Secercah Perjuangan

Bram merupakan salah satu mahasiswa aktif Universitas Negeri di Jawa Tengah program studi S1 Matematika yang berasal dari Demak. Ia memiliki teman yang berasal dari Padang, Sumatra Barat yang juga menempuh program studi yang sama dengan Bram. Teman Bram ini bernama Dzulqar. Keduanya merupakan mahasiswa yang mempunyai kemampuan ekonomi yang pas-pasan.

Hari dimana pertama kalinya Bram dan Dzulqar berkuliah disemester 2.

“Kring….kring….kring….,”handphone Dzulqar berdering.

Dzulqar bergegas untuk mengangkat telfon yang ada di meja belajarnya.

“Qar, kamu mau aku jemput seperti biasa?”

“Kalau kamu gak keberatan sih gak apa-apa.”

“Oke, aku otw dari rumah jam 8 ya, kamu udah harus siap! Biar langsung berangkat,”kata Bram sambil bersiap untuk berangkat.

Ketika hendak berangkat Bram merasa pusing, ia memutuskan untuk duduk sejenak dan minum air putih yang ada di tasnya. Bram bingung dengan dirinya, karena ia merasa sudah makan dan tidak melakukan apapun yang menyebabkan kepalanya pusing. Setelah pusing mereda Bram pun melanjutkan aktivitas dipagi itu untuk berkuliah. Sesampainya di depan kos Dzulqar.

“Dzulqar….Dzulqar….,”teriak Bram dari motornya.

“Tunggu sebentar! Lagi pakai sepatu,” jawab Dzulqar.

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan menuju universitas. Namun, di tengah perjalanan Bram menanyakan keadaan ekonomi Dzulqar.

“Qar, gimana masalah biaya ukt tahun ini? Kan kamu daftar penangguhan ukt cuma sampai akhir bulan Februari,”tanya Bram kepada Dzulqar.

“Aku juga bingung sih Bram, orang tuaku sudah aku telfon, mereka bilang mau kirim uang pertengahan Februari.”

“Ooo gitu…. ya sudah Qar, tunggu aja kabar dari orang tuamu.”

“Hmmm….”

Dzulqar menunduk untuk beberapa saat.

“Oh iya, aku dapat ide nih, gimana kalo kita bikin usaha buket bunga? Untuk bantu orang tua kita,” kata Bram sambil sedikit menoleh ke belakang.

“Boleh juga tuh, tapi gimana dengan modalnya? Kamu kan tau kita sama sama gak punya uang yang banyak.”

“Kalau masalah modal nanti aku upayain deh, aku bisa minta tolong ke ayahku.”

“Emmm, tapi beneran gak apa apa nih? Kondisimu juga pas-pasan kan Bram,” tanya Dzulqar seraya merendahkan suaranya.

“Iya gak apa apa kok, yang penting nanti kita harus kembaliin uang itu secepatnya!”

“Oke deh, semoga bisa jadi bisnis yang sukses Bram, usaha bareng, seneng bareng, susah bareng ya….,” Dzulqar terseyum bahagia.

Hari berganti, dipagi hari yang indah Bram mendekat ke ayahnya yang sedang minum segelas kopi hangat di meja makan. Bram meminta kepada ayahnya agar memberikan pinjaman uang 1 juta untuk memulai usaha buket bunga, yang awalnya Malik ayah Bram ragu untuk memberikannya, setelah mendengarkan keseriusan Bram, hatinya pun luluh dan memberikan uang 1 juta kepada Bram. Bram mengucapkan terimakasih dan memeluk tubuh ayahnya.

Hari pun berlalu, usaha buket bunga  yang dirintis oleh Bram dan Dzulqar makin hari makin sukses. Usaha yang banyak diminati dan klient merasa senang atas pelayanan dan jasa dari usaha buket Bram dan Dzulqar. Atas kesuksesan usahanya, Bram mampu mengembalikan uang ayahnya dengan cepat, ia hanya butuh waktu 1 bulan untuk mengembalikannya. Mereka berdua juga berhasil membayar ukt semester 3 secara mandiri tanpa dibantu orang tua mereka. Bram dan Dzulqar merasa senang dan bahagia.

Siang hari yang terik, di toko buket Bram dan Dzulqar.

“Duh, kenapa kepalaku pusing banget ya?” tanya Bram kepada dirinya.

Melihat Bram seperti lemas dan pucat, Dzulqar pun bertanya.

“Kenapa kamu Bram?”

“Gak tau nih, tiba tiba kepalaku pusing, aku juga ngerasa lemas dan agak kabur pandanganku.”

“Ya udah, ke dokter aja yuk?” ajak Dzulqar kepada Bram.

“Gak mau ah, mungkin aku cuma kecapekan, aku mau istirahat sebentar ya…,” ucap Bram sambil meringis kesakitan.

“Oh oke deh, sini aku bantu masuk ke dalam.”

Menjelang sore hari Dzulqar masih melihat Bram yang terlentang tidur. Dzulqar tidak mau mengganggu Bram yang masih beristirahat, namun toko harus segera tutup karena sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mau tidak mau Dzulqar harus membangunkan Bram dan mengantarnya pulang ke rumah.

Selama satu minggu sakit Bram tak kunjung sembuh, orang tuanya membawa Bram ke rumah sakit untuk diperiksa. Namun, setelah dokter memeriksa, dokter mengatakan bahwa Bram menderita tumor otak, tetapi kedua orang tuanya tak ingin Bram tau tentang hal ini. Sang Ayah yang bernama Malik tak mampu menahan air mata setelah mendengar diagnosa dokter.

Mau tak mau usaha buket bunga harus diteruskan oleh Dzulqar sendiri. Tiga bulan berlalu usaha yang dirintis Dzulqar seorang diri menunjukkan penurunan yang lumayan signifikan. Nada dering di toko pun berdering.

“Halo, Bapak? Ada apa kok pagi pagi telfon?” tanya Dzulqar kepada Ayahnya.

“Qar, Bapak sepertinya tidak bisa bantu biaya kuliahmu semester depan, Ibumu sakit dan harus dirawat di rumah sakit,” ucap Ayah Dzulqar sambil merendahkan nadanya.

“Ibu sakit Pak? Sakit apa Pak?” tanya Dzulqar dengan gelisah.

“Sakit lambung Ibumu kambuh, kondisinya makin parah Qar, Ibumu sering menahan lapar, Bapak tidak tahu kenapa Ibumu melakukan itu.”

“Pak, Bapak gak usah bingung biaya kuliahku, aku bisa bayar sendiri seperti semester lalu,” ucap Dzulqar dengan terbata-bata.

“Ya sudah Qar, Bapak mau mengurus Ibumu dulu.”

“Tut….tut….tut,” tanda telfon diakhiri.

Mendengar kabar tersebut Dzulqar lemas, ia bingung atas musibah yang harus ia hadapi, usahanya yang semakin menurun bahkan terancam bangkrut, dan ibunya yang sakit-sakitan.

Di siang harinya, Bram datang ke toko setelah beberapa lama tak pernah menengok toko buket bunga miliknya. Ia kaget melihat kondisi Dzulqar yang melipat tangannya sambil terdengar suara tangisan yang keluar dengan air mata. Bram menanyakan apa yang sudah terjadi dengan Dzulqar. Setelah Dzulqar bercerita kepada Bram, Bram hanya bisa diam, ikut hanyut dengan kondisi Dzulqar sekarang. Tak banyak upaya yang bisa dilakukan Bram untuk bisa membantu Dzulqar, karena biaya rumah sakit Bram yang juga sudah harus menguras dompet orang tua Bram.

Semester 3 hampir selesai, mereka berdua sudah mendapat tagihan untuk membayar kuliah semester 4. Tak banyak hal yang bisa mereka lakukan, usahanya sudah tak bisa diandalkan lagi, hampir diujung tikar.

“Bram, aku udah mutusin, aku mau putus studi aja, aku mau pulang kampung membantu ayahku jualan mie ayam.”

Bram kaget dengan perkataan Dzulqar, ia terbungkam bisu tak bisa berupaya menahan Dzulqar. Perpisahan antara keduanyapun harus terjadi, Bram mengantar Dzulqar sampai bandara, tangis keduanya pecah, mereka berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Tanda perpisahan yang tak akan bertemu lagi. Dua bulan berlalu, Bram terus melanjutkan kuliahnya sambil sedikit sedikit memperbaiki usaha buket bunganya.

Setelah 2 tahun berlalu ia berhasil lulus dengan cumlaude di universitas nya, ia pun sangat senang dan mempunyai tekad untuk segera menikah dan menemui Dzulqar di Padang, Sumatera Barat. Ia segera berangkat menemui Dzulqar.

Sesampainya disana ia kaget melihat kondisi Dzulqar yang sudah tak memiliki kedua orang tua, mereka berdua saling cerita, dan Bram menuturkan bahwa usahanya sudah kembali sukses dan besar. Tangis antar keduanya pecah, rasa rindu dan sedih menyelimuti keduanya. Bram ingin Dzulqar ikut dengannya ke Demak untuk tinggal di sana. Dzulqar menerima tawaran Bram dengan air mata yang terus menetes, melihat kebaikan kebaikan Bram kepadanya.

Dzulqar juga bisa melanjutkan kuliahnya dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Dzulqar juga berhasil diterima kerja di perusahaan terkenal di Jawa Tengah. Hari demi hari dilewati mereka berdua, sampai dimana titik dimana Bram merasa hidupnya sudah tak lama lagi, setelah setahun yang lalu Malik memberi tahu Bram tentang kondisi sakitnya.

“Pyar….” Suara keras terdengar ditelinga Dzulqar

Melihat kondisi Bram yang sudah tergeletak di lantai dengan guci yang sudah pecah berserakan , Dzulqar kaget dan memangku kepala Bram.

“Bram kamu kenapa? Kok dihidungmu ada darah?” ucap Dzulqar dengan cemas.

“Gak apa apa kok Qar, oh iya Qar aku titip usaha kita ya, aku titip Ayah sama Ibuku, aku percaya sama kamu, aku pamit ya Qar, maafin aku kalo punya salah sama kamu.”

“Bram, kamu ngomong apa sih, bram bangun! Bangun bram!” ucap Dzulqar sambil meneteskan air mata.

Tangis haru pecah di rumah Malik yang megah. Nafas Bram yang sudah tak berhembus dan malam itu adalah malam yang sangat berkenang bagi Dzulqar. Bram adalah seorang yang sangat baik, tulus ikhlas untuk membantunya, dan menjadi sahabat terbaik Dzulqar.

Irsyad Lintang Satria // 24010120140139

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai