Menanti Jeda

Oleh : Fitriah

Teruntuk malam yang selalu setia,
kubisikkan cerita pada sunyinya,
tentang hati yang mulai meredup,
dan langkah-langkah yang terhenti tanpa arah.

Pundak ini memikul beban,
meski tubuh meronta untuk berhenti,
namun harapan tetap menjerat,
membisikkan agar tetap bertahan.

Mata yang berat ingin terpejam,
menyatu dalam tenang tanpa tuntutan,
tapi janji-janji pada diri,
menjaga langkah agar tak rapuh sendiri.

Apakah lelah ini berarti?
Dalam derap yang tiada akhir,
kutemukan diriku hilang,
namun tetap berusaha bertahan.

Pada esok, entah kapan tiba,
kuharap ada jeda yang membebaskan,
agar jiwa ini kembali tenang,
dan langkah-langkah bisa pulang.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai