Di benak kita, pahlawan identik dengan sosok yang memperjuangkan keadilan lewat perlawanan fisik atau diplomasi. Contoh pahlawan yang sudah familiar di telinga kita seperti Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Jender Soedirman, dan masih banyak lagi. Namun, titel pahlawan tidak terbatas pada itu saja. Tahukah kamu, kalau seorang penulis juga bisa disebut pahlawan?
Pramoedya Ananta Toer, adalah seorang penulis yang banyak berkontribusi terhadap kekayaan sastra Indonesia. Ia telah menghasilkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Salah satu karyanya yang terkenal dan mungkin akrab di telinga kita adalah novel Bumi Manusia yang lalu difilmkan dengan judul sama, dibintangi oleh Mawar Eva de Jongh dan Iqbaal Ramadhan.
Pak Pram, begitu panggilan akrabnya, sangat vokal memperjuangkan hak asasi manusia dan menyisipkan itu dalam berbagai karyanya. Salah satu karyanya, tetralogi Buru (berisi novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), fokus membahas dan mengkritisi kolonialisme, ketidakadilan, dan perjuangan rakyat Indonesia. Karya-karyanya yang kritis ini, pernah membuat Pak Pram dipenjara di masa Orde Baru, karena dianggap berbahaya dan melawan pemerintah. Tapi penangkapan Pak Pram justru membuat orang-orang semakin kagum dengan dirinya dan karya-karyanya.
Di luar karir kepenulisannya, Pak Pram aktif menjadi anggota di beberapa organisasi, salah satunya Lembaga Kebudajaan Rakjat alias Lekra. Ketika Tragedi 30 September 1965 meletus, sejak itu Lekra dibubarkan dan para anggotanya dipenjara, termasuk Pak Pram. Ia ditahan selama 14 tahun dan selama itu pula dilarang menulis. Namun, di akhir masa penahanannya, ketika ditahan di Pulau Buru, Pak Pram berhasil menyelesaikan tetralogi Buru. Setelah dibebaskan pun, karya-karyanya dilarang beredar oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap memasukkan ajaran kiri (re: komunisme). Beberapa sumber menyebutkan ada sekitar 29 karya Pak Pram yang dilarang beredar oleh pemerintah Orde Baru. Meski dilarang, karya Pak Pram berhasil diselundupkan ke luar negeri dan justru mendapat respon positif dari orang-orang di luar sana. Hingga kini, karya Pak Pram masih digandrungi karena tema ketidakadilan yang kerap diangkatnya masih relevan dengan situasi saat ini.
Oleh : Gabriela Radita Rahardjo/LMA
Sumber :