Ki Hadjar Dewantara

Halooo Sobat Lemma! Kembali lagi di seri Matematika Harus Tau!

Oleh karena kemarin kita sudah membahas sejarah singkat, pergerakan, dan transformasi pendidikan dari Hari Pendidikan Nasional, sekarang kita akan ulik lebih lanjut tentang tokoh di balik semua itu. Betul, Bapak Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Beliau lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, anak dari Gopala Putra He Soerjaningrat dan cucu dari Sri Paku Alam III. Sebagai seorang bangsawan Jawa, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan kesempatan belajar di beberapa sekolah terkemuka, dimulai dari Europeesche Lagere School (ELS) dan sempat melanjutkan ke School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen (STOVIA) di Jakarta walaupun tidak menamatkannya karena alasan kesehatan.

Pada tahun 1908, atas keputusan keluarga, Ki Hadjar Dewantara dinikahkan dengan Raden Ajeng Sutartinah, yang kemudian dikenal sebagai Nyi Hadjar Dewantara. Saat itu dunia sedang bergolak, membuat semangat kebangkitan nasional para pemuda menggebu-gebu. Pada 20 Mei 1908, lahirlah Organisasi Budi Utomo. Di situ, Ki Hadjar Dewantara di seksi propaganda. Beliau bertugas menyebarkan ide-ide Budi Utomo, terutama terkait pentingnya semangat persatuan dan nasionalisme ke masyarakat pribumi.

Ki Hadjar Dewantara sempat bekerja di pabrik gula dan apoteker sebelum kemudian terjun ke dunia jurnalistik. Pada 1912, Ki Hadjar Dewantara bekerja sebagai jurnalis di De Express di Bandung. Di sinilah beliau bergabung dan menjadi ketua gerakan Sarekat Islam (SI). Lewat pergaulannya, Ki Hadjar Dewantara menjadi dekat dengan Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo karena kesamaan visi, sehingga kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Usaha untuk mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang mengusung nasionalisme Indonesia, gagal karena mendapatkan penolakan izin dari pemerintah Belanda yang khawatir dengan gerakan nasionalisme ini. Namun perjuangan Tiga Serangkai tidak surut. Mereka tetap giat menulis dan menyuarakan kritik terhadap pemerintahan kolonial.

Artikel fenomenal Ki Hadjar Dewantara, “Als Ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang terbit di De Express pada 13 Juli 1913, menjadi sangat terkenal karena menyindir dan mengkritik keras pemerintah kolonial. Karena itu, Tiga Serangkai beserta Nyi Hadjar Dewantara ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada 6 September 1913. Di sana, Ki Hadjar Dewantara menamatkan pendidikan guru dan mendapat akta guru Eropa.

Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1919, Ki Hadjar Dewantara sempat memimpin National Indische Partij (NIP). Beliau penuh dengan tekad yang semakin kuat untuk membangun pendidikan yang berorientasi pada nasionalisme. Sehingga pada 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Taman Siswa. Lembaga ini memberikan pendidikan kepada rakyat pribumi, yang saat itu tidak memiliki akses yang sama dengan kaum bangsawan atau Belanda.

Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perannya dalam politik. Sebagai menteri pendidikan pertama Indonesia pada tahun 1950, beliau menanamkan semangat pendidikan yang merdeka dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia lewat semboyannya, “Tut Wuri Handayani”, yang menjadi slogan Kementerian Pendidikan Indonesia hingga kini. Ia juga dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959 dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional di tahun yang sama, sebelum akhirnya wafat pada 26 April 1959 di usia 69 tahun.

Perjuangan dan gagasan Ki Hadjar Dewantara dalam membangun pendidikan berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan, menjadikannya sebagai tokoh yang tidak hanya dihormati di Indonesia tetapi juga dikenang sebagai penggerak pendidikan yang revolusioner. Sehingga setiap tanggal 2 Mei, yang merupakan hari kelahirannya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia hingga saat ini.

Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia karena jasanya yang begitu besar dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.

Oleh: Kezia Revival Satria Widjaja/ LMA.2423017

Refrensi:

https://itjen.dikdasmen.go.id/web/mengenal-lebih-dekat-ki-hadjar-dewantara-bapak-pendidikan-indonesia/

https://klasika.kompas.id/baca/sejarah-ki-hadjar-dewantara-bapak-pendidikan-nasional/

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai