
Bumi merupakan habitat dan tempat tinggal bagi jutaan makhluk hidup yang ada di dunia, termasuk hewan dan manusia. Namun, dewasa ini banyak sekali permasalahan yang telah menimpa bumi kita, salah satunya yakni pemanasan global.
Seperti yang telah kita ketahui, pemanasan global merupakan peristiwa meningkatnya suhu permukaan bumi secara global. Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab dari pemanasan global tersebut, salah satunya ada pada sektor peternakan, khususnya peternakan sapi.
Sapi adalah hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Masyarakat memelihara hewan tersebut untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan, penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam, dan alat industri lain seperti peremas tebu. Karena mempunyai banyak manfaat itulah yang membuat sapi menjadi bagian dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama.
Namun, tahukah kalian bahwa selama ini sapi ternyata menjadi salah satu penyebab dari pemanasan global?
Nah sebelumnya, perlu diketahui bahwasanya terdapat beberapa gas yang menjadi penyebab dari pemanasan global, salah satunya yakni gas metana. Metana adalah gas anaerobik yang dihasilkan dari aktivitas mikroorganisme saat menguraikan bahan-bahan organik. Menurut sebuah penelitian, gas metana memiliki potensi pemanasan global yang lebih tinggi dalam jumlah yang sama dibandingkan gas karbon dioksida.
Dilansir dari Todayifoundout, sapi juga dapat memiliki gas dari hasil pencernaan yang harus dikeluarkan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark, sapi dapat menghasilkan metana yang cukup untuk melakukan perusakan rumah kaca yang sama dengan 4 ton karbon dioksida per tahunnya. Sementara itu, menurut Institut Goddard milik National Aeronautics and Space Administration, sejak pergantian abad ke-19, emisi gas metana meningkat sebesar 150%. Dan peternakan menjadi sumber emisi gas metana terbesar di dunia yang memberikan kontribusi lebih dari 28% dari total emisi.
Namun, perlu diketahui bahwa sapi melepaskan metana dengan dua cara, yaitu melalui sendawa, lalu sisanya keluar sebagai perut kembung atau kentut. Menurut peneliti di Balai Penelitian Mahkota terbesar Selandia Baru, AGResearch, sekitar 95% emisi yang dihasilkan oleh sapi berasal dari mulutnya daripada bagian belakangnya. Diperkirakan, melalui lubang mana pun, masing-masing individu sapi mengeluarkan sekitar 35 galon metana per harinya.
Gas metana yang dipancarkan oleh sapi memang memiliki dampak signifikan pada jumlah gas rumah kaca di atmosfer bumi, yang menjadi penyebab utama perubahan iklim dan pemanasan global saat ini. Namun demikian, kini sudah ditemukan cara untuk membuat kentut dan sendawa sapi tidak akan memiliki kandungan metana yang berlebihan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Direktur Pusat Makanan Dunia, Ermias Kebreab, menunjukkan bahwa dengan menambahkan rumput laut di pakan ternak selama lima bulan akan mengurangi perut kembung dan sendawa pada sapi. Gas yang keluar dan masuk ke atmosfer akan minim metana mencapai sekitar 82%. Penelitian tersebut telah terbukti sangat efektif untuk mengurangi gas rumah kaca, dan juga keampuhannya dinilai tidak akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu.
Sumber:
Rindu Wastuti Idroes // LMA.2220010