Beberapa waktu terakhir, kota Paris di Prancis menjadi sorotan media lantaran populasi tikus disana disebut-sebut tidak terkendali. Jumlah populasi tikus tersebut diperkirakan mencapai 6 juta ekor, hampir 3 kali lipat melebihi penduduk kota Paris itu sendiri. Populasi yang besar itu bahkan membuat warga Paris harus hidup berdampingan dengan hewan pengerat tersebut.

Di malam hari, jumlah tikus yang terlihat semakin banyak dan mereka dinilai semakin tidak takut terhadap manusia. Keberadaan tikus di Paris telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Tikus adalah penyebab utama penyebaran penyakit pes di abad ke-14 yang membunuh hampir separuh populasi. Sejak 2017, pemerintah Paris telah melakukan sejumlah upaya untuk memberantas salah satu jenis hama tersebut. Saat itu, dana sebesar 1,5 juta Euro atau setara dengan Rp 26,8 miliar dikeluarkan untuk pemasangan tempat sampah kedap udara dan penggunaan racun tikus dalam skala besar di ribuan lokasi di seluruh kota.Persoalan tikus di Paris menjadi semakin parah setelah proses besar-besaran soal reformasi pensiun akhir-akhir ini. Sampah-sampah menumpuk akibat unjuk rasa yang berlangsung selama berhari-hari. Walaupun jenis tikus yang sedang menjadi pembahasan ini bukanlah tikus hitam (yang membawa wabah), namun tikus tetap bisa membawa penyakit, seperti Leptospirosis, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), Rat Bite Fever (RBF), Salmonellosis, Campylobacteriosis, dan Tularemia.Setelah sejumlah upaya pembasmian tikus dinilai dinilai tidak menunjukkan hasil maksimal, pemerintah Paris meminta warga hidup berdampingan dengan tikus. Kebijakan ini tentunya menuai pro dan kontra dari banyak kalangan. Salah satunya berasal dari politisi Geoffroy Boulard. Menurutnya, rencana tersebut tidak memberikan solusi atas masalah yang ada.
Referensi
https://www.republika.id/posts/42046/sejarah-panjang-tikus-dan-paris
Faizi Muhammad Belva// LMA. 2221010