya interaksi membuat mereka saling menaruh hati yang kemudian menjalin hubungan asmara. Five Feet Apart menggambarkan keadaan Stella dan Will yang mengharuskan mereka menjaga jarak lima langkah dari semua orang. Tidak hanya menjaga jarak, penderita penyakit ini kebanyakan memiliki paru-paru yang tidak berfungsi dengan baik. Maka keduanya harus membawa tabung oksigen untuk membantu pernapasan dan mengenakan masker khusus agar tidak terkena infeksi.
2. A Man Called Otto (2022)

A Man Called Otto adalah film drama komedi tahun 2022 yang disutradarai oleh Marc Forster dari naskah karya David Magee. Film ini merupakan film adaptasi kedua dari novel tahun 2012 A Man Called Ove karya Fredik Backman, setelah film Swedia tahun 2015 yang bernama sama ditulis dan disutradarai oleh Hannes Holm. Film ini dibintangi oleh Tom Hanks bersama dengan Mariana Trevino, Rachel Keller, dan Manuel Garcia-Rulfo.
Otto adalah seorang pria yang hidup seorang diri karena istrinya telah meninggal. Tokoh Otto memiliki watak pemarah dan menyebalkan. Namun ketika muncul tetangga yang bernama Marisol dan Tommy, kehidupan sekitar rumahnya mulai berubah. Berbeda dengan Otto, Marisol dan Tommy justru memiliki karakter yang hangat dan ceria. Akan tetapi, ketika perpaduan antara karakter Otto yang pemarah dan Marisol yang ramah disatukan, maka terciptalah suatu komedi natural yang berhasil mengundang gelak tawa dari para penonton. Ditambah lagi, saat bertemu dengan tetangga lamanya, yaitu Jimmy, maka kita siap-siap untuk tertawa.
“A Man Called Otto” menyiratkan pesan kepada kita bahwa kehilangan seseorang yang sangat kita cintai itu luar biasa sakitnya. Ketika kita tidak mampu menghadapi situasi yang memaksa kita untuk berjuang, maka kita akan dihadapkan pada situasi yang sangat buruk. Film ini juga mengajarkan bahwa kita sebagai makhluk sosial juga membutuhkan peran orang lain untuk membantu kita dalam keterpurukan.
3. Manchester by the Sea (2016)

Manchester by the Sea adalah film drama Amerika Serikat tahun 2016 yang disutradarai oleh Kenneth Lonergan dan diproduseri oleh Kimberly Steward, Lauren Beck, Matt Damon, Chris Moore dan Kevin J. Walsh. Naskah film ini ditulis oleh Kenneth Lonergan. Film ini dibintangi oleh Casey Affleck, Michelle Williams, Kyle Chandler, dan Lucas Hedges.
Lee Chandler (Casey Affleck) adalah seorang tukang dan petugas kebersihan yang pendiam. Ia menjalani hari-harinya sendirian dan tinggal di ruang bawah tanah di Quincy, Massachusetts. Sebagai tukang, ia mengangkut sampah, memperbaiki pipa, dan mengerjakan tugas biasa lainnya untuk penghuni rumah yang menggunakan jasanya.
Di masa lalu, terungkap bahwa Lee menjalani kehidupan bahagianya dengan mantan istrinya, Randi (Michelle Williams), dan tiga anaknya, sampai kebakaran terjadi karena ketidaksengajaan Lee, yang menewaskan ketiga anaknya. Tidak ada tuntutan pidana yang diajukan untuk memenjarakan Lee, tetapi Randi telah membencinya karena kesalahannya dan mereka bercerai.
“Manchester by the Sea”, dalam rangka menyuguhkan drama bersubstansi semanusiawi dan senyata yang ia bisa, nekat menerobos garis pembeda antara film dengan kehidupan tersebut. Dan film ini adalah kasus langka di mana hal-hal biasa itu berdampak dengan sangat hebat. Situasi drama dalam film ini dipancing oleh masalah sehari-hari; Lee lupa parkir mobil di mana, Lee mengurus paperwork pemakaman, berdebat dengan Patrick yang tidak mau jasad ayahnya dimasukin ke freezer sementara menunggu salju mencair, menangani masalah biaya kapal. Kita akan ‘dihibur’ oleh dialog-dialog sepele tapi menjadi penting berkat karakter dan timing mereka. Kita pun tidak lagi mempermasalahkannya karena kita begitu terpaku untuk melihat apa yang terjadi kepada mereka berikutnya.
4. Dead Poets Society (1989)

Dead Poets society adalah film Amerika produksi 1989 yang bercerita tentang seorang pengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah khusus laki-laki pada 1950-an yang memberi inspirasi muridnya untuk selalu membuat perubahan dalam hidup mereka dan mengajak mereka tertarik puisi. Film berlatar di Akademi Welton di Vermont, syuting asli bertempat di St. Andrew’s School di Delaware. Sebuah buku, yang diadaptasi dari skenario film ini, juga diterbitkan dalam judul yang sama (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) ditulis oleh Nanch H. Kleinbaum.
Kisah ini bermula dari para murid Welton Academy melakukan seremoni penyambutan siswa baru. Di upacara pembukaan, empat pilar sekolah—tradition, honor, discipline, and excellence—ditekankan dengan kuat. Para siswa baru diharapkan untuk mematuhi standar ketat sekolah dan memenuhi ekspektasi tinggi dari orang tua mereka. Robin Williams memberikan penampilan yang luar biasa sebagai Keating. Metode pengajaran Keating yang tidak konvensional mendorong murid-muridnya untuk berpikir kritis dan berani melampaui batasan yang ada.
Film ini menghadirkan alur cerita yang memikat, karakter-karakter unik dengan kepribadian yang menarik, serta pesan-pesan inspiratif yang menyentuh hati. Film ini memberikan kesan yang campur aduk selepas film berakhir, memberikan kesan yang melekat. Di satu sisi, film ini terasa inspiratif dan mengesankan, dan sisi lain, film ini juga meninggalkan rasa haru dan pilu. Film ini akan membuat penonton merenungkan tentang arti hidup, kebebasan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
5. The Green Mile (1999)

The Green Mile adalah film drama Amerika tahun 1999 yang disutradarai oleh Frank Darabont, dan diadaptasi dari novel tahun 1996 berjudul sama karangan Stephen King. Film ini dikisahkan dalam format ‘flashback’ dan dibintangi oleh Tom Hanks yang berperan sebagai Paul Edgecomb dan Michael Clarke Duncan sebagai John Coffeey dengan pemeran-pemeran pendukung antara lain David Morse, Bonnie Hunt, dan James Cromwell. Film ini bercerita mengenai kehidupan Paul sebagai sipir penjara hukuman mati pada saat Depresi Besar terjadi di Amerika Serikat, dan peristiwa-peristiwa supernatural yang ia saksikan.
John Coffey, meski memiliki penampilan yang menakutkan, ternyata adalah pribadi lembut dengan kemampuan supranatural. Kemampuan ini dapat menyembuhkan penyakit dan menghidupkan kembali makhluk hidup. Keajaiban Coffey menimbulkan dilema bagi Paul, yang mulai meragukan kesalahan Coffey dalam kasus pembunuhan yang dituduhkan padanya. Cerita ini juga menampilkan konflik dengan sipir lain.
Konflik mencapai puncaknya ketika Coffey mengungkapkan, melalui kemampuan visinya, bahwa sebenarnya William “Wild Bill” Wharton adalah pelaku kejahatan yang sebenarnya. Meskipun Coffey tidak bersalah, ia memilih menerima eksekusi. Di akhir cerita, Paul mengungkapkan bahwa usia panjangnya adalah “kutukan” akibat menyaksikan keajaiban Coffey. Sementara ia harus terus hidup melihat orang-orang yang ia cintai meninggal satu per satu. Film ini menggambarkan kisah manusiawi yang penuh emosi, dengan tema keadilan, kemanusiaan, dan penebusan.
Refrensi:
Oleh: Nadia Lintang Putri Darmawan / LMA.2524017