Setiap pagi, aku bangun dengan tekad yang kuat untuk mengejar impianku. Aku telah menetapkan tujuan besar dalam hidupku dan tak ingin ada yang menghalangiku. Namun, ada satu hal yang harus kubuat dengan pahit, yaitu menutup hatiku terhadap perempuan. Namaku Daniel, seorang laki-laki yang memilih untuk fokus sepenuhnya pada pencapaian impianku.
Sejak kecil, aku selalu bermimpi menjadi ahli bedah terkenal di Bumi Nusantara ini. Aku ingin menyelamatkan nyawa, memberikan harapan baru bagi orang-orang yang menderita. Untuk mencapai tujuan tersebut, aku harus mengorbankan banyak hal, termasuk hubungan romansa.
Aku telah melihat banyak teman-teman sebayaku jatuh cinta, memulai hubungan yang indah, dan membagi waktu mereka antara cinta dan impian mereka. Namun aku tahu, jika aku terlibat dalam hubungan romantis, hati dan fokusku akan terpecah pula. Aku tidak ingin terjebak dalam perasaan cinta yang bisa menghalangi langkahku.
Begitu banyak perempuan yang telah memasuki hidupku, menawarkan tangan mereka dengan hangat. Mereka ingin memperkenalkanku pada dunia jatuh cinta yang penuh kehangatan dan kebahagiaan. Namun aku menolak, mengingatkan mereka bahwa aku harus menutup hatiku. Aku tidak ingin melukai hati mereka dengan memberi harapan palsu.
Tidak bisa dipungkiri, ada kalanya aku merasa kesepian. Saat melihat pasangan-pasangan yang menyayangi, aku merasa rindu akan kehangatan itu. Namun setiap kali perasaan itu muncul, aku mengingatkan diriku sendiri tentang impianku yang tak ternilai harganya. Aku mengigatkan diriku bahwa aku hanya bisa menjadi laki-laki yang sukses jika aku memusatkan segala perhatian dan energiku pada pencapaian tersebut. Mungkin setiap orang berbeda, tapi inilah diriku.
Terlepas dari semua itu, ada satu perempuan yang secara khusus menghapiri hatiku. Namanya Alka, seorang gadis cerdas, berbakat, dan pandai bernyanyi. Setiap kali bertemu, ada getaran yang tak bisa dipungkiri. Namun, aku menolak perasaan itu. Aku mencoba menjaga jarak antara kami dan berpura-pura seolah kami adalah teman biasa.
Bukan berarti aku tak pernah merasa tertarik pada Alka. Setiap kali aku melihat senyumnya, matanya yang indah, atau mendengar ketawanya yang bagus, hatiku berdebar. Namun, aku harus tetap teguh pada pilihan yang telah kubuat. Aku harus menutup hatiku, mengabaikan perasaan yang tumbuh di dalamnya, demi mencapai impianku yang lebih besar.
Meskipun begitu, aku akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang ada di dalam diriku, bukan untuk menerima sebuah penerimaan atau penolakan melainkan sebatas agar dia mengetahui bahwa ada makhluk hidup yang selama ini menyukainya. Mungkin, ini terdengar aneh bahkan mungkin pertama kali ada yang melakukannya di dunia ini. Terlebih sebelumnya aku tidak pernah melakukan pendekatan apapun ke Alka. Aku mengajak Alka bertemu di suatu taman.
“Hai, udah nunggu lama ya?” tanya Alka kepadaku yang baru duduk 20 menit sembari ditemani sebuah minuman dengan rasa alpukat.
“Ohh enggak kok, belum lama juga” jawabku dengan hati yang berdebar-debar.
“Jadi mau ngomong apa?” tanya Alka kepadaku.
“Gimana kemarin soalnya susah apa gampang?” tanyaku untuk mengawali niat berani dan anehku karena Alka baru saja mengikuti sebuah tes untuk masuk ke salah satu kampus terkenal di Indonesia.
“Ya begitu, susah, banyak implementasi-implementasinya” jawab Alka dengan rasa kecewa.
“Gak papa, tahun depan nyoba lagi, pasti tahun depan bisa dapet skor lebih” jawabku karena skornya udah keluar dua hari sebelumnya.
“Hahaha, kayaknya gak dulu deh”
“Iya aku juga mau ikut itu tahun depan makanya nanya dulu gimana bentuk soalnya hahaha” jawabku untuk memberi tahu bahwa aku juga akan mengambil langkah yang sama tahun depan karena tahun ini aku memutuskan untuk gapyear terlebih dahulu.
Singkat cerita, kami bercerita panjang lebar mengenai diri kita masing-masing. Alka bercerita bahwa dirinya sempat pingsan saat mempersiapkan diri untuk menghadapi tes masuk salah satu kampus yang lain, yang di mana kampus tersebut merupakan kampus yang menjadi tempat dia berkuliah sekarang.
Akupun bertanya apakah dia pernah berpacaran, dia berkata,
“Pernah, dulu sekali, tapi putusnya gak baik-baik”
Aku terheran-heran bagaimana bisa hal itu terjadi, karena Alka adalah wanita baik-baik yang tidak pernah mencari masalah.
Alka pun menceritakannya bahwa pacarnya pada saat itu belum menyelesaikan urusannya dengan mantannya sebelum dengan Alka. Namun pada akhirnya, mantannya malah balikan sama mantannya itu.
Aku menarik napas dengan sekuat tenaga untuk mulai mengatakan maksud dari tujuanku mengajaknya bertemu.
“Jadi maksud aku mengajak kamu ketemuan di sini ada yang pengin aku sampein ke kamu” kataku sambil berdebar-debar.
“Jadi sebenernya aku suka sama kamu”. Reaksi Alka langsung kaget mendengar perkataanku barusan.
“Kenapa kamu suka sama aku?” tanya Alka dengan reaksi masih terheran-heran.
“Jadi aku bukan suka sama kamu dari cantikmu itu bukan, aku suka karena sikapmu yang kalem, lembut, dan ceria. Buktinya kalo aku suka sama karena cantikmu, aku pasti udah bilang dari dulu saat kita pertama bertemu”
“Tapi, aku gak berharap kamu menjawab ya atau tidak, soalnya tujuanku bilang ke kamu karena aku hanya ingin kamu tahu apa isi hatiku selama ini, aku merasa aku masih bukan apa-apa, masih banyak hal yang harus ku kejar di luar sana”. Suasana berubah menjadi canggung.
“Hahaha aku belum pernah dinyatain perasaannya secara langsung sama cowok kayak gini” jawab Alka.
“Ohh ya hahaha” jawabku ke Alka.
“Memangnya cowok yang pernah deketin kamu gak pernah giniin kamu” tanyaku ke Alka.
“Belum pernah, kamu laki-laki pertama yang ngungkapin ke aku secara langsung gini” jawab Alka.
Suasana berubah menjadi canggung, hingga tidak lama kemudian ibuku menelpon memintaku untuk pulang karena harus mengantarnya ke stasiun. Akupun berpamitan ke Alka dan berterimakasih ke Alka karena sudah mau bertemu denganku.
Selama perjalanan aku terus berpikir, apa yang ku lakukan tadi adalah sesuatu yang menurutku cukup gentle untuk dilakukan. Aku cukup berani untuk mengungkapkannya dengan harapan nantinya aku bisa lebih fokus dengan apa yang ku impikan selama ini.
Waktu berlalu, kami hidup dengan kehidupan kita masing-masing. Alka mulai menjalani kehidupannya di kampus, sedangkan aku masih sibuk belajar meraih apa yang ku impikan.
Namun, ada saat-saat di mana aku merasa meragukan keputusanku. Apakah aku mengorbankan terlalu banyak? Apakah kebahagiaan sejati bisa ditemukan dalam cinta? Tetapi aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku telah membuat keputusan yang tepat. Impianku adalah prioritasku, dan aku tidak ingin mengecewakan diriku sendiri dengan mengabaikannya.
Mungkin suatu hari nanti, ketika aku mencapai tujuan yang kucita-citakan, aku akan dapat membuka hatiku kembali. Mungkin, aku akan menemukan seseorang yang memahami dan mendukung impianku sepenuhnya. Sampai saat itu tiba, aku akan tetap teguh pada pilihan yang telah aku buat. Aku akan terus fokus pada impianku, dengan harapan bahwa ketika aku berhasil, aku tidak hanya akan meraih kebahagiaan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi banyak orang.
Karena itulah, aku memilih menutup hati, demi fokus mencapai impianku yang lebih besar.
Zakhy Reydinata // LMA.2322017