A Short story written by LoneSky
supported by : Lemma and TheBlackscar Creative Studio
Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama tokoh, cerita/peristiwa, merupakan unsur fiktif belaka.
Prologue
Seribu tahun yang lalu, bumi telah mengalami kemerosotan tajam. Karena keserakahan manusia, peperangan terjadi dimana-mana, hampir seluruh daratan hijau kini berubah menjadi tandus, sungai dan danau mengering, lautan berubah merah, namun dibalik semua itu, apa yang mereka dapatkan? Hampir semua jenis hewan punah, atmosfer bumi hampir tidak bisa menahan sinar matahari dan benda benda luar angkasa yang berjatuhan, oksigen terus menipis, polusi, radiasi, dan racun tersebar tak terkendali.
Kini, daratan di bumi tidak lebih dari sekedar tanah tandus dan reruntuhan. Umat manusia yang masih hidup, meskipun kita menghitung dari seluruh dunia ini, mungkin tak akan lebih dari seratus ribu. Ya, jika dibandingkan seribu tahun yang lalu, bahkan negara dengan populasi terkecil ke-15 masih memiliki jumlah penduduk lebih dari itu. Atau setidaknya, seperti itulah yang aku baca dari buku yang kutemukan.
Umat manusia telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan bumi ke keadaan semula, namun upaya itu sia-sia. Selain keterbatasan sumber daya, manusia memiliki satu masalah besar. Hampir semua hewan yang berhasil bertahan hidup, telah berevolusi untuk menghadapi perubahan lingkungan, atau telah bermutasi karena terpapar radiasi yang berlebihan.
Tentunya, semua itu terjadi karena kemampuan adaptasi mereka untuk bertahan hidup. Namun sebagian besar dari mereka telah berubah menjadi sangat berbahaya, seperti makhluk berbulu setinggi empat meter, yang ada di balik pintu ini. Dari buku yang aku baca, makhluk ini bernama episkylio, mutasi dari seekor anjing husky. Mereka seperti anjing husky pada umumnya, selalu bergerak secara kelompok, dan dapat dijinakkan. Tapi yang membedakan mereka dari anjing husky biasanya bukan hanya ukuran tubuh mereka, melainkan juga keganasan mereka ketika sedang lapar.
Mereka mengendus endus, dan terlihat dari mata mereka, pemburu kelaparan yang sedang mencari mangsa. sepertinya, tak akan lama lagi mereka akan menemukanku. Aku bersembunyi didalam salah satu ruangan dalam reruntuhan ini. sepertinya, hidupku akan berakhir disini.
Episkylio itu telah menemukan keberadaanku, dan mencoba menerobos masuk ruangan ini. Aku tidak memiliki senjata apapun, dan meski aku menahan pintu itu dengan meja dan lemari, tak akan lama bagiku untuk mati kelaparan, kedinginan, atau kehabisan napas. Aku hanya berharap, akan ada seseorang yang menemukan catatan-catatan didalam tasku, mungkin saja, sehingga dua belas tahun hidupku ini, akan berguna untuk keberlangsungan umat manusia.
Mereka berhasil menerobos dan melompat dengan cepat untuk menerkamku. Episkylio terbesar yang sepertinya merupakan pemimpin dari dua lainnya mendorongku hingga terjatuh dan meraung begitu kencang hingga gendang telingaku terasa akan pecah. Aku melihatnya membuka mulut, menampakkan gigi tajamnya.
“Ayah, ibu, hidupku memang singkat, tapi aku tidak memiliki penyesalan”
Perlahan, Aku menutup mataku
.
.
“Panas, . . panas sekali” pikirku “inikah kematian? Sepertinya aku telah memasuki tempat yang disebut sebagai neraka. Aku harap, ayah dan ibu tidak berakhir ditempat ini.”
Aku membuka mataku, mengabaikan rasa takut akan apa yang mungkin berada didepan. Namun yang ada dihadapanku, adalah ketiga episkylio terbaring mati terpanggang. aku dapat melihat ruangan ini sedikit terbakar, api biru menyala-nyala, dan didepanku, tampak sesosok perempuan.
“Hey, kamu tidak apa-apa”
Ia melihatku dengan tatapan kosongnya itu. Wanita berambut perak dan kulit begitu putih, seakan-akan ia adalah badai dari salju itu sendiri, namun api biru yang membara itu, membawa kehangatan pada kehidupanku ini. Ya, ini adalah sebuah buku harian dan catatan perjalananku dengan seorang perempuan yang telah hidup, jauh sebelum zaman kemerosotan.
Muhammad Irfan Rifki // 24010120130046