Pelatihan Pers 2022 yang diselenggarakan oleh Biro Lemma Himpunan Mahasiswa Matematika Universitas Diponegoro kembali dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Mei 2022 secara daring melalui via Zoom dan disiarkan langsung via Youtube dengan mengangkat tema “Generation Millennials Think Smart with Journalistic”. Diharapkan generasi milenial dapat berperan dalam menghimpun berita dengan berdasarkan fakta, serta bertanggung jawab atas informasi yang disampaikan. Ada pun generasi milenial dapat mengaplikasikan bagaimana cara bersikap, berkomentar, dan menanggapi suatu berita yang diterima guna meminimalisir timbulnya berita hoax.


Seorang pembawa berita bertalenta, Fandi Hasib menjadi pembicara dalam Pelatihan Pers tahun ini. Beliau pernah menjadi pembawa berita di televisi ternama yaitu iNews Tv dan Trans 7. Beliau juga pernah terpilih menjadi duta bahasa negara pada tahun 2020.
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berpartisipasi dalam acara Pelatihan Pers ini. Acara berlangsung dengan lancar dan interaktif. Para peserta melakukan Focus Group Discussion (FGD) singkat yang mana terdapat tim pro dan kontra mengenai suatu persoalan yang diberikan dalam Pelatihan Pers. Peserta juga aktif dan antusias saat sesi debat antar kelompok maupun antar individu, serta sesi tanya jawab dengan pembicara. Acara diakhiri dengan pemberian plakat kepada Fandi Hasib selaku pembicara Pelatihan Pers tahun ini, dan ditutup dengan sesi foto bersama.
Materi yang disampaikan berupa dasar jurnalistik, kaidah-kaidah, dan bagaimana cara berperan sebagai seorang jurnalis. Materi disampaikan secara menarik dan interaktif. Ada pun quotes inspiratif dari pembicara, “Menjadi jurnalistik akan membawa anda pada semua aspek kehidupan”.


Pengertian jurnalisme dalam konsep media, berasal dari perkataan journal, artinya catatan harian mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti surat kabar [Wikipedia, https://id.wikipedia.org/, 2021]. Jurnal berasal dari perkataan Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari [Wikipedia, https://id.wikipedia.org/, 2021]. Dari menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa Jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, serta menyebarkan berita kepada khalayak seluas-luasnya dan secepat-cepatnya.
Jika ada pertanyaan, apakah kegiatan seseorang dalam menyebarkan informasi di sosial media atau ke kerabat dapat disebut kegiatan jurnalistik? Tentu bukan, karena tidak ada kaidah-kaidah jurnalistik yang diterapkan dalam informasi tersebut. Dalam dunia jurnalistik, kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita tentu ada kaidah-kaidah dan kode etik pers yang wajib diterapkan.
Dalam kegiatan mengumpulkan berita maka harus dipastikan faktanya. Kemudian dalam kegiatan mengolah berita juga tentu akan melibatkan berbagai pihak, salah satunya tim editor. Lalu kegiatan menyebarkan berita pun harus melalui media masa yang resmi. Dari kegiatan tersebutlah baru dapat disebut produk atau kegiatan jurnalistik.
Penulisan berita didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik yang biasanya dikenal dengan istilah ‘ABC’, sebagai berikut:
- Accuracy (Akurat)
Suatu berita harus benar, diperiksa kembali dengan pihak yang bersangkutan, tanpa spekulasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Balance (Seimbang)
Menyampaikan suatu berita dengan tidak menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.
- Clarity (Jelas)
Topik, alur pemikiran, dan bahasa bisa dimengerti khalayak.
Seorang jurnalis selain dibatasi oleh ketentuan hukum, seperti Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, juga harus berpegang kepada kode etik jurnalistik [Wikipedia, https://id.wikipedia.org/, 2021]. Dengan adanya kaidah-kaidah dan kode etik jurnalistik tersebut maka seorang jurnalis akan berpikir kritis dengan memenuhi kewajiban utama jurnalis yaitu berpihak pada kebenaran.


Kemampuan untuk berpikir secara rasional dan tertata yang bertujuan untuk memahami hubungan antara ide dan/atau fakta sangatlah penting dalam dunia jurnalistik. Salah satu bentuk kritik yang dapat dilakukan seorang jurnalis adalah dengan mengajukan pertanyaan dari suatu peristiwa yang dipertanyakan publik. Selain itu, seorang jurnalis harus tahu, bagaimana yang harus dikritisi? dan Mengapa dikritisi? yang mana semua jawaban itu untuk kepentingan publik.
Berikut beberapa kemampuan dasar yang harus dimiliki ketika ingin menjadi jurnalistik, antara lain:
- Rasa Ingin Tahu (Curiosity)
- Kemampuan Berkomunikasi (Communication Skill)
- Analisis Tinggi (Analysis)
- Kreativitas Tinggi (Creativity)
- Berkepribadian dan Berpenampilan Menarik [Point Plus]