Karam

Aku tahu seharusnya kita sudah berakhir
Seperti hangatnya senja yang padam seiring deru ombak yang surut
Seperti indahnya pelangi yang pudar bersama sinar mentari yang terbenam
Semua akan berakhir tak peduli betapa keras kita mempertahankannya

Aku tahu seharusnya kita sudah berakhir
Buntu terkepung batu yang tak membiarkan kita lewat
Tetapi aku terus membanting setir mencari jalan lain
Berharap kamu menikmati perjalanan meski cukup berliku

Berharap masih ada kita di antara aku dan kamu
Namun ternyata berat berjuang sendirian
Seakan kita berada di perahu yang sama namun hanya aku yang mendayung
Seakan kita berboncengan naik sepeda namun hanya aku yang mengayuh

Seakan kita bersama namun hanya aku yang menaruh rasa
Dan bodohnya aku masih nekat meneruskan perjalanan kita
Aku masih bersikeras untuk mendayung meski lenganku mulai lelah
Aku masih bersikeras untuk mengayuh meski kakiku mulai lecet
Aku masih bersikeras untuk menetap meski kamu mulai lenyap

Kesalahanku adalah aku terlalu yakin kamu akan meraihku lagi
Maka di saat aku akhirnya memilih untuk diam
Membisu untuk melihat apakah kamu akan mengambil alih kemudi
Atau hanya akan bergeming membiarkan kapal kita menghantam karang

Aku tahu seharusnya kita sudah berakhir
Aku sudah tahu sejak lama namun aku tetap tersenyum
Terapung-apung di tengah samudra membiarkan air laut membasuh lukaku
Menunggu arus gelombang datang membantuku berenang kembali ke daratan

Oleh : Kezia Revival S.W.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai