Mengapa 1 Januari Ditetapkan sebagai Awal Tahun?

Tahun baru selalu menjadi momen spesial yang disambut antusias oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Nah, dalam hitungan hari lagi kita akan memasuki pergantian tahun masehi. Lantas tahukah kalian mengapa 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun masehi?

Dilansir dari situs History, perayaan tahun baru pertama kali tercatat sejak sekitar 4000 tahun lalu. Tujuan perayaan tahun baru ini yaitu untuk menghormati kedatangan tahun baru yang dilakukan oleh bangsa Babilonia. Tradisi perayaan tahun baru tersebut dilakukan dengan mengikuti penanggalan pada bulan pertama vernal equinox (perpotongan lingkaran ekuator dan ekliptikal). Pada saat itu, tahun baru dirayakan pada pertengahan bulan Maret, yang bertepatan dengan pergantian musim. Tradisi perayaan tahun baru bangsa Babilonia kala itu dilaksanakan dengan menggelar festival keagamaan besar-besaran yang sering disebut dengan Akitu dan melibatkan berbagai ritual berbeda selama sebelas hari.

Asal usul perayaan tahun baru yang ditetapkan pada 1 Januari tak lepas kaitannya dengan pengembangan penanggalam bangsa Romawi kuno dan peran dari sosok Julius Caesar. Kala itu, pendiri Roma bernama Romulus, masih menetapkan penanggalan masehi yang terdiri dari 10 bulan dan 304 hari. Lalu pada abad ke-8 SM, Numa Pompilius menambahkan dua bulan dalam penanggalan kalender Romawi, yakni Januarius dan Februarius. Selanjutnya Julius Caesar berkonsultasi dengan ahli astronomi dan matematika untuk menyempurnakan penanggalan Masehi tersebut. Ia menamai bulan pertama kalender Romawi dengan nama Janus, yang berasal dari nama dewa Romawi yang memiliki dua muka untuk memandang ke depan dan belakang. Penetapan 1 Januari sebagai hari pertama tahun baru itu dilakukan sebagai penghormatan kepada dewa Janus, dewa permulaan Romawi. Saat itu, bangsa Romawi memperingati tahun baru dengan berbagai pengorbanan kepada Janus, bertukar hadiah, mendekorasi rumah, dan mengunjungi beberapa pesta.

Dilansir dari situs Britannica, dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Kekaisaran Romawi, penggunaan kalender Julian juga menyebar. Namun, setelah jatuhnya Roma pada abad ke-5 M, banyak negara Kristen mengubah kalender tersebut menjadi lebih mencerminkan agama mereka. Setelah jatuhnya Romawi, tanggal 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita) dan 25 Desember (Natal) menjadi Hari Tahun Baru yang umum. Pada akhirnya banyak yang menyadari bahwa kalender Julian memerlukan perubahan tambahan karena adanya kesalahan perhitungan mengenai tahun kabisat. Efek kumulatif dari kesalahan ini selama beberapa abad menyebabkan berbagai peristiwa terjadi di musim yang salah. Hal tersebut juga menimbulkan masalah ketika menentukan tanggal Paskah.

Paus Gregorius XIII kemudian memperkenalkan revisi kalender Julian pada tahun 1582, yang disebut sebagai kalender Gregorian. Selain memecahkan masalah dengan tahun kabisat, kalender Gregorian mengembalikan 1 Januari sebagai awal Tahun Baru. Italia, Perancis, dan Spanyol termasuk di antara negara-negara yang segera menerima kalender terbaru itu. Namun, negara-negara Protestan dan Ortodoks cukup lambat dalam mengadopsinya. Seiring berjalannya waktu, negara-negara non-Kristen juga mulai menggunakan kalender Gregorian. Salah satunya yakni China yang mulai menerapkan kalender Gregorian pada 1912. Ada pula beberapa negara yang tidak pernah mengadopsi kalender Gregorian, seperti Ethiopia, yang merayakan tahun barunya pada September.

Sumber :

https://www.kompas.com/tren/read/2021/12/29/150000965/mengapa-tahun-baru-dimulai-1-januari-ternyata-berikut-ini-sejarahnya

https://news.detik.com/berita/d-6475907/asal-usul-perayaan-tahun-baru-masehi-sejak-kapan-dirayakan-1-januari

Rindu Wastuti Idroes // LMA.2220010

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai