5 Film Sejarah dengan Fashion Terglamor: Dari Ball Gown, Saree, sampai Hanbok!

Zaman dulu memang belum ada media sosial, tapi soal dressing to impress? Merekalah juaranya. Mulai dari bangsawan yang berat bajunya mencapai sekilo, sampai selir kerajaan dengan baju berwarna-warni, film dan series sejarah sering jadi ajang untuk adu visual, terutama lewat kostum yang over-the-top dan penuh detail.

Nah, buat kamu yang ingin memanjakan mata dengan glamorous fashion dan mewah dari zaman dulu, ini dia 5 film genre sejarah dari berbagai negara yang bikin mata silau tapi puas!

Marie Antoinette (2015)

    Disutradarai oleh Sofia Coppola, film ini mengangkat ikon sejarah Prancis yang sering disalahpahami: Marie Antoinette. Dikirim dari Austria ke Prancis pada usia 14 tahun untuk menikah dengan Louis XVI, Marie tiba-tiba harus menjalani kehidupan sebagai calon ratu di tengah protokol istana Versailles yang kaku dan kehidupan bangsawan yang penuh tuntutan. Film ini seperti potret perasaan Marie dibanding kisah politik revolusi. Kita melihat bagaimana ia mencoba bertahan di lingkungan yang dingin, kesepian, dan serba terkontrol, hingga akhirnya melarikan diri ke pesta-pesta mewah, makanan manis, musik, dan dunia fashion. Meski hidupnya terlihat glamor, Marie tetap remaja yang rentan dan tersesat dalam dunia yang terlalu besar untuknya.

    Bicara soal fashion, Marie Antoinette sangatlah memanjakan mata. Gaun-gaunnya besar dan dramatis, tapi disajikan dengan vibe manis seperti etalase toko kue. Warnanya pastel lembut—baby blue, lilac, blush pink—dengan detail renda, pita, dan korset yang ketat di dada. Rambutnya pun makin lama makin tinggi, dihias bulu, mutiara, dan bunga.

    Sayangnya, di Indonesia, Marie Antoinette belum tersedia di platform OTT legal mana pun. By the way, tahukah kamu kalau di sejarah aslinya, Marie Antoinette dieksekusi ketika Revolusi Prancis? Semua terjadi karena kemarahan rakyat Prancis yang memuncak terhadap monarki. Di tengah kemelaratan rakyat, bangsawannya justru hidup bergelimang harta. Salah satu yang menimbulkan kontroversi adalah gaya hidup Marie Antoinette yang hedon, terutama pakaiannya.

    Padmaavat (2018)

    Padmaavat adalah film India yang diadaptasi dari epos berjudul sama karya Malik Muhammad Jayasi, tentang ratu Rajput yang terkenal akan kecantikannya, Rani Padmavati, istri dari Maharawal Ratan Singh. Berita kecantikan Rani Padmavati terdengar sampai telinga Sultan Alauddin Khilji dari Kesultanan Delhi, yang mendorong dia untuk menyerang Kerajaan Rajput demi merebut Rani Padmavati. Perang berakhir dengan kekalahan dan kematian Maharawal Ratan Singh. Menolak menyerahkan diri pada Alauddin Khilji, Rani Padmavati dan ribuan perempuan lainnya melakukan ritual gauhar (membakar diri) untuk menjaga kesucian.

    As always, film sejarah India terkenal dengan kostumnya yang ‘heboh’ dan berkilau. Di Padmaavat, ciri khas fashion ala Rajput terlihat dari lehenga dan saree warna merah-emas yang berlapis dan penuh bordir. Setiap langkah Rani Padmavati diiringi gemerincing gelang kaki, menyatu dengan arsitektur istana yang penuh emas dan lilin. Nuansa warna, tekstur kain, dan detail aksesoris bikin kostum di Padmaavat bukan sekedar pakaian, tapi juga simbol kekuatan dan kemewahan bangsawan Rajput. Saat ini, platform OTT yang menayangkan Padmaavat adalah Apple TV. Fun fact menarik, pemeran Rani Padmavati dan Alauddin Khilji adalah pasangan suami-istri di kehidupan nyata, loh!

    The Royal Tailor (2014)

    The Royal Tailor adalah film drama sejarah Korea yang berfokus pada seni menjahit dan persaingan ego dua penjahit istana Dinasti Joseon (Korea zaman dahulu). Cerita dimulai ketika Gong-jin, penjahit muda berbakat dengan ide-ide liar dan gaya yang nyeleneh, tiba-tiba dipanggil ke istana untuk memperbaiki pakaian raja. Kehadirannya mengguncang posisi Dol-seok, penjahit kerajaan senior yang konservatif dan setia pada aturan tradisional Joseon. Keduanya tidak hanya bersaing dalam menjahit, tapi juga dalam memikat perhatian sang ratu, secara profesional maupun emosional. Gong-jin melihat pakaian sebagai bentuk ekspresi diri, sedangkan Dol-seok menganggap pakaian sebagai lambang aturan dan tata krama kerajaan.

    Di awal film, kita akan disuguhkan hanbok khas istana Dinasti Joseon yang potongannya kaku, warnanya cenderung gelap dan tenang, dan desainnya mengikuti aturan kerajaan yang ketat. Tapi semua berubah saat Gong-jin muncul. Hanbok buatannya lebih ekspresif dan penuh warna, dari pink cerah, kuning lemon, sampai biru laut, dengan bahan tipis yang jatuh lembut dan bordir bunga yang sangat detail. Yang membuat desain Gong-jin istimewa adalah caranya menjahit bukan hanya pakaian, tapi juga karakter. Ia menciptakan hanbok yang terasa personal, bukan sekedar indah, tapi juga punya makna. Contohnya, hanbok sang ratu yang awalnya tampak kaku dan dingin, perlahan berubah jadi lebih lembut, feminin, dan ‘bernafas’, merefleksikan kepribadian sang ratu yang mulai ingin bebas, ingin merasa hidup.

    Fun fact-nya, hanbok-hanbok yang muncul di film ini didesain dan dijahit langsung oleh para pengrajin hanbok tradisional dari Kota Jeonju, Korea Selatan, yang memang dikenal sebagai kota hanbok tradisional Korea! Kalau penasaran, kamu bisa lihat betapa megah dan berkilaunya hanbok-hanbok di film ini secara legal di Viu.

    Memoirs of a Geisha (2005)

    Memoirs of a Geisha diadaptasi dari novel best-seller karya Arthur Golden, bercerita tentang perjalanan seorang gadis kecil bernama Chiyo yang dijual ke sebuah rumah geisha di Kyoto pada tahun 1920-an. Di usia yang masih kecil, Chiyo dipisahkan dari keluarganya dan harus menghadapi kerasnya kehidupan dunia geisha, penuh persaingan, disiplin, dan kontrol mutlak terhadap tubuh dan pilihan hidupnya. Tapi Chiyo tumbuh menjadi perempuan yang cerdas, anggun, dan tak mudah menyerah. Di bawah bimbingan geisha senior yang legendaris, ia bertransformasi menjadi Sayuri, geisha paling cantik di Kyoto. Namun meski terlihat cantik dan tanpa celah, hidup Sayuri dipenuhi konflik batin: antara kewajiban dan keinginan, antara citra dan kenyataan, antara cinta dan pengorbanan.

    Menonton Memoirs of a Geisha rasanya seperti melihat lukisan bergerak. Tiap adegannya dipenuhi komposisi warna yang lembut dan gerakan yang tertata, seolah semuanya dirancang untuk memanjakan mata. Kimono di sini bukan sekadar pakaian, tapi bentuk komunikasi halus: warna, motif, panjang lengan, dan cara mengikat obi (ikat pinggang) semuanya menyiratkan pesan tentang usia, status, bahkan suasana hati si pemakai. Ketika semua itu dipadukan dengan kepribadian lembut dan tenang khas budaya Jepang, hasilnya adalah pesona yang anggun, kalem, dan magis.

    Fakta menarik tentang film ini, semua pemeran utama wanitanya menjalani pelatihan kerat tentang cara berjalan, duduk, menyajikan teh, dan merias diri seperti geisha sungguhan selama berbulan-bulan. Penasaran dengan hasilnya? Kalian bisa menonton film ini di Netflix.

    Anna Karenina (2012)

    Disutradarai oleh Joe Wright dan diadaptasi dari novel klasik karya Leo Tolstoy, Anna Karenina bercerita tentang kisah cinta terlarang di dunia aristokrasi Rusia abad ke-19. Film ini menampilkan pendekatan visual yang unik, di mana sebagian besar adegannya berlangsung di dalam set yang menyerupai teater dan kebanyakan diambil dalam sekali take berdurasi panjang, seolah mempertegas bahwa semua karakter sedang “memainkan peran” dalam masyarakat yang penuh topeng dan aturan. Kisahnya berpusat pada Anna, istri seorang pejabat tinggi pemerintah yang tampak hidup sempurna: cantik, dihormati, dan memiliki status sosial tinggi. Tapi hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada Vronsky, seorang perwira muda yang penuh semangat. Hubungan mereka langsung menjadi skandal di tengah masyarakat kelas atas yang kaku dan hipokrit.

    Banyak busana dalam film ini dibuat dari bahan berat seperti satin dan beludru, dengan detail bordir dan perhiasan yang rumit. Syal bulu, topi tinggi, dan sarung tangan panjang menambah kesan megah tapi dingin, sangat khas Rusia. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah adegan dansa Anna dan Vronsky, di mana Anna mengenakan gaun hitam pekat, beludru, dan mengembang. Tapi yang membuat berkesan bukan hanya gaunnya, tapi karena dipakai berdansa di tengah ballroom yang isinya orang-orang dengan tatapan menilai.

    Fun fact, gaun hitam di adegan dansa inilah yang membawa desainernya, Jacqueline Durran, memenangkan Oscar untuk kategori Best Costume Design. Mau memanjakan mata dengan gaun-gaun mengembang ala bangsawan Rusia? Kalian bisa nonton film ini di Prime Video.

    Dari gemerlap saree di Padmaavat, wig tinggi Marie Antoinette, sampai gaun beludru di Anna Karenina, lima film ini membuktikan bahwa fashion dalam film bukan sekedar estetika, tapi juga bagian dari narasi film itu sendiri. Setiap lipatan kain, pilihan warna, dan potongannya menyimpan makna dan filosofi, yang menjadi cara kita untuk memahami karakter mereka.

    Sumber Gambar:

    Oleh: Gabriela Radita Rahardjo / LMA.2423010


    Tinggalkan komentar

    Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
    Mulai