Hardiknas: Bukan Sekadar Peringatan, tapi Arah Baru Pendidikan Kita

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan bertepatan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara—Bapak Pendidikan Nasional yang pemikirannya masih relevan hingga kini. Namun, peringatan ini tidak cukup hanya dengan upacara dan postingan. Hardiknas seharusnya jadi waktu untuk menengok ke belakang, memikirkan masa kini, dan menata ulang arah pendidikan di masa depan.

Apa saja yang dapat kita ambil dan mengerti dari Hari Pendidikan Nasional ini?

1. Filosofi Ki Hajar Dewantara: Lebih dari Sekadar Kutipan

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Filosofi ini bukan sekadar kutipan indah untuk dibagikan tiap 2 Mei, tapi landasan mendalam tentang peran kita dalam pendidikan:

  • Ing ngarsa sung tulada: yang berada di depan, harus memberi teladan.
  • Ing madya mangun karsa: yang berada di tengah, membangun semangat dan inisiatif.
  • Tut wuri handayani: yang berada di belakang, memberi dorongan dan dukungan.

Filosofi ini tidak cuma berlaku untuk guru atau dosen, tapi untuk siapa saja yang ingin terlibat dalam dunia pendidikan—termasuk kita, para mahasiswa, relawan komunitas, dan generasi muda yang punya semangat berbagi.

Menurut Kemendikbudristek, Hardiknas 2024 mengusung tema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar” (sumber: kemdikbud.go.id). Semangat ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperjuangkan sistem pendidikan yang merdeka, inklusif, dan relevan dengan zaman.

2. Tantangan Nyata di Dunia Pendidikan Indonesia

Meskipun ada kemajuan, sistem pendidikan di Indonesia masih menghadapi beberapa persoalan penting karena masalah pendidikan kita kompleks dan multidimensi:

  1. Kesenjangan digital dan infrastruktur, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
  2. Kualitas tenaga pendidik yang belum merata, baik dari sisi pelatihan maupun kesejahteraan.
  3. Minat baca dan budaya literasi yang masih rendah.
  4. Kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja—banyak lulusan belum siap menghadapi tantangan dunia nyata.

Menurut data PISA 2022 (OECD), Indonesia masih berada di bawah rata-rata dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Artinya, kita perlu lebih dari sekadar kurikulum baru—kita butuh pendekatan baru dalam mendidik.

3. Peran Mahasiswa dan Organisasi: Agen Perubahan di Dunia Nyata

Organisasi mahasiswa, khususnya yang bergerak di bidang edukasi, punya peran besar dalam membawa pendidikan lebih dekat ke masyarakat. Mereka bukan hanya tempat berkumpul atau berdiskusi, tapi juga bisa menjadi motor penggerak perubahan. Salah satu bentuk kontribusinya adalah dengan membuat konten edukatif yang ringan, interaktif, dan mudah diterima.

Selain itu, komunitas belajar kecil—baik online maupun offline—bisa menjadi ruang yang aman, ramah, gratis, dan inklusif bagi siapa pun yang ingin belajar tanpa takut salah atau tertinggal. Kolaborasi dengan guru, dosen, hingga praktisi melalui kegiatan seperti webinar, mentoring, atau workshop juga membuka ruang dialog dan transfer pengetahuan yang lebih segar. Bahkan, dengan turun langsung ke sekolah-sekolah atau desa dalam bentuk program volunteer mengajar atau kelas inspirasi, mahasiswa bisa ikut menjembatani kesenjangan antara sistem pendidikan formal dan kebutuhan nyata Masyarakat.

4. STEM dan Matematika: Peluang Mengubah Stigma

Bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), terutama matematika, sering kali dipandang sebagai pelajaran yang rumit, kaku, dan membosankan. Padahal, bila dikemas dengan pendekatan yang tepat, matematika justru bisa menjadi alat pemberdayaan yang luar biasa. Misalnya, kemampuan dalam matematika dapat digunakan untuk membaca data dan memahami berbagai fenomena sosial secara lebih tajam. Statistik pun bisa dimanfaatkan untuk menganalisis opini publik, memahami kondisi ekonomi, hingga membaca tren yang muncul di media sosial. Di sisi lain, logika dalam matematika dapat melatih pola pikir kritis dan sistematis, yang sangat dibutuhkan di dunia modern yang penuh dengan informasi kompleks. Dengan pendekatan yang lebih komunikatif, kontekstual, dan aplikatif, kita bisa mengubah stigma matematika dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesuatu yang menarik dan bermakna.

5. Pendidikan Bukan Soal Nilai, Tapi Nilai-Nilai

Di tengah tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi atau IPK sempurna, kita sering lupa bahwa pendidikan seharusnya lebih dari sekadar angka di rapor atau transkrip. Pendidikan adalah proses panjang yang menanamkan nilai-nilai penting dalam kehidupan: nilai kemanusiaan, kemandirian berpikir, kemampuan beradaptasi, serta semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

Belajar tidak selalu harus di ruang kelas, dan mengajar tidak harus menunggu gelar atau jabatan. Dalam dunia yang terus berubah, pendidikan seharusnya menjadi proses seumur hidup—tempat manusia terus bertumbuh dan memperkaya dirinya, bukan hanya secara intelektual, tapi juga secara moral dan sosial. Hardiknas mengingatkan kita bahwa nilai-nilai inilah yang harus dijaga dan terus ditanamkan dari generasi ke generasi.

6. Mendorong Inovasi dari Akar Rumput

Perubahan dalam dunia pendidikan tidak selalu harus datang dari kebijakan pusat atau instruksi dari atas. Justru, inovasi paling kuat dan relevan sering kali muncul dari akar rumput—dari individu dan komunitas yang langsung merasakan tantangan di lapangan. Kita bisa melihat guru-guru kreatif di daerah yang membuat alat peraga dari barang bekas, atau mahasiswa relawan yang dengan penuh semangat membantu anak-anak belajar daring meskipun hanya dengan fasilitas seadanya.

Ada juga organisasi-organisasi lokal yang membangun ruang baca kecil di pelosok kampung, membuka akses pada ilmu pengetahuan bagi mereka yang tidak tersentuh perpustakaan. Gerakan-gerakan kecil semacam ini, jika terus didukung dan disinergikan, punya kekuatan besar untuk menjadi pondasi transformasi pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, dan menyentuh semua lapisan masyarakat.

7. Berikan Reward pada Diri Sendiri Setelah Belajar

Belajar yang intens tentu menguras energi. Sebagai apresiasi atas usaha yang sudah kamu lakukan, berikan reward atau hadiah kecil pada diri sendiri setelah menyelesaikan target belajar tertentu. Reward ini bisa berupa menonton episode serial favorit, mengonsumsi camilan kesukaan, atau sekadar istirahat sejenak. Pemberian reward akan meningkatkan motivasi intrinsik sehingga kamu merasa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan.

Hardiknas seharusnya jadi alarm: bahwa masih banyak hal yang harus diperjuangkan di dunia pendidikan. Tapi juga jadi arah: bahwa kita bisa memilih jalan baru, lebih adil, lebih relevan, dan lebih membumi.

Oleh: Lu’lu Tsaniya Hasya / LMA.2423018

Refrensi:

Kemendikbudristek RI. (2024). Hari Pendidikan Nasional 2024. Diakses dari: https://www.kemdikbud.go.id/.

Ki Hajar Dewantara, dalam Pemikiran, Konsep, dan Strategi Pendidikan, Kemendikbud.

OECD. (2022). PISA 2022 Results: What Students Know and Can Do. Diakses dari: https://www.oecd.org/pisa/.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai