Hari ini adalah Sabtu pertama di bulan Juni. Terik matahari siang tadi mulai mereda dengan perubahan warna langit jingga di sore hari. Decitan sepatu dari orang-orang berlalu-lalang di stasiun sore ini mengingatkan kembali bagaimana sering aku mengunjungi stasiun kereta setiap dua bulan di lima tahun kebelakang. Kebanyakan orang memilih untuk mengakhiri minggu yang padat dengan berlibur bersama keluarga di akhir pekan. Mengunjungi puncak Bogor atau menonton film kesukaan bersama orang tersayang di ruang keluarga dan menikmati mendoan panas dan teh hangat. Tetapi aku dan Arel sepakat untuk berangkat bersama menuju Jogjakarta di tengah kesibukan kita berdua dan merelakan waktu akhir pekan kami hanya untuk menepati janjiku lima tahun lalu, yaitu menjadi teman baik yang turut bahagia atas pilihan hidup masing-masing.
Langit kian menggelap dan peron kereta api masih tetap penuh dengan suara roda koper yang sengaja ditarik menyamping. Hujan yang tidak biasa hafir di bulan Juni mulai turun saat waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Aku dan Arel memasuki gerbong kereta yang dinginnya sudah terasa di pintu masuk. Semakin dingin saat kami melihat hanya ada 9 orang termasuk kami berdua yang menempati gerbong ini. Kami memilih untuk duduk berhadap-hadapan, tidak ada orang lain yang duduk di nomor sebelah tempat duduk Arel dan tempat dudukku.
Perjalanan kami malam ini akan terasa panjang, sangat panjang. Selama duduk di kereta, Arel diam dan menatapku dalam. Lucunya, Arel benar-benar hanya menatapku meskipun sedang menyeruput mi instan kesukaannya.
“Rel, terpesona sama aku atau gimana deh?” Sudah 20 menit berlalu dan Arel sama sekali tak membiarkan aku lolos dari kedua matanya. Jelas sekali dia dipenuhi rasa penasaran dan kepalanya dipenuhi pertanyaan.
“Dih. Tapi Na, aku penasaran deh”, Akhirnya Arel membuka mulut dan bertanya. Kalau saja Arel tetap diam, mungkin bantal tidurku ini sudah melayang ke arah wajahnya.
“Kenapa?”, Aku terkekeh. Siapapun orangnya jika Arel melihatnya dengan tatapan begitu pasti tahu bahwa Arel memiliki segudang pertanyaan untuk dilontarkan.
“Besok ‘dia’ nikah, Na. Kamu yakin mau dateng beneran? Kita bisa kok tetap ke Jogja tapi untuk liburan aja, Na.”
Spontan aku menunduk dan tertawa getir. Lebih baik aku menjawab satu soal aljabar daripada menjawab pertanyaan Arel yang sekaligus mengingatkanku akan acara yang kita hadiri besok. Melihat loafer hitamku yang telah kubersihkan sampai mengkilap hingga aku bisa melihat pantulan wajahku mengingatkanku bahwa kemarin lusa Arel juga menanyakan pertanyaan yang sama. Reaksiku pun sama, menunduk dan tersenyum getir. Terlalu malu memperlihatkan seberapa cepatnya raut wajahku akan berubah hanya dengan mendengar namanya. Kali ini aku yakin Arel hanya ingin mendengar jawaban yang berbeda. Arel ingin membuatku berpikir ulang dan mengurungkan niatku.
Hujan tak kunjung henti dan malam ini kian dingin. Puncak hidungku membeku saat mataku mulai memerah dan pipiku memanas. Mengingat alasan aku hadir dan duduk di kereta ini adalah alasan yang tidak ingin kudengar dan jutaan kali kutolak dalam hati. Beribu kali aku meyakinkan bahwa besok adalah kenyataan yang harus kuhadapi, beribu kali pula aku mencoba menghadirkan ikhlas dan berusaha untuk menjadikannya teman baik. Meskipun pada kenyataannya, ‘ikhlas’ masih menjadi kata yang semakin hari semakin asing dan memori tentang dia mengusir jauh-jauh kata ‘ikhlas’ dan selalu berusaha menghadirkan harapan. Masih melekat bagaimana aku dan dia menyukai senja dan bagaimana aku bisa menggambarkan dia dengan tumpukan puisi berlebihan yang biasa dituliskan oleh orang yang sedang kasmaran. Ya, dia, adalah ‘dia’ yang sama dengan apa yang dikatakan Arel sebelum Arel menanyakan pertanyaannya. Dia yang membuatku terdiam lama hanya untuk berpikir apakah aku harus menepati janji yang bahkan aku sendiri tidak ingin menyetujuinya, karena tahu betul bagaimana hal itu akan menyiksaku.
Sejak ‘dia’ pergi, aku kehilangan tempat bercerita, kehilangan buku harian dimana aku bisa menulis apapun sampai detail terkecil dalam keseharianku. Selama lima tahun setelahnya pun, aku masih menuliskan dia detail kecil tersebut di buku harian yang kuputuskan nantinya akan kuberikan kepadanya di waktu yang tepat dan meminta dia untuk kembali. Sampai sekarang bisa kulihat aku yang bodoh karena selalu menanyakan kabar di setiap akhir halaman, aku yang selalu bercerita tentang bagaimana hariku tanpa dia selama lima tahun belakangan ini. Dia tidak pernah tahu bahwa aku pernah begitu yakin dia akan menjadi orang yang akan kukagumi saat pertama kali aku melihat dia berkenalan di depan kelas dan tak sengaja memasang senyuman manisnya. Dia tak pernah tahu bagaimana aku menghadapi rasa rinduku sendiri yang kian menumpuk seperti cucian di akhir minggu. Dia tak pernah tahu seberapa besar aku mengutuk diriku sendiri dan menyirami tubuh dengan rasa penyesalan karena membiarkan dia pergi. Dia tak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui itu semua. Hingga baru kemarin aku tersadar bahwa kesempatan itu tidak pernah kuberikan dan kini aku kehilangan sepenuhnya kesempatan itu. Tidak ada lagi waktu yang tepat dan kini aku kehilangan dia sepenuhnya.
“Na, gausah dateng ya? Kita jalan-jalan aja ya di Jogja? Okay?” Arel menopang dagunya dengan kedua tangan. Berusaha menggunakan puppy eyes dan berharap kali ini aku benar-benar mendengarkan sarannya.
“Rel, aku bahkan masih ingin melihat semanis apa senyumannya di hari terbahagia dalam hidupnya besok. Aku pikir ini satu-satunya cara supaya aku bisa benar-benar ikhlas dan merelakan dia pergi deh, Rel.”
“Dengan ngelihat dia bahagia sama orang lain?”
“Iya, biarkan dia dengan kehidupannya dan aku menjalani kehidupanku sendiri. Jadi jangan tanya lagi. Udah ah mau tidur. Tidur Rel, tapi jangan berisik” Aku tertawa lalu memejamkan mataku.
Setiap memejamkan mata dan gelap menjadi peneman terbaik, dia selalu datang. Seperti biasa dengan kaos hitam kesukaannya dan jeans kelabu kebanggannya. Kadang dia masih mengenakan seragam SMA dan aku sibuk mengacak-acak rambutnya. Lalu entah dari mana lagu Payung Teduh dimainkan dengan sangat lembut sehingga aku dan dia sama-sama bisa mengikuti nyanyiannya dengan suara kami yang kacau. Tiga menit berikutnya tiba-tiba kami berada di bibir pantai menikmati senja kesukaan kami dan aku senantiasa menikmati bagaimana dia bercerita dengan senyuman manis terukir indah di wajahnya. Namun malam ini aku menampar keras diriku sendiri hingga tersadar bahwa aku selama lima tahun setelah ia pergi, terus menghidupkan dia di dalam cerita yang sebenarnya telah lama usai. Dia hidup bersama kenangan yang terus berulang dan akan terus begitu. Menolak orang lain masuk karena takut orang itu akan mengalahkan kenangan hebat kami. Lalu dalam diam terus meratap doa setiap sepertiga malam bahwa takdir akan mempertemukan aku dan dia kembali meskipun bukan di kehidupan yang sekarang.
Setelah berkali-kali berkelahi dengan diri sendiri yang masih meyakini bahwa nantinya dia akan kembali, takdir dan waktu pun menunjukkan jawabannya. Jawaban dari ketidakyakinanku sendiri yang akhirnya berbuah penyesalan karena tidak memberikan dia kesempatan untuk memberitahukan apa yang ingin kusampaikan selama ini. Buku harian itu tetap menjadi buku harian yang pada akhirnya kuakhiri dengan titik. Ku simpan dengan rapi di tempat dimana hanya aku seorang yang tahu dimana aku bisa menemukannya lagi. Seperti apa yang dikatakan John Mayer dalam lagunya “You’re Gonna Live Forever in Me”, dia akan selalu hidup sebagai kenangan yang tidak pernah aku sesali.
Inspired by : John Mayer – You’re Gonna Live Forever In Me
Author : Nurlaili Mardhiyah