Niccolò Paganini adalah violinis dan komposer Italia yang hidup pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai salah satu virtuoso paling dihargai di masanya. Virtuoso sendiri berarti seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam bermain dan menciptakan musik. Bahkan hingga kini, seorang violinis dianggap luar biasa jika berhasil memainkan musik Paganini dengan sempurna. Salah satu karya Paganini yang terkenal adalah La Campanella, yang dijadikan sampel untuk lagu Shut Down (2022) oleh grup Korea Selatan BLACKPINK.
Pada masa hidupnya, muncul desas-desus bahwa Paganini menjual jiwanya kepada setan dikarenakan pembawaannya yang misterius dan begitu menghayati ketika bermain biola. Hal ini didukung oleh perawakannya yang tinggi, kurus, gondrong, dan berkulit pucat. Kejeniusan Paganini lainnya yang mengundang keheranan orang-orang pada masa itu antara lain, tampil tanpa sheet music, memainkan hingga 12 notes per detik, dan menciptakan musik dengan teknik yang sulit pada masa itu.
Lalu, benarkah Paganini menjual jiwanya kepada setan? Apakah rahasia dibalik kejeniusannya dalam menciptakan musik?
Paganini lahir pada 1782. Ia mulai bermain mandolin pada usia 5, lalu biola pada usia 7 dan tampil di depan publik pertama kali di usia 11 di Genoa. Di usia 13, Paganini berguru pada violinis dan komposer terkenal, Alessandro Rolla. Rolla sadar bahwa Paganini sangat jenius dan tidak ada hal yang perlu ia ajarkan, jadi ia mengirim Paganini kepada gurunya sendiri, Ferdinando Paer, yang lagi-lagi mengirim Paganini kepada gurunya, Gasparo Ghiretti.
Paganini adalah seorang child prodigy. Ia memulai tur solo pada usia 15. Di saat yang sama, ia mulai mengenal alkohol. Paganini yang terkenal dan mashyur berubah menjadi penjudi, peminum, dan casanova.
Salah satu kemampuan luar biasa yang dimiliki Paganini, yakni bermain tiga oktaf dengan satu jangkauan tangan, ternyata disebabkan oleh sindrom Marfan yang dideritanya, sebuah kelainan genetik. Lalu, kemampuannya untuk memainkan notes dengan sangat cepat disebabkan oleh sindrom Ehlers-Danlos, yang meningkatkan kelenturan penderitanya.
Di akhir hidupnya, Paganini sakit-sakitan. Ia didiagnosis sifilis pada 1822, lalu diobati dengan merkuri yang justru membawa masalah-masalah kesehatan yang lain.
Pada 1834 ia menderita tuberkulosis dan sembuh tak lama kemudian, namun kondisinya semakin lemah dan akhirnya memutuskan pensiun dari karir violinisnya di usia 54 tahun, lalu menghabiskan sisanya hidupnya menjadi guru biola.
Paganini meninggal karena kanker laring pada 1840. Sebelum meninggal, Paganini sempat menolak seorang pastor yang ingin memberikan sakramen pengurapan untuknya, sebuah doa Katolik untuk orang yang akan meninggal. Ia menolaknya karena berpikir tidak akan meninggal.
Namun, tidak ada yang tahu soal benar atau tidaknya informasi ini.
Oleh : Gabriela Radita R. / LMA
Sumber :