Halo, Sobat Lemma! Bertemu lagi di seri Matematika Harus Tau!
Seperti yang kalian ketahui, tanggal 2 Mei 2025 kemarin kita merayakan Hari Pendidikan Nasional dan sebelumnya sudah dijelaskan juga, nih, tentang sejarah dari adanya Hari Pendidikan Nasional yang penting untuk kita rayakan sebagai warga Indonesia. Berkat Bapak Ki Hadjar Dewantara, Indonesia menjadi terbuka akan pendidikan dan sekarang, pendidikan terus berkembang seiring bergantinya zaman. Berkembang menjadi lebih baik setiap tahunnya, membawa beberapa perubahan yang relevan dengan zaman yang juga berubah menjadi lebih kompleks.
Lalu, apa sih kira-kira perbedaan dari kurikulum pendidikan zaman dahulu dengan sekarang? Yuk! Kita baca dan bahas bersama!
Nah, sebelumnya kita mungkin sudah pernah diberi tahu bahwa pada zaman dahulu, pendidikan itu hanya bisa didapatkan oleh para bangsawan dan orang-orang yang mempunyai kekuasaan loh! Bahkan pada zaman kolonial Belanda, hanya orang-orang Belanda yang bisa mendapatkan pendidikan. Namun, terjadi perubahan pada saat itu yang dimana diperkenalkanlah pendidikan formal guna mengatur masyarakat pribumi untuk memenuhi kebutuhan industrinya. Meskipun pada saat ini masyarakat pribumi mendapatkan pendidikan, tetapi hal ini diberikan oleh Belanda dan untuk kepentingan Belanda.
Pada tahun 1864, berdiri sekolah bhumi putera yang hanya mengajarkan 3 macam; membaca, menulis, dan menghitung. Fun fact, Sekolah ini pun hanya memiliki 3 kelas! Namun, dikarenakan pada akhir abad ke-19 terjadi wabah penyakit menular di Pulau Jawa, maka dibangunlah sekolah STOVIA yang merupakan sekolah yang memberi pengajaran terkait kedokteran bagi pribumi Jawa. Hal ini untuk menghasilkan calon dokter yang nantinya bisa membantu pengobatan, tetapi, bahasa yang diajarkan pada saat pembelajaran pun masih menggunakan bahasa Belanda dikarenakan belum adanya penerapan budaya Indonesia saat itu. Wah, bayangin, sesusah apa ya belajar pakai bahasa Belanda?
Di tahun 1920, lahir cita-cita baru yang mengusul dari pemikiran gabungan kesadaran kultur dan kebangkitan politik gerakan transformasi untuk perkembangan Pendidikan Indonesia, sehingga pada 3 Juli 2022, didirikanlah Taman Siswa oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta. Taman Siswa ini merupakan perwujudan dari perjuangan Bapak Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan di Indonesia dengan menyebarkan pendidikan ke kalangan muda. Semenjak itu, Taman Siswa pun mulai tersebar luas ke beberapa wilayah.
Kurang lebih begitu deh untuk penjelasan tentang kurikulum pendidikan pada zaman dahulu. Nah, Sobat Lemma bisa gak menjelaskan perubahan dan perbedaan yang ada di dunia pendidikan pada zaman sekarang?
Setelah kemerdekaan Indonesia, kondisi pendidikan menjadi berubah karena menghilangkan paham-paham pendidikan dari Belanda di proses pembelajarannya. Sistem pendidikan yang diterapkan saat itu hingga sekarang ini berpacu dengan prinsip Tut wuri handayani, yaitu sebuah semboyan yang berisi: Ing garsa sung tuladha (di depan memberi teladan atau contoh), Ing madya mangun karsa, (di tengah memberi atau membangun cita-cita), Tut wuri handayani (di belakang mengikuti atau mendukung). Lagi-lagi, Bapak Ki Hadjar Dewantara lah yang memberikan pemikiran tentang semboyan ini yang sangat berguna untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
Meskipun begitu, pendidikan tidak langsung berubah menjadi seperti sekarang. Setelah kemerdekaan Indonesia, mulai dari kurikulum yang menekankan pembentukan karakter dan sejajar dengan bangsa lain, lalu diubah menjadi kurikulum yang berfokus pada moral dan kecerdasan emosional. Kemudian, di masa Orde Baru, dibuat kurikulum pendidikan baru yang lebih berotasi pada pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945. Selanjutnya, terdapat beberapa kurikulum lain seperti yang diketahui contohnya Kurikulum 2004, KTSP, Kurikulum 2013, dan kurikulum yang diterapkan saat ini, yaitu Kurikulum Merdeka.
Dengan abad ke-21 yang memasuki era globalisasi, sistem pendidikan pun berubah. Teknologi canggih mulai masuk ke semua sektor termasuk sektor pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum yang terus berubah pun memiliki perbedaannya masing-masing seiring berkembangnya dunia. Kurikulum Merdeka hadir sebagai bentuk upaya pemulihan pembelajaran, dikembangkan sebagai kurikulum yang berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang diharapkan dapat mewujudkan peserta didik berkarakter Profil Pelajar Pancasila. Namun, dikatakan bahwa Kurikulum Merdeka ini merupakan implementasi tadi pemikiran Bapak Ki Hadjar Dewantara juga, loh!
Dengan perkembangan teknologi, pendidikan semakin modern dan tidak hanya berkutat pada pelajaran akademis, tetapi juga pada pengembangan keterampilan lainnya. Ini menjadi sebuah kunci di zaman yang kompleks sekarang, di mana terdapat banyak hal yang bisa dieksplor untuk menemukan keahlian setiap siswa. Semua informasi sekarang sudah dapat kita akses dengan mudah melalui internet dan ini merupakan sebuah keuntungan yang dapat dimanfaatkan apabila digunakan untuk hal positif.
Dengan mengetahui perbedaan dan perubahan kurikulum pendidikan yang sudah terjadi, kita tahu bahwa Bapak Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh yang sangat penting dalam kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional dalam rangka menghargai jasa yang diberikan beliau untuk mencapai salah satu cita-cita bangsa kita. Beliau merupakan tokoh hebat yang ikut andil dalam perkembangan pendidikan Indonesia hingga saat ini.
Oleh karena itu, penting juga bagi kita untuk paham esensi dari Hari Pendidikan Nasional, merenungkan jasa-jasa beliau, dan juga terus berupaya untuk mengembangkan pendidikan Indonesia untuk menjadi jauh lebih baik lagi di masa depan. Maka dari itu, yuk, Sobat Lemma! Sebagai generasi penerus bangsa, kita sama-sama rayakan Hari Pendidikan Nasional dan berupaya untuk memajukan pendidikan agar merata dan berkualitas.
Oleh: Deswina Aisya Ayu R. / LMA.2524009
Refrensi :
https://fib.unair.ac.id/fib/2024/02/20/perkembangan-pendidikan-di-indonesia-dari-masa-ke-masa
https://berandainspirasi.id/perjalanan-pendidikan-nasional-2/