A Short story written by LoneSky
supported by : Lemma and TheBlackscar Creative Studio
Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama tokoh, cerita/peristiwa, merupakan unsur fiktif belaka.
CHAPTER – I : A STRANGE FEELING
Hari ini adalah hari pertamaku pindah ke sekolah baru. Pagi hari yang begitu cerah diikuti udara sejuk. Aku melangkah menuju kelas baruku, diiringi bel masuk sekolah. Ibu guru menyuruhku masuk dan kemudian mempersilahkanku untuk memperkenalkan diri
“Namaku Marcella Black, aku berasal dari Amerika. Aku pindah ke sekolah ini karena pekerjaan ayahku. Aku harap kita bisa berteman baik” ucap ku dengan wajah tersenyum.
Aku mendapat tempat duduk paling belakang dekat dengan jendela. Teman dudukku, seorang pria berkulit sawo matang, rambut hitam agak Panjang hingga tengkuk dan menutupi keningnya, matanya seperti kurang tidur, badan yang tidak begitu tinggi, dan jika dilihat-lihat sepertinya ia seorang penyendiri. Setelah aku menempati tempat dudukku, pelajaran dimulai.
Setelah dua setengah jam belajar, akhirnya bel istirahat berbunyi. Seperti sekolah-sekolah tempat aku pindah sebelumnya, teman-teman sekelasku langsung mengerumuniku dan mengenalkan diri mereka serta bertanya banyak hal, mengingat aku berasal dari luar negeri. Tentunya aku menjawab mereka satu demi satu dengan wajah tersenyum. Tapi, murid yang duduk disampingku itu tetap duduk disana menatap buku tanpa ada ketertarikan terhadap sekitarnya.
“ah dia- “ ucap salah satu orang kepadaku karena melihatku sempat memerhatikannya “Namanya Francis Leon, semenjak kelas satu dia sudah terkenal sangat pendiam dan tidak mau bergaul dengan siapapun. Meskipun dia selalu memantengi buku, nilainya tidak pernah jauh dari KKM.”
Meski dia adalah orang yang seperti itu, aku tidak tau mengapa, tapi sesuatu menarik perhatianku terhadapnya, seakan akan kita memiliki suatu kemiripan yang begitu dalam, yang kami tidak ingin diketahui oleh siapapun.
Sehari kemudian, aku mulai terkenal sebagai murid pindahan yang begitu ramah dan lemah lembut, juga sebagai seorang gadis amerika cantik jelita berkulit putih mulus dan berambut pirang Panjang hingga menutupi leher. Saat pelajaran olahraga, aku mencetak waktu yang menandingi klub pelari, dan pada soal tes kemarin, aku mendapat nilai yang sempurna meskipun beberapa soal bisa dibilang cukup sulit. Selama seharian penuh, satu demi satu murid mencoba menembakku. tentunya aku menolak mereka semua.
Keesokan hari, demi menghindari kerumunan murid-murid di aula kelas, aku datang lebih cepat dari biasanya. Didalam kelas belum ada yang datang kecuali murid penyendiri itu. Sambil menunggu teman-teman lainnya, aku menatapi kelas, namun tanpa kusadari tatapanku terfokus kepada pria itu. Disaat itulah aku menyadari, meski matanya dipenuhi konsentrasi tinggi, tapi tatapannya terlihat begitu hampa, seakan-akan ia berada dalam penderitaan dan keputusasaan yang begitu dalam, sama seperti diriku. Tak lama kemudian murid-murid mulai berdatangan, dan hariku dimulai seperti biasa.
Hari-hariku pun berlalu seperti biasa, bergaul dengan teman-temanku, belajar dalam kelas, dan lainnya. Terkadang tanpa kusadari, kudapati diriku menatapi Leon, bahkan hingga salah satu temanku mengira bahwa aku jatuh cinta padanya. Tentu saja itu tidak mungkin terjadi bukan? aku hanya tertarik padanya karena kemiripan yang sepertinya kita miliki, . . . . dan lagipula, ini adalah aku yang kita bicarakan.
Dua minggu telah berlalu, hari-hari ku tidak banyak berubah, hanya saja terkadang kudapati Leon melirik kearahku dengan wajah kesal Ketika aku sedang menatapinya. beberapa hari kemudian, setiap waktunya istirahat ia akan pergi ke suatu tempat seorang diri. Sepertinya dia mencoba untuk menghindariku.
Seperti biasa, teman-temanku mengerumungiku dan mengobrol denganku. Tapi entah kenapa, aku tetap merasa, . . kesepian. Hari demi hari, aku tidak melihatnya Ketika waktu istirahat. Aku mencoba untuk mengabaikannya . . . bukan . . . aku mencoba untuk menolak perasaan ini. Mungkin karena ini adalah kali pertama aku merasakan hal ini. Aku merasa, . . . begitu terganggu dengan ini. Aku tidak menyukai ini. Aku harus segera mengatasinya.
Tiba keesokan hari, dan kali ini, aku memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam. Kemudian sampailah di belakang gedung sekolah, dimana tidak ada siapa-siapa selain dirinya disana. Seperti yang biasa ia lakukan Ketika istirahat, membaca buku dan memakan sepotong roti.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Tanpa kusadari, aku telah menontoninya secara diam diam dari balik tembok. Sungguh, apa yang sebenarnya kulakukan! Aku langsung bergegas kembali ke kelas agar tidak ketahuan telah diam-diam menontoninya. Aku malu pada diriku sendiri! mengapa aku tidak bisa mengendalikan diriku dengan hal apapun yang berhubungan dengan dia?!
Namun . . . lagi-lagi aku melakukannya di jam istirahat kedua, lagi di keesokan hari, bahkan tanpa kusadari, aku telah melakukannya hingga seminggu berturut-turut. Teman-temanku bertanya-tanya mengapa aku suka tiba-tiba menghilang saat jam istirahat, namun aku hanya memberitahu mereka bahwa aku sedang memiliki urusan pribadi.
Hal ini terus kulakukan hingga suatu hari, karena aku sudah terlalu sering melakukannya, aku lengah. Hari itu, tepat setelah istirahat kelas kami akan diajari oleh guru paling killer disekolah. Bel masuk berbunyi, aku hanya menoleh kearah jalan menuju kelas dan tidak segera bergegas pergi. Tiba-tiba. . .
“Hey. . . Apa yang kau lakukan disini !” Tegur Leon. Aku menoleh kearahnya dengan panik. Wajahnya pucat dengan alis mengerut dan mata melotot sambil menggertakkan gigi, seakan-akan ia marah, panik dan ketakutan secara bersamaan. Kami berdua terpaku saling menatap mata, keringat kami mengalir dan menetes dari kepala hingga dagu.
“Hey, jawab aku! Apa yang kau lakukan disini, dan sudah berapa lama kau disini ?!” Tanya dengan nada yang cukup mengintimidasi. Aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang selalu terlihat tenang dan pendiam bisa menjadi seperti ini.
“Bi- bisakah kau tidak melihatku dengan wajah seperti itu.” Jawabku. Lagi-lagi, mulutku bertindak sebelum sempat berpikir. Namun hanya dengan mengatakan itu, meski tidak banyak berubah, wajahnya menjadi sedikit lebih tenang.
“Baiklah, kini jelaskan padaku.” Ucapnya setelah menghela nafas.
Jantungku berdetak begitu kencang, tubuhku terasa begitu panas, aku telah melewati begitu banyak situasi dalam hidupku, namun aku tidak pernah merasa sepanik ini seumur hidupku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan disini. Aku harus menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak bermaksud buru-
“ ma- MAU KAH KAU MENJADI PACARKU ?!” Ya, . . . akupun tidak paham mengapa aku mengatakannya. Someone please kill me.
Untuk kedua kalinya mulutku bergerak lebih cepat dari otakku. Aku menundukkan kepala, Mataku melihat ketanah tidak mampu menatap langsung matanya, tubuhku semakin memanas, keringatku mengalir deras, tanganku mengepal begitu keras, menunggu jawaban darinya.
“sigh, . . .” Leon menghela nafas “ternyata begitu. Maaf, tapi aku tidak mau berpacaran sekarang, “ jawabnya sambil membalik badan dan berjalan meninggalkanku.
. . . .
Haha,.. jadi seperti ini rasanya ditolak ya. Rasa sedih, frustasi, dan lainnya, terjadi secara bersamaan. Ingin rasanya aku menangis, tapi sudah lama aku tidak bisa menangis. Aku hanya bisa tersenyum dan berdiri diam sambil meratapi tanah dan bayangan gelapku sendiri.
Tapi, . . . mengapa setelah aku mengatakan itu, dia seperti merasa lega? Dengan menahan dan menyembunyikan rasa bingung, diikuti dengan patah hati dan sedih ini, aku bergegas Kembali ke kelas.
Keesokan hari, begitu juga dengan hari-hari berikutnya, aku kembali pada aktivitas yang biasa kulakukan biasanya, hanya saja kini aku tidak lagi menatapi Leon, atau lebih tepatnya, aku tidak lagi bisa membawa diriku untuk melihatnya. Meskipun seharusnya, aku tidak lagi memiliki emosi seperti ini. Mengetahui hal ini, Leon tidak lagi keluar kelas Ketika jam istirahat, namun sepertinya dia tidak merasa terganggu dengan apa yang terjadi sebelumnya.
Tanpa kusadari, 6 bulan telah berlalu, dan kami sudah melewati ujian tengah semester. Tidak ada hal-hal signifikan terjadi setelah kejadian itu hingga sekarang. Tinggal 6 bulan lagi, dan kita akan naik ke kelas 3. Tradisi dari tahun ke tahun disekolah ini, setelah libur ujian tengah semester, setiap siswa akan mengajak orang tua atau walinya untuk berdiskusi kepada walikelas untuk membicarakan karirnya. Tapi, takdirku sudah lama ditentukan oleh mereka, lalu apa gunanya ?
Ibu guru membagi selebaran kertas yang berisikan kuisioner karir impian kami. Setelah satu jam waktu mengisi, ibu guru Kembali mengumpulkan selebaran kuisioner, beberapa kali dia mengomeli anak- anak karena mengisi dengan tidak serius. Namun, Ketika Ibu guru datang untuk mengambil lembaranku, ia terlihat cukup terkejut.
“Marcella. . . mengapa kamu mengosongkan semuanya?” Tanya Ibu guru dengan lemah lembut.
Aku terdiam, tidak menjawab. Aku hanya menatap meja kosongku, tidak dapat melihatnya langsung. Aku dapat merasakan Leon melirik kearahku, tapi aku tetap terdiam. Beberapa siswa mulai melihat kearahku, kebingungan. Lalu ibu guru mengembalikan lembaranku.
“Marcella, Ibu guru akan menunggu hingga besok. Pikirkanlah apa yang ingin kamu lakukan untuk masa depanmu. Ingatlah, masa depanmu adalah milikmu.” Ujar Ibu guru.
Aku tidak meyukai ini, apakah Ibu guru pilih kasih padaku hanya karena aku adalah primadona disekolah ini sekarang? Meskipun dia mengomeli murid-murid yang lain? Tanpa kusadari, aku menolehkan wajahku ke arah Ibu guru, namun ia terlihat tersenyum, senyuman yang begitu lembut dan tulus, tanpa tampak tanda-tanda maksud buruk sedikitpun, bukan karena ia merasa kasihan padaku, tapi karena dia tahu itulah yang harus dilakukan seorang guru kepada muridnya. sepertinya, dia menyadari raut wajahku yang tidak begitu, “normal” seperti biasanya.
Melihat wajahnya yang begitu tulus, aku merasa tidak ingin mengecewakannya. . . . tapi, aku hanya bisa menganggukkan kepala, karena aku tahu hidupku lebh dari siapapun.
. . . .
Atau mungkin tidak.
Untuk pertama kalinya, aku merasa ragu kepada diriku sendiri.
Sepulang sekolah, tidak seperti biasanya dimana aku langsung pulang kerumah, kini aku menelusuri jalanan, tanpa tahu mau kemana, aku hanya terus berjalan, hingga berjam – jam, kemudian tanpa kusadari, sampailah aku di pesisir pantai, hari semakin gelap. Aku duduk disana beralaskan pasir putih, sambil menyaksikan terbenamnya matahari.
Kini, langit telah berubah menjadi gelap gulita, dilapisi kabut polusi tanpa dihiasi bintang-bintang yang indah. Namun, aku tidak bergerak dari sana, aku hanya duduk terdiam dan terus melihat kearah langit hitam itu, tanpa memikirkan apapun. Mungkin ini, adalah kali kedua, pikiranku terasa begitu hampa.
Tiba-tiba sesuatu yang begitu dingin menyentuh pipi kananku hingga membuatku terkejut.
“Hey, minumlah” Ucap Leon yang tiba-tiba datang entah darimana yang sedang memegang 2 kaleng soda dingin. Sepertinya pikiranku begitu terganggu hingga tidak menyadari kehadirannya. Setelah aku menerima soda darinya, ia duduk di sampingku sambil meminum soda miliknya.
“ada apa ini? Merasa kasihan dengan gadis yang kau tolak?” tanyaku yang lagi-lagi kukatakan tanpa pikir panjang.
“Entahlah, sepertinya tanpa sadar aku masih memiliki hati nurani” Jawabnya, “Jadi, apa masalahmu?“ Tanyanya dengan tatapan yang sepertinya tidak begitu hampa seperti biasanya.
“Apa pedulimu?” Jawabku.
“Bukankah sudah kujawab sebelumnya, tapi jika aku harus berkata jujur, mungkin karena aku merasakan suatu kemiripan diantara kita berdua.”
“Huhu, sepertinya kita merasakan hal yang sama ya?” Aku tertawa kecil, tanpa kusadari, moodku sedikit membaik. “Hey, bisakah kamu menjaga rahasia? Aku akan memberitahumu karena ini adalah kamu. “
“Tentu saja” Jawab Leon dengan wajah tulus.
“Orang tuaku tak lama lagi akan menunangkanku dengan seorang anak dari temannya yang sangat kaya. Tentunya, ini akan menjadi pernikahan politik dan itu sudah lama direncanakan dan ditetapkan, dan tentu saja jika itu terjadi aku tidak mungkin bisa memiliki kebebasan lagi. Ya itu bukan berarti aku memilikinya sejak awal. . . Tapi yang ibu guru lakukan tadi, apa yang ia katakan mengingatkanku pada sepucuk harapan yang dulu pernah kumiliki.” jelas ku dengan suara tersendat-sendat seperti menahan tangis. “Hey Leon, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?”
“Begitu ya, aku paham, . . .” Jawabnya sambil meminum soda. “Hey, katakan padaku, berapa nyawa yang bisa kau selamatkan jika kau melakukan apa yang orang tua mu inginkan?”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Cukup jawab pertanyaanku”
“Mendekati nol, dan mungkin. . . . minus.”
“Kalau begitu kau tidak perlu melakukannya bukan? Aku tidak tau begitu dalam tentang masalah keluargamu, tapi aku tau, secara psikologis kau takut untuk melawan keluargamu sendiri.”
Aku terdiam tidak bisa membantahnya.
“Hey, mari kita buat kesepakatan.” Lanjut Leon.
“Apa maksudmu ?”
“Aku akan membantu mengatasi masalahmu dengan bagaimanapun aku bisa, sebagai gantinya aku ingin kau membantuku.”
“Aku tidak ingin melibatkanmu dalam ini, ini terlalu berbahaya.”
“Jangan khawatir, aku tahu apa yang kulakukan.”
“Aku tidak yakin aku bisa melakukan ini.” Suaraku semakin tersendat-sendat.
“Aku berada dibelakangmu untuk membantu.”
“Mengapa kau melakukan sejauh ini untuk menolongku ?” Mataku semakin buram.
“Karena aku juga membutuhkan bantuanmu.”
“Hey, apakah ini adalah hal benar yang harus kulakukan?”
“Percayalah pada dirimu sendiri.” Leon berdiri lalu berlutut kedepanku dan menghadapkan wajahnya kepadaku “hey, ingatlah, masa depanmu adalah milikmu. Kau adalah tokoh utama dalam hidupmu sendiri. Jadi, raihlah apa yang kau inginkan, kau masih memiliki kesempatan.”
Tetesan air mata mengalir keluar dari mataku. Setetes, dua tetes, kemudian begitu deras. “Huwaaa !” Aku menangis begitu keras, sambil menyenderkan kepalaku kepundaknya. Ia mengelus kepalaku tanpa mengatakan apapun hingga air mataku mengering.
Setelah tenang, kami duduk berdampingan, sambil menatapi langit malam.
“Hey Leon, kau berjanji akan membantuku dengan bagaimanapun kau bisa kan?” Tanyaku sambil mengusap mata.
“Aku tidak akan menarik ucapan dan janjiku, ya, kecuali jika kau melakukannya duluan.”
“Kalau begitu” aku menengok ke arahnya. “Hey, jadilah pacarku.”
“Kau masih kukuh dengan hal itu. . .” Balas Leon dengan wajah sedikit jengkel.
“Tentu saja. lagi pula, itu akan menjadi langkah awal dan senjata utama untuk membatalkan pertunanganku. Tentunya aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlalu melibatkanmu.” Jelasku panjang lebar. “Jadi. . . bisakah kamu memberikan jawabanmu ?”
“chhh. . .” Leon memalingkankan wajah. Lalu setelah beberapa saat ia menoleh kelangit menghela napas, kemudian Kembali menghadap ke arahku. “ baiklah, jika kau tidak apa-apa dengan orang sepertiku.”
Aku tersenyum, begitu lebar dan lebih Bahagia dari kapanpun selama seumur hidupku. “Ya, tentu saja. “
Malampun berakhir dan tiba esok hari. Sesuai janjiku dengan ibu guru, aku mengumpulkan lembaran kuisioner yang telah terisi.
“Kamu ini benar-benar murid nakal ya.” Jawab ibu guru dengan wajah tersenyum setelah melihat jawaban dari lembar kuisionerku.
“Yap.” Jawabku dengan senyum lebar sambil berjalan keluar dari ruang guru.
. . . .
. . . .
Tapi,.. bantuan yang ia minta dariku, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
CHAPTER – II : REVELATION
WARNING : chapter ini mengandung adegan kekerasan dan darah
Matahari semakin menampakkan dirinya di balik jendela bersamaan dengan awan putih berkerumun memperindah langit serta menyejukkan mata di pagi hari ini yang berjalan damai seperti biasanya. Begitu pula dengan keramaian sekolah yang tak berubah, . . . . atau mungkin tidak, seluruh kelas, bahkan hingga beberapa siswa dari kelas lain kini mengerubungiku karena kabar aku kini berpacaran dengan Leon telah tersebar hingga seluruh penjuru sekolah. Kini aku harus menanggapi mereka satu persatu, namun seperti biasa Leon tidak berkutik, bahkan kini dia pergi karena merasa terlalu berisik, meninggalkan aku sendirian dalam kekacauan ini Sungguh, ingin aku berkata kasar.
Dari sebelum bel masuk sekolah, berlanjut ke jam istirahat pertama, berlanjut lagi ke jam istirahat kedua, hingga pulang sekolah, kerumunan ini tidak ada habis-habisnya, bahkan mungkin kini semakin bertambah. Dari celah-celah kerumunan ini, aku melihat Leon, memberikan sebuah isyarat yang kami berdua pahami. Aku mengangguk, kemudian dia pergi keluar kelas. HEY, SETIDAKNYA TOLONG AKU DISINI.
Setelah satu jam lebih, akhirnya mereka berhenti mengerumuniku. Kini, Kembali ke tempat yang ia isyaratkan. Pantai, tempat dimana kami mulai berpacaran. Disana ia sedang duduk, memegang handphone sambil meminum soda merah favoritnya.
“Itu. . . . Trading app?” tanyaku setelah melihat layar handphone-nya.
“Bisa dibilang begitu.” Ucapnya sambil menutup layar handphone-nya dan memasukkannya dalam saku. Setelah menyapanya, aku duduk disebelah kanannya, seperti layaknya kemarin.
“Hey, tidak bisakah kau membantuku tadi di sekolah?” Ucapku dengan wajah cemberut.
“Kukira itu adalah hobimu.”
“Tentu saja tidak !” Tegas ku, kemudian aku menghela napas. “Haah, dan kini aku mengira karena kau tidak ingin repot.”
“Well, i can’t deny that” (ya, aku tidak bisa menyangkalnya)
“hmph”
. . . .
Suasana berubah menjadi serius
“Jadi, kau sudah memikirkan rencanamu ?” tanya Leon.
Aku melirik mataku kearah berlawanan dari Leon “belum.”
“Meskipun kau bilang berpacaran denganku akan menjadi senjata utama untuk mewujudkannya ?”
“Ya, aku tau aku dapat menggunakannya untuk hal itu, aku hanya belum menemukan cara yang tepat untuk mewujudkannya.”
“Kalau begitu, bisa kau ceritakan tentang keluargamu? dengan itu mungkin aku bisa menemukan cara yang tepat untuk membantumu.”
Pertanyaan yang selama ini kuhindari akhirnya tiba
“Keluargaku, mungkin kau bisa menyebutnya keluarga konglomerat yang bisa kau bilang begitu ambisius dan serakah. Demi mendapatkan lebih banyak kekayaan dan kekuasaan, mereka tidak akan ragu untuk menggunakan anak-anak mereka. Mengingat aku tidak memiliki satupun saudara laki-laki, mereka mencarikan seseorang yang pantas untuk meneruskan perusahaan. Tentunya, menikahkan anaknya dengan orang tersebut juga demi meneruskan generasi dengan gen dominan.” Jelasku. “Leon, aku tahu aku memintamu membantuku, tapi kumohon, jangan melibatkan dirimu terlalu dalam dengan masalahku ini. Aku ingin agar kau cukup membantuku dari belakang, memberi ku dukungan dan dorongan serta sebagainya. Tapi kumohon, jangan bertindak lebih jauh dari itu.” Aku memohon kepadanya, sambil menggenggam kedua tangannya. Karena masih banyak yang hal belum kuungkapkan kepadanya.
Leon melihatku dengan mata penuh perhatian, “Baiklah.”
“Terima kasih, Leon.” Jawabku sambil tersenyum kecil.
“Jadi intinya, keluarga serakah yang ingin menikahkan anaknya untuk memiliki generasi penerus dan kekayaan serta kekuasaan. Jenis keluarga yang bisa kau temukan di banyak novel, tak kusangka dapat menemuinya secara langsung.” Leon menatap kearah langit yang menggelap “matahari sudah terbenam, mari pulang. Aku akan mencoba untuk memikirkannya di rumah.” Ia berdiri, begitu juga denganku.
“Baiklah” Jawabku. Kami berjalan berdampingan hingga kami sampai ke pertigaan dimana kami akan berpisah.
“Hey.” Ucap Leon. “Satu pertanyaan terakhir, apakah keluargamu sudah mengetahui tentang hubungan kita ?”
“Tidak.” Jawabku sambil menundukkan kepala. Aku melambaikan tangan, ia menjawab dengan mengangguk, kemudian kami berjalan kearah yang berlainan.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai di rumah. Sebuah rumah megah bertingkat lima dengan taman seluas lima ribu meter persegi yang semua orang akan langsung iri melihatnya. Bunga-bunga indah bermekaran, air mancur di tengah taman yang memantulkan cahaya bulan, arsitektur dan dekorasi yang harganya tidak bisa diperkirakan. Mungkin bagi kebanyakan orang yang melihatnya, kami adalah satu keluarga kaya raya yang Bahagia, tapi faktanya, kami jauh dari seperti itu.
“Selamat datang, Nona Marcella.” Ucap kepala pelayan Sebastian sambil membukakan pintu. “Kepala keluarga meminta anda untuk menemuinya.”
Aku tersentak mendengarnya, aku mencoba untuk menenangkan diri kembali. “Aku mengerti, tolong tunjukkan jalannya.” Jawabku dengan nada rendah seperti penuh keraguan. Tak peduli berapa kalipun aku bertemu dengannya, aku tidak pernah bisa merasa terbiasa. . . dan, sepertinya, sudah saatnya aku mengungkapkan diriku dan keluargaku yang sebenarnya.
Sebastian memanduku menuju kantor ayahku. Sepanjang jalan dengan lantai berwarna emas berkilauan dilapisi karpet bulu berwarna merah, berbaris disampingku berbagai macam lukisan, patung, dan guci karya-karya seniman sangat terkenal yang harganya tidak mau kalian ketahui. Meski sudah berkali-kali melewati lorong ini, lingkungan ini tetap membuatku mual dan muak, seakan-akan lorong yang mengarah kekantornya ini digunakan untuk menunjukkan seberapa hebat dan berkuasa dirinya.
“Kita sudah sampai, nona Marcella.” Ucap Sebastian sambil berdiri di samping pintu emas di depan kami. Aku menatapnya sementara waktu, lalu aku mengangguk ke arah Sebastian. Ia mengetukkan pintu. “Pak Kepala, Nona Marcella sudah datang.” Suasana hening untuk sementara, kemudian Sebastian membukakan pintu secara perlahan. Aku melangkah masuk, ke ruangan yang paling aku benci, ruangan yang dipenuhi dengan bau darah.yang menyesakkan.
Di depan sana, duduk seorang pria dengan baju hitam dan jubah merah, rambut coklat panjang berantakan hingga tengkuk, berkumis dan berjanggut hitam, serta memiliki beberapa bekas luka sayat di dahi, hidung, dan pelipis. Ia tak lain adalah ayahku, Vale Black.
“Darimana saja kau Marcella, sudah dua hari kau terlambat pulang.” Ucapnya dengan tatapan tajam yang mungkin bisa membunuh orang. “Dan sepertinya kamu dengan sengaja menyembunyikan keberadaanmu ketika pulang sekolah. Tapi itu bukan masalah, kamu punya pekerjaan.” Ia memberikan selembar kertas.
“John Wrethlen, pengusaha inggris yang kini telah meluaskan perusahaannya ke seluruh eropa dan sebagian asia, info lebih lanjut ada di kertas itu. Klien kita ingin membuatnya terlihat seperti kecelakaan. Selesaikan malam ini, Kesalahan tidak bisa ditoleransi.”
“Baik, Ayah.” Jawabku sambil melangkah keluar dari kantor itu. Sebastian menutupkan pintu dan ingin memanduku, aku mengangkat tanganku, mengisyaratkan padanya untuk tidak mengikuti. Ya, inilah diriku sebenarnya, seorang anak, yang dibesarkan di keluarga pmebunuh.
Ketika malam hari tiba, aku tidak lagi seorang mahasiswi yang cantik dan ramah, aku akan berubah menjadi seseorang pembunuh berdarah dingin. Apabila aku sedang memiliki misi, maka aku akan menyelesaikannya dengan sempurna, dan apabila aku sedang tidak memiliki misi, maka aku akan dipaksa berlatih dengan latihan yang tentunya tidak manusiawi. Bahkan tidak mengherankan kalau aku bisa mati ketika melakukannya.
Setiap kali aku ingin memasuki ruang rahasia persenjataan, aku harus melewati aula utama terlebih dahulu. Disana terpampang lukisan-lukisan dari kepala keluarga terdahulu. Dari awal berdirinya keluarga pembunuh ini, hingga sekarang. Aku sering membaca sejarah mereka, terutama kakek dan kakek buyut ku, yang membunuh karena apa yang mereka anggap kebenaran dan keadilan, membunuh demi menyelamatkan lebih banyak orang dan membersihkan dunia dari kegelapan. Aku mengagumi mereka, juga perjuangan mereka. Namun ayahku berpandangan lain, ia muak dengan perjuangan sia-sia leluhur kami, ia ingin mengubah segalanya, namun pada akhirnya ia hanya melakukannya demi hawa nafsu dan keserakahannya. Aku akan mengubahnya, aku bersumpah pada kakek dan kakek buyutku, juga kepada ibuku yang telah ia bunuh dengan tragis, aku akan membunuhnya, dan mengembalikan keluarga ini kejalan yang seharusnya. Tidak, mungkin lebih baik lagi, menjadikan keluarga ini, juga garis keturunannya selayaknya keluarga normal.
Namun, cukup untuk merenungkannya, aku memiliki misi yang harus kuselesaikan. Malam itu, tanpa ada suara teriakan, tanpa ada gerakan mencurigakan, dan tanpa ada tanda-tanda terjadi pembunuhan. Hanya malam yang gelap dan sunyi, diiringi angin sejuk yang berhembus dari utara. Seseorang telah kehilangan nyawanya. Keesokan hari diberitakan, bahwa seorang pengusaha inggris yang sedang marak-maraknya, bernama John Wrethlen telah meninggal karena serangan jantung. Aku tahu aku tidak seharusnya seperti ini, tapi aku tidak merasa menyesal melakukannya.
Pagi ini hujan turun cukup deras, jadi aku diantar hingga sekolah. Seperti biasa, meski aku berangkat cukup pagi demi menghindari kemacetan, Leon telah duduk di sana membaca buku sambil memakai trading app di handphone-nya. Seperti yang biasa aku lakukan, menatap dinding, dan juga. . . . merenungkan apa yang telah kulakukan.
“Kau baik-baik saja ?” Tanya Leon tiba-tiba dengan tatapan yang masih terfokus pada buku dan handphone-nya.
“Tidak ada apa-apa, kamu tidak perlu khawatir. Ngomong-ngomong, kamu sudah menemukan bagaimana caranya?”
“Kurang lebih, tapi lebih baik kita bicarakan nanti.”
“Eh, kenapa-“
“HEYO !” Tiba-tiba seseorang masuk dan berteriak. Dia adalah Joe, salah satu murid di kelas ini. Diikuti beberapa siswa dan siswi dibelakangnya. “Hey-hey! Ada apa ini, dua pasangan yang sedang bermesraan. Nyuahahahaa, maaf mengganggu.” Terusnya dengan wajah sama sekali tidak merasa bersalah.
Plak! “dasar kamu,” seseorang memukul Joe dari belakang. Ia adalah Amami, murid lain dari kelas ini.
“Ah tidak apa-apa kok, kami hanya mengobrol kecil.” Sahutku.
“Hmmmm,…. hey hey, apa kamu. . . . .” Balas Amami, yang tentunya menjadi obrolan hingga bel masuk berbunyi. Leon memberikan isyarat tangan yang berarti kita akan melanjutkan pembicaraan ditempat biasa.
Hari berlalu begitu cepat, dan kini bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku mengisyaratkan Leon untuk pergi duluan karena aku memiliki urusan sejenak. Setelah beberapa saat, aku telah memastikan Leon keluar dari gerbang sekolah, aku duduk sejenak di tengah kelas yang kosong. Aku mengetuk-ketuk meja, yang merupakan bahasa isyarat.
“Rahasiakan apapun yang terjadi antara aku dan dia. Dan jangan mengikuti kami setelah ini.”
“Berapa bayaranmu.” Jawab Ange dengan isyarat ketukan. Ia adalah seorang mata-mata suruhan ayah. Aku tidak tahu seberapa loyal dia terhadap Ayah, tapi kalau aku bisa menutup mulutnya tentang perihal ini, maka itu adalah semua yang kuharapkan.
“Setengah dari imbalan pekerjaanku minggu lalu, ditambah bayaran penuh dari imbalanku tadi malam.”
“Sepakat. Senang berbisnis dengan anda.”
Setelah itu, aku melangkah keluar kelas, menuju tempat biasa kami berbincang. Pantai dimana indahnya matahari terbenam dapat dilihat secara langsung. Aku berlari-lari kecil menuju tempat itu, dan sesampainya di sana, kulihat Leon yang seperti biasa, meminum soda merah favoritnya sambil memainkan handphone-nya.
“Hey, maaf membuatmu menunggu.” Ucapku dari belakang.
“Yo, duduklah dan minum ini, kelihatannya kau baru saja berlari.” Balasnya sambil memberikan soda merah yang belum dibuka.
“Aku hanya berlari-lari kecil saja kok, terima kasih.” Jawabku sambil mengambil sodanya dan duduk di sampingnya. Kemudian suasana hening untuk sementara waktu selagi kami menyaksikan terbenamnya matahari. . . .Entah kenapa, meski kami tidak melakukan banyak hal, aku merasa begitu bahagia.
“Jadi. . . sesuatu terjadi padamu?” tanya Leon tiba-tiba.
“Apa maksudmu ?”
“Raut wajahmu berubah, meskipun sedikit, aku bisa merasakan kalau kau lebih memaksakan senyumanmu dari biasanya. Meskipun kau sempat bilang tidak apa-apa sebelumnya, aku hanya merasa kalau sesuatu terjadi padamu”
Aku terdiam sejenak, kemudian menjawabnya, “Jangan khawatir, hanya sesuatu yang biasa terjadi di keluargaku. Aku dapat mengatasinya tanpa masalah.” Yang tentunya, dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Suasana berubah canggung sedikit, kemudian Leon menghela napas dan tiba-tiba mengelus-elus kepalaku.
“Kalau kau tidak ingin mengatakannya, maka aku tidak akan memaksa.” Ia menarik tangannya kembali. “Back to topic. Aku tidak tahu banyak mengenai masalahmu, dan karena kau tidak ingin aku bertindak langsung, berarti aku hanya bisa menyerahkan sisanya padamu.”
“Jadi kamu sudah menemukan solusinya?”
“Aku hanya bisa memikirkan satu. . .” Leon berhenti sejenak seperti sedikit ragu.
“Katakan padaku.” Jawabku dengan penuh determinasi.
“Buat tunanganmu berada di pihakmu, dan buat dia membantumu untuk membatalkan pertunangan kalian.” Aku sedikit terkejut dengan ucapannya itu. “Jika dia bertunangan denganmu karena perintah orang tuanya, atau sebenarnya sudah memiliki kekasih maka itu akan cukup mudah. Jika dia memiliki otak bisnis, maka kau hanya perlu membuat kesepakatan yang menguntungkannya. Tapi mungkin yang sulit adalah jika dia anak manja atau jatuh cinta padamu.” Leon terlihat sedikit menyipitkan mata ketika mengatakan kalimat terakhir itu. “Satu-satunya hal yang dapat kupikirkan dapat kau lakukan jika dia merupakan tipe yang terakhir adalah membuatnya membencimu tanpa diketahui oleh keluargamu.”
“Apakah menurutmu itu adalah solusi terbaik?”
“Sejauh yang dapat kupikirkan, ya.”
“Apakah menurutmu aku bisa melakukannya.”
“Bukan kah sudah kukatakan sebelumnya, sejauh yang kupikirkan, dan itu karena aku tahu kau dapat melakukannya.”
“Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik.”
Leon tersenyum dan menganggukkan kepala. “Ayo pulang, matahari sudah lama terbenam.”
“Ok”
Dan kami pun berjalan pulang, dipandu oleh cahaya lampu malam dan udara dingin yang berhembus dari selatan.
CHAPTER – III : DO OR DIE
Satu bulan lebih kemudian. Tepatnya Malam ini, aku akan bertemu dengan tunanganku. Di sebuah hotel bintang lima dengan ruangan termewahnya, yang didalamnya hanya akan ada kami berdua, dan beberapa karyawan hotel, serta tentunya pengawal kami yang bersembunyi. Tapi tentunya, pengawal ku lebih bisa dibilang merupakan mata-mata ayahku yang bertugas mengawasiku, bukan melindungiku.
Aku melangkah masuk ke ruangan megah itu, diiringi alunan musik merdu. Didepanku sudah ada pria dengan wajah putih tampan dan kulit mulut yang mirip artis terkenal dari korea selatan. Rambut lurus dan rapih berwarna cokelat kemerahan. Kemeja putih yang dilapisi jas , celana dan sepatu hitam yang tentunya dengan merk mahal. Ya, pria itu tidak lain adalah tunanganku.
“Selamat malam Nona, mungkin anda telah mengenal saya dari Ayahanda, tapi berikan saya kesempatan untuk mengenalkan diri. Nama saya James Arthur Bougenville, Anda bisa memanggil saya James, senang bertemu dengan anda.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Marcella Black, Anda bisa memanggil saya Marcella. Senang bertemu dengan Anda.” Jawabku sambil menjabat tangannya.
“Anda tahu-“ Ucapnya, basa-basi sambil kami memilih menu makanan. Dari caranya berbicara, postur dan ekspresi, sepertinya dia adalah pria yang memiliki tata krama yang cukup baik. Namun aku masih belum bisa menilai lebih lanjut. Now, it’s a do or die.
Aku meletakkan menu makanan ke meja makan sambil menyilangkan tangan di atasnya. Namun disana, aku menyelipkan kertas dengan tulisan yang sudah kusiapkan sebelumnya. Aku berbasa-basi kecil dengannya sambil menundukkan kepala dan melirikkan mataku ke bawah, mencoba mengisyaratkannya untuk melihat kearah kertas itu.
“apa alasanmu mau bertunangan denganku. Ketukkan jari jempolmu jika karena orang tua, jari telunjuk jika demi keuntungan bisnis, jari tengah jika kamu jatuh cinta padaku, atau jari kelingking jika karena alasan lain.”
Ia mengetukkan jari kelingkingnya, jawaban yang tidak aku duga. Namun ia tidak terlihat seperti berbohong. Untuk sekarang aku anggap dia mau menjawab pertanyaanku.
“apakah itu adalah alasan yang bisa kamu beritahukan padaku. Jika ya ketuk telunjuk dan jelaskan sesingkat mungkin dengan nada candaan, jika tidak ketuk jari tengah.”
Ia mengetukkan jari tengah. Aku tidak akan menggali terlalu dalam dan berfokus pada pada objektif.
“Bisakah kamu membantuku untuk membatalkan pertunangan ini, telunjuk ya, tengah tidak.”
Ia menjawab dengan basa-basi, namun aku dapat menangkap kata kunci yang ia sampaikan. “Bergantung alasannya.”
Aku mengikuti alur pembicaraan dan ikut berbasa-basi lalu mulai membicarakan sebuah novel, yang sebenarnya menjelaskan secara singkat tentang diriku tanpa menjelaskan bagaimana keluargaku yang merupakan keluarga pembunuh, dan alasan aku ingin membatalkan pertunangan ini. . . . serta menjelaskan bahwa aku telah mencintai seseorang. Ia tersenyum kecil, lalu ia mengetukkan jari telunjuknya. Aku tersenyum kecil. Aku dapat melihat wajahnya yang tulus dengan jawaban itu. Aku mengeluarkan sepotong kertas kecil tertulis “terima kasih”.
Setelah memanggil pelayan untuk memesan makanan, kami mulai berbincang, seakan-akan kami berbicara bisnis yang akan kami lakukan ketika sudah menikah nanti, tapi sebenarnya kami sedang merencanakan bagaimana kita dapat membatalkan pertunangan ini. Dari lima kata yang kami sebutkan, ada satu atau dua kata kunci yang kami ucapkan, dari sebuah paragraf panjang, ada satu kalimat lengkap yang kami sampaikan. Aku tidak merasakan sedikitpun keraguan dari setiap ucapannya, dan aku dapat melihat dari pergerakan matanya bahwa dia menangkap semua yang kusampaikan.
Setelah penjang lebar pembicaraan kami, aku dapat menyimpulkan seluruh perkataanya dalam sembilan kata “serahkan padaku, hubungi aku jika ada masalah. Jangan ragu” aku masih belum sepenuhnya percaya padanya, tapi sepertinya aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi dikemudian waktu.
“Sampai jumpa lagi, nona Marcella, senang bertemu dengan anda, saya harap kita dapat bertemu lagi.”
“Demikian juga saya, sampai bertemu lagi tuan james.”
Kami menjabat tangan, kemudian berjalan bergandengan tangan. Ia mengantarku hingga ke mobilku, ketika ia membantuku naik kedalam mobil, ia menyelipkan sebuah kertas kedalam tanganku dan mengisyaratkan kepadaku untuk tidak membukanya hingga tidak ada mata yang mengawasiku. Aku mengangguk kecil, kemudian kami saling berpisah.
Sesampainya di rumah, tentunya Sebastian telah menunggu di depan pintu utama dan mengabarkan bahwa ayah memanggilku. aku menemuinya, dan berharap bahwa sedang tidak ada misi malam ini.
“Tidak ada masalah, semuanya berjalan dengan lancar.” Jawabku dengan tatapan kosong, seakan-akan aku adalah seorang mata-mata yang telah berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyusup ke markas musuh. Setelah itu ayah mempersilahkanku untuk pergi. Aku merasa lega karena aku tidak perlu melaksanakan misi malam ini.
Sesampainya di kamar, aku mandi dan berendam, lalu dari mulutku, aku keluarkan secarik kertas dari James yang kusembunyikan. Di dalamnya tertulis lokasi dan cara kita dapat saling berkomunikasi tanpa ketahuan. Sepertinya dia memiliki keluarga yang begitu ketat, atau mungkin dia mengetahui bahwa aku memiliki keluarga yang begitu ketat. Tapi hal itu membuatku yakin bahwa dia bukan sekedar anak dari seorang konglomerat. Siapa dia sebenarnya? Tapi tidak ada gunanya memikirkan hal itu. Sekarang, aku hanya bisa memercayakannya.
Keesokan pagi, angin berhembus begitu sejuk. Aku melangkah masuk kekelas, yang seperti biasa hanya kami berdua yang baru datang.
“Hey Leon, mengapa kamu selalu datang begitu pagi?” Tanyaku.
“Karena di sini sinyalnya cukup bagus.” Jawabnya sambil memainkan handphone-nya.
Seperti biasa, aku hanya memandanginya, hingga Joe yang sedang mengintip dari balik pintu, dan rombongan dibelakangnya datang. Leon memberikan isyarat yang memintaku untuk menemuiku ditempat biasa. Aku mengangguk, lalu mulai berbincang dengan murid lain. Waktu berlalu dengan cepat, bel pulang sekolahpun berbunyi. Seperti biasa, aku meminta Leon untuk pergi duluan. Lalu mengetukkan isyarat.
“Hey. . .”
“Pergilah. Kontrak ini berlangsung selama seminggu.” Jawab Ange
“Aku akan memberimu bonus nanti.” Jawabku, mengingat aku telah membayarnya tiga hari yang lalu. Kemudian aku melangkah keluar dan berlari-lari kecil menuju tempat pertemuan kami. Sepertinya, aku benar-benar tidak sabar untuk menemuinya disana. Meski hanya sebentar, dan tak banyak cakap, hanya momen inilah aku dapat merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Disana, dia sudah menunggu sambil meminum soda merahnya dan memainkan trading app di handphone-nya.
“Hey-“ aku belum sempat menyelesaikan kalimatku, tapi dia langsung memberikan soda kearahku dengan cepat.
“Duduklah.” Ucapnya. Aku dapat melihat dari raut wajahnya bahwa dia terlihat begitu bangga akan sesuatu. “Jadi, bagaimana pertemuanmu dengan tunanganmu?” Wajahnya kembali emotionless.
“Aku tidak tahu jika aku dapat menyebutnya berhasil atau tidak. Tapi ia setuju untuk membantuku.”
“Ceritakan padaku detilnya.” Jawabnya setelah menyeruput soda merahnya. Aku menceritakannya, tanpa terlewatkan satu momen pun. Wajahnya terlihat sedikit senang, tapi juga sedikit marah. Entah apa yang sedang terjadi padanya. Lalu ia melanjutkan
“Jangan khawatir, kau dapat memercayainya. Setidaknya firasatku mengatakan demikian.”
“Baiklah.” Jawabku sambil memandangi indahnya terbenam matahari. Aku menikmati momen hening ini, hingga matahari sepenuhnya terbenam. Kemudian kami berjalan pulang berdampingan hingga tempat dimana arah rumah kami berlawanan.
Namun kali ini, aku tidak langsung menuju rumah, ada suatu tempat yang harus kukunjungi setiap harinya, yang kebetulan searah dengan jalan pulangku dari pantai itu. Apabila Anda menemukan batang pohon mangga yang sudah tidak berdahan dan berdaun, serta berujung lancip diatasnya. Anda akan menemukan sehelai kain coklat tertanam di dekatnya dan sedikt menonjol keluar, tariklah. Saya menuliskan kabar-kabar yang mungkin ingin anda dengar.
Di sekitar pohon itu aku tidak menemukan kain cokelat yang menonjol keluar. Jadi aku menganggap belum ada kabar yang layak diberitahukan. Namun, keesokan hari tidak ada kabar yang datang darinya, dua hari kemudian, tiga hari kemudian. Aku mulai khawatir. Apakah dia mengkhianatiku? Aku mengharapkan kabar darinya di hari keempat, juga hari kelima. Namun tidak ada satupun kabar datang darinya. Aku mulai khawatir dan menceritakannya pada Leon, tapi Leon mengatakan padaku untuk tetap tenang, dan memberikanku semangat.
Pada hari keenam, aku kembali ke tempat itu, sebatang pohon mangga yang sudah tidak berdahan dan berdaun dengan ujung atas yang dipotong lancip. Akhirnya aku menemukannya, sehelai kain cokelat yang menonjol. Aku membuka kain itu dan didalamnya tertulis.
“Maaf membuat anda menunggu. saya berhasil meyakinkan Ayah saya. Kami akan mengunjungi keluarga anda untuk membatalkan pertunangan ini.”
Mataku meneteskan air, aku menangis, tapi aku tidak bisa berhenti tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku merasakan apa yang orang-orang sebut dengan tangisan kebahagiaan. Sesampai dirumah, aku tidak melihat Sebastian menunggu didepan pintu utama. Didalam rumah aku tidak merasa ada yang sedang menungguku, sepertinya kabar ini belum terdengar oleh ayah maupun yang lainnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur begitu nyenyak, bahkan hingga keesokan pagi aku terbangun begitu terlambat dari biasanya, meskipun tidak pernah sekalipun terjadi seperti ini sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan apa yang mereka sebut dengan terburu-buru karena takut terlambat. Aku mandi sekedar membasahi badan, memakai baju secepat kilat, membereskan buku dan lain-lain, lalu berlari secepat mungkin menuju sekolah. Untuk pertama kalinya aku merasakan panik karena dikejar waktu, bukan karena nyawaku berada dalam bahaya.
Sesampainya aku di pagar sekolah, bel masuk sekolah sudah selesai berbunyi dan gerbang sekolah sudah ditutup. Guru olahraga yang menjaga gerbang pagi ini dikenal sebagai guru yang tegas dan adil, akan menghukum siapa saja yang melanggar aturan sekolah, baik itu laki-laki atau perempuan, siswa biasa maupun siswa primadona atau jenius. Untuk pertama kalinya aku merasakan apa yang orang-orang sebut dihukum karena terlambat.
Sesampainya di kelas, aku meminta maaf pada guru yang sedang mengajar karena keterlambatanku, lalu aku dipersilahkan untuk duduk. Leon memberikan isyarat seperti biasa. Aku membalas dengan mengangguk. Tiba waktu istirahat, kali ini teman-teman mengerubungiku karena heran mengapa aku bisa terlambat. Tentunya, kerumunan itu tidak kunjung kelar hingga pulang sekolah.
Sepulang sekolah, tepatnya setelah kerumunan itu telah bubar, aku berlari, tidak lagi berlari-lari kecil, kini aku sungguh berlari, menuju pantai itu. Aku melihat sosok Leon yang seperti biasanya. Kini ketika aku sudah beberapa langkah darinya, dia akan mengangkat soda merah yang ia belikan padaku. Sepertinya aku tidak lagi bisa mengagetkannya.
“Jadi? Ada kabar gembira hingga membuatmu terlambat.” Ucap Leon sambil menyeruput soda merahnya. Sepertinya moodnya sedang tidak terlalu bagus.
“Tunanganku berhasil membujuk ayahnya. Nanti malam, dia dan ayahnya akan membatalkan pertunangan kami secara resmi.”
Leon tersenyum. Ia merasa senang dengan apa yang terjadi padaku. Namun, aku juga merasakan bahwa dia sedang merasa sedih akan sesuatu.
“Hey, jika pertunanganmu berhasil dibatalkan, tolong tepati janjimu.” Ucapnya dengan wajah yang begitu fokus kepadaku.
“Tentu saja.” Jawabku. Ia tersenyum sedikit mendengarnya. Lalu kami kembali menatap terbenamnya matahari. Kami berjalan pulang berdampingan hingga tempat kami berpisah. Kami mulai berjalan berlawanan arah.
“Marcella. “ ucap Leon tiba-tiba.
“Ya?”
“Aku akan pergi untuk menyelesaikan urusanku selama beberapa hari. Sekali lagi, tolong tepati janjimu.”
“Tentu saja” Jawabku dengan wajah tersenyum. Tapi, entah mengapa aku merasakan ada keraguan dalam hatiku. Namun aku tidak menghiraukannya. Dan itu, akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.
CHAPTER – IV : REGRET
Sesampainya di rumah, Sebastian langsung memintaku untuk mempersiapkan diri, karena James Arthur Bougenville, dan ayahnya akan datang. Seluruh pelayan sibuk untuk menyiapkan jamuan dan ruangan, mengingat James dan ayahnya memberi kabar secara mendadak.
Sesudah rapih berpakaian, aku diantar Sebastian ke depan pintu utama, disana sudah ada ayah yang menunggu dengan pakaian rapih. ia melirik kearahku, dan aku dapat memahaminya dari tatapannya, bahwa ia mengisyaratkan padaku untuk tidak berbuat kesalahan.
Tak lama kemudian, mereka datang menggunakan mobil mewah bermerk ferrari. Dari dalam sana, keluar James, dan seorang pria umur 30 sampai 40an dengan tubuh kekar dan rambut rapih yang berwarna cokelat kemerahan yang sebagian telah berubah putih. Ia memakai flat cap dan kemeja merah dilapisi jaket mantel abu-abu dan celana jeans hitam. Ia tidak lain adalah ayah dari James, George Arthur Bougenville.
“Selamat datang pada kediaman kami, izinkan saya menunjukkan jalan.” Ucapku dengan nada seramah mungkin. Lalu kami berjalan menuju tempat jamuan. Setelah beberapa saat, sampailah kita ke dalam aula besar yang ditengahnya telah disediakan meja makan. Kami berempat duduk disana dan berbasa-basi sebentar. Pelayan langsung membawakan hidangan, tidak sempat memberi mereka berdua waktu untuk berbicara serius. Kami makan hingga hidangan habis. tapi, meski mereka berdua terlihat seperti makan layaknya orang pada umumnya, aku dapat melihat bahwa tuan George makan terlebih dahulu dengan perlahan lalu melihat kearah hidangan James, setelah itu mengisyaratkan anaknya bahwa tidak apa-apa untuk memakannya. Apakah ini hanya perasaanku saja, ataukah memang benar ia sedang memeriksa apa ada racun didalamnya ?
“Jadi, ada perihal apa anda mengunjungi kami pada malam ini” ucap ayahku dengan wajah tersenyum. Mereka berdua berdiam sebentar, lalu tuan George melihat ayah dengan tatapan serius.
“Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. saya tahu ini mendadak, jadi saya minta maaf tidak mengabarkan sebelumnya.” Ucap tuan George.
“Tidak apa-apa, anda dapat mengatakannya.” Ucap ayah dengan wajah tersenyum.
“Saya ingin membatalkan pertunangan anak saya.” Balasnya. Ayah mematung beberapa saat.
“Apa maksud Anda?” Tanya ayahku masih tidak percaya.
“Sepertinya sebelum pertunangan ini diadakan, anak saya sudah memiliki seseorang yang ia cintai. James adalah anak yang sangat penurut, jadi saya pun baru mengetahuinya beberapa waktu belakang ini. Seperti yang kita tahu, masa depan anak kita adalah milik mereka, saya tidak akan memaksakan mereka dengan bayaran kebahagiaan mereka sendiri. Itulah mengapa kami meminta maaf sebesar-besarnya atas hal ini. Kami akan membayar kompensasinya, dan tentunya jika anda tidak keberatan, saya ingin terus bekerja sama bersama anda.”
Ayah terdiam sejenak. Dari tatapan ayah, ia terlihat seperti ingin sekali membantahnya, namun, aku dapat merasakan bahwa ia berusaha menahan diri, seakan-akan ia merasa takut. Ini kali pertama aku melihat ayah terlihat ketakutan.
“Tentu saja tidak. Senang dapat bekerja bersama anda.” Jawab ayahku sambil menjabat tangannya. Setelah itu kami mengantar mereka ke mobil mereka dan melihat mereka pergi.
“Marcella.” Ucap ayahku.
“Iya aya- AHH !” Ayahku menjambak dan menarik rambutku, menyeretku ke suatu tempat, yang aku tahu baik kemana. Ia terus menarik rambutku, mengabaikan jeritku, hingga kami sampai di ruangan berpintu besi berkarat itu. Ia melemparku kedalam begitu kuat hingga kepalaku terbentur cukup keras hingga berdarah. Ia lalu memasang rantai ditanganku, lalu mencabik-cabikku menggunakan cambuk.
“Kau pasti melakukan sesuatu kan?! katakan padaku yang sebenarnya! ” teriaknya sambil menyambukku. Tapi aku hanya menahan rasa sakit ini, membiarkan dia melampiaskan emosinya. Tak lama kemudian, dengan tubuhku yang sudah dipenuhi luka dan darah, bahkan aku tidak ragu untuk bilang bahwa orang biasa sudah lama mati karena ini. Akhirnya ia mulai sedikit tenang, lalu meninggalkanku dalam ruangan terkunci ini.
Ia bahkan tidak mengobatiku, aku hanya bisa beristirahat dan memulihkan tenaga, memfokuskan diriku agar tidak mati karena semua luka ini. Tentunya ketika aku memfokuskan diriku aku dapat mendengar suara obrolan penjaga diluar. Ayah mengurungku berhari-hari, dengan hanya memberi makanan yang sedikit dan mendekati basi. Mengingat tanganku diikat gantung seperti ini, penjaga harus menyuapiku, tapi tentunya mereka menyuapiku seakan-akan ingin cepat selesai.
Tidak ada tanda-tanda ayah akan mengeluarkanku dari sini, dan tentunya tidak banyak hal terjadi disini. Hingga akhirnya hari kelima, aku mendengar perbincangan kedua penjaga didepan pintu besi ini. Sedang terjadi kekacauan besar dikota. Badai hujan begitu lebat, tapi katanya banyak gedung tinggi yang tiba-tiba meledak. Selain itu, polisi dan tentara sudah lama siap berada di TKP, baku tembak terjadi antara beberapa grup berjubah hitam yang dianggap teroris dengan para polisi dan tentara.
Aku tiba-tiba teringat ucapan terakhir Leon, “aku akan pergi untuk menyelesaikan urusanku selama beberapa hari. Sekali lagi, tolong tepati janjimu”, juga bantuan yang ia minta dariku dari kesepakatan kita, “apabila aku pergi, tolong jaga adikku”, tapi ini hanya perasaanku saja kan? Ini hanya kebetulan kan? Kumohon, biarkan ini hanya menjadi perasaanku saja. Dengan tangan terkunci seperti ini, dan pakaianku yang sebelumnya digunakan untuk jamuan makan malam, aku tidak membawa alat untuk membantuku keluar dari sini. Ditambah lagi, ruangan ini memang didesain agar bahkan seorang pembunuh terhebatpun tidak akan bisa keluar dari sini tanpa peralatan khusus.
Aku hanya dapat menunggu, dan menghitung detik semenjak perbincangan kedua penjaga berlangsung. Aku terus berharap, agar seseorang dapat membantuku keluar dari sini. Kumohon, siapapun tolong bebaskan aku !
Tiba-tiba, pintu besi di hadapanku terbuka. Dari balik pintu itu terlihat dua sosok orang. Seorang wanita berambut hitam lurus panjang hingga ke pipi serta memakai masker, diikuti di belakangnya sosok yang kukenal sangat baik. Adikku, Froya Black. Seorang gadis albino berumur 15 tahun.
“Ange, lepaskan kakakku.” Ucapnya. Sepertinya orang didepannya adalah Ange yang biasa mengikutiku. Ini kali pertama aku melihat sosoknya. Tapi bukan waktunya mengagumi penampilannya.
“Froya, katakan padaku apa yang terjadi diluar sana!” tanyaku sambil kami berlari keluar.
“Cukup banyak. Dan aku ragu kita punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya. Jadi aku akan singkat saja. Musuh dari keluarga kita mulai bergerak.”
“Apa ayah sedang melawan mereka sekarang ?”
“Kamu pikir orang gila yang tergiurkan oleh harta akan repot-repot dengan hal itu?! Yang kumaksud disini adalah musuh keluarga kita dari pendahulu pertama. Namun kali ini, ia hanya mengirimkan anak buahnya.” Ucapnya. Aku terkejut dengan semua yang ia katakan. Froya, seorang gadis dengan rekor membunuh paling sedikit dalam sejarah keluarga ini berdasarkan umurnya sekarang, juga seseorang yang terlihat tidak memiliki ketertarikan pada apapun, mengetahui cukup banyak mengenai sejarah keluarga kita.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku.
“Aku ragu aku punya cukup kekuatan untuk menghentikan kegilaan ini, jadi aku hanya akan mencoba untuk menenangkan dan mengamankan situasi sebisa mungkin. Aku akan menyerahkan sisanya padamu.”
“Apa maksudmu dengan itu?”
“Mengapa kamu menanyakan hal yang jelas?! Karena kamu adalah pembunuh terkuat disini.” Jelasnya. Aku tidak mengerti apa yang ia maksud dengan itu. Setelah beberapa waktu kami akhirnya sampai di gudang persenjataan.
“Utamakan persenjataan trasional seperti pisau dan belati. Senjata api tidak akan mempan pada bos di pertempuran ini.” Lanjut Froya. Aku tidak paham mengapa bisa demikian, tapi kami tidak punya banyak waktu, jadi aku memasang persenjataan dengan mayoritas pisau kecil, dan belati. Kami bergegas keluar, dan dari taman rumah kami dapat melihat cahaya merah dan asap yang begitu besat. Ange memandu kami hingga terlihat sebuah motor, kami langung menaikinya dalam kecepatan penuh dengan bonceng tiga.
Sekitar lima menit kemudian, kami akhirnya sampai ke tempat kejadian. Tentara dan polisi masih belum berhenti saling mengadu tembak melawan orang-orang berjubah hitam. Pasukan khusus telah dikerahkan demi mengatasi mereka, namun masih belum ada yang bisa menerobos masuk ke dalam gedung.
“Aku dan Ange akan memberimu kesempatan untuk masuk. Jangan ragu dan pergilah.” Ucap Froya. Ia melemparkan tiga bom asap kearah pasukan jubah hitam.
“Ayo!” seru Ange. Kami bergegas lari kearah bom asap itu, Ange membantai semua orang yang menghalangi, memberikan aku jalan untuk masuk.
Aku berhasil masuk kedalam gedung ini. Aku menyalakan kacamata infrared, serta menembaki semua orang berjubah hitam yang menghalangi jalanku. Setelah beberapa saat, akhirnya aku sampai ke tangga darurat, aku menaiki tangga, satu lantai demi satu lantai, mengikuti instingku yang mengatakan bahwa musuhku ada di atas sana.
Akhirnya satu lantai lagi, pertempuranku akan dimulai. Aku membukanya dengan bergegas sambil melepas kacamata infrared-ku. Namun. . . aku membeku. Didepanku, postur tubuh, bentuk wajah, rambut, mata hingga kaki. Tidak salah lagi itu adalah Leon, yang kini, tertancap di perutnya sebuah belati besar oleh seseorang berjas putih didepannya.
Aku, kehilangan kesadaranku. Aku masih bisa melihat dengan jelas, aku bisa merasakan mataku terbuka begitu lebar, aku dapat merasakan kakiku melangkah, dan tangan kiriku yang menggenggam sebuah belati. Aku terus melangkah, semakin mendekati mereka. Aku bahkan ragu kalau aku yang menggerakkan tubuhku ini. Dan ketika aku sudah berada dibelakang pria berjubah putih itu, Leon menyadari keberadaanku dan terlihat cukup kaget. Tanganku bergerak dengan sendirinya, memotong bersih leher orang berjubah putih itu.
Sesaat kemudian, aku mendapatkan kesadaran ku kembali, dan kulihat disana, Leon terbaring tidak berdaya dengan belati besar tertancap di perutnya
“Leon !” Teriakku langsung menghampirinya. Lalu aku sedikit mengangkat kepalanya dan mencoba menutup pendarahan diperutnya. “Leon, bertahanlah”
Leon terbatuk-batuk, lalu ia sedikit tersenyum. “Haha, tidak kusangka aku tidak menyadari keberadaanmu hingga saat-saat terakhir itu. Meskipun aku sudah berlatih cukup keras untuk menyadari seluruh keberadaan di sekelilingku.”
“Hey Leon, jangan banyak bicara, aku akan mencoba menutupi pendarahanmu. Jangan khawatir bala bantuan sebentar lagi akan datang.” Ucapku sambil membungkus perutnya dengan semua perban yang kubawa dari emergency aid-ku.
“Tidak perlu repot-repot. . . . lubang diperutku ini, sudah mustahil untuk disembuhkan.”
“Berhenti mengatakan omong kosong itu !” teriakku sambil meneteskan air mata “kumohon, bertahanlah.”
Aku mengatakannya, tapi aku pun sudah tidak tau harus bagaimana.
“Hey, penglihatanku mulai buram, bisakah kau mendengarkan perkataanku.” Ucap Leon dengan mata yang semakin menyipit. Aku mengangguk sambil meneteskan air mata dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.
“Kumohon jaga adikku, ia tidak tau apapun yang terjadi.”
Aku mengangguk.
“Aku menuliskan semua yang terjadi padaku dalam diary yang kusembunyikan dibawah meja belajar di kamarku.”
Aku mengangguk lagi. Ia tidak mangatakan apa-apa untuk sesaat.
“Dang it, ini bukanlah apa yang ingin kukatakan. . . . hey Marcella.”
“Ya.” jawabku.
“Terima kasih untuk segalanya dan maaf tidak bisa berbuat banyak padamu.”
“Akulah yang seharusnya berterima kasih bodoh. Jangan meminta maaf.”
“Hey.” Ucap Leon dengan suara yang semakin mengecil. Ia mengulurkan tangannya keatas. Aku menggemnya dengan kedua tanganku.
“Ya”
“Aku. . . . mencintaimu. . . . dari lubuk hari terdalamku.”
Ia tersenyum, tidak lagi berkata-kata, genggaman tangannya sudah melemas, dan aku tidak lagi merasakan denyut nadinya. Aku menangis, tangisan yang begitu keras yang pernah aku lakukan seumur hidupku, sambil memeluk begitu erat tubuhnya yang semakin mendingin dan kaku. Hujan turun begitu deras malam ini.
CHAPTER – V : A STORY
Seperti yang ia wasiatkan, aku mengunjungi rumahnya untuk bertemu dengan adiknya, Francis Leona. Gadis berumur 10 tahun dengan rambut hitam panjang yang lurus hingga ke punggung. Sepertinya ketika Leon pergi tadi malam, ia menitipkan adiknya ke tetangga sebelah.
Rumah Leon hanya berupa rumah berlantai dua seluas tujuh puluh meter persegi. Aku tidak memiliki kunci rumahnya, jadi aku membuka paksa jendelanya. Aku menaiki tangga menuju lantai dua. Lalu di depanku adalah kamar tidur mereka. Aku memasukinya, dan sesuai katanya, di bawah meja belajar aku menemukan buku harian yang cukup tua. Sepertinya dia menggunakannya sejak kecil dulu.
Aku membuka dan membaca buku itu dikursi yang sepertinya biasa digunakan oleh Leon.
“5/8/2009 – aku mendapatkan buku harian ini dari ayah sebagai hadiah ualng tahunku. Aku sangat senang sekali. Aku akan menulis berbagai hal menyenangkan dibuku ini. Hingga aku tua nanti.”
Aku menangis tidak bisa menahan air mataku. 5 Agustus, tidak lain adalah kemarin, dan tadi malam, tanggal yang sama dimana ia kehilangan nyawanya.
Aku menenangkan diriku dan melanjutkan membaca tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Terkadang aku tertawa karena tingkahnya yang begitu polos, terutama ketika ia sedang menceritakan kekonyolan dengan sahabat baiknya, Roan. Kesehariannya terisi penuh dengan kesenangan, hingga akhirnya. . . .
“5/4/2014 – Roan mengajakku ke suatu tempat yang rumornya sangat menyeramkan. Namun karena hari itu aku sedang ada acara keluarga aku tidak bisa ikut bersamanya. Sepertinya dia akan tetap datang ketempat itu meskipun seorang diri.”
“6/4/2014 – aku ingin mengajak Roan bermain, tapi ibunya mengatakan ia sedang tidak ada dirumah. Katanya ada teman lainnya yang mengajaknya duluan. Aku penasaran siapa teman lain Roan itu, apakah kami akan bisa bermain?”
“7/4/2014 – Roan bertingkah aneh. dia yang kelihatannya selalu ceria, kini berlagak begitu dingin kepada siapa saja. Termasuk juga padaku. Aku mencoba untuk mengajaknya main, tapi dia menolak dengan marah. Dia kan tidak seharusnya marah.”
“8/4/2014 – Roan menjadi pendiam dan pemarah. Dia sering kali membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat pelan hingga aku tidak bisa mendengarnya. Ketika aku mau berbicara dengan teman sekelasku, ia akan marah-marah. Apa sih masalahnya.”
“11/4/2014 – Roan bertengkar dengan teman sekelasku karena aku bercanda ria dengannya.”
“14/4/2014 – Aku dan Roan dikucilkan di kelas.”
Keseharian yang ia tulis berlanjut seperti itu, dan semakin memendek setiap harinya. Bahkan ada banyak hari ia hanya menuliskan “seperti biasa”. Biasanya ia menuliskan dua hingga tiga baris di setiap harinya, kini setiap baris ia akan muat untuk menulis dua hingga tiga tanggal. Aku terus melihatnya menulis begitu singkat hingga halaman berikutnya, aku terpaku dengan apa yang terjadi disini.
“5/8/2014 – Roan membunuh kedua orang tuaku dengan pisau dapur ditangan kanannya, dan senyuman lebar di wajahnya yang penuh bercak darah. Aku berlari ke dapur, mengambil sebuah pisau dapur dan bertarung dengannya. Tubuhku terluka cukup banyak dan dalam, darahku banyak mengalir keluar, Begitu juga dengannya. Ia melarikan diri ketika mendengar suara sirine polisi. ’Lima, tidak, enam tahun, aku akan kembali dalam enam tahun dan menghancurkan kota ini. Ah, tapi mungkin dua orang, akan kubiarkan kau memilih dua orang untuk tidak kubunuh, bye-bye, Hahahah !’ bilangnya. Semenjak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi”
“6/8/2014 – aku dibawa ke kantor polisi. Sepertinya mereka tau apa aku bukanlah pembunuh orang tuaku. Mereka menanyakan apa yang terjadi, jadi aku menulis semua yang terjadi kemarin didalam buku ini.”
“7/8/2014 – aku dipertemukan dengan adikku Leona. Aku memeluknya sangat erat sambil menangis. polisi bilang ia sedang main dirumah nenek ketika insiden itu terjadi.
“13/8/2014 – seseorang bernama Francis Hiltz yang mengaku sebagai pamanku datang menemuiku. ia hanya menanyakan apa yang terjadi, kemudian memberikan sebuah kartu pengenal yang didalamnya tertuliskan nomor handhone-nya yang bisa dihubungi.”
“20/8/2014 – aku dan adikku dikembalikan kerumah nenek.”
“aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi. Enam tahun lagi, tunggu saja kau Roan!”
Selama lima tahun itu, ia bercerita tentang usahanya demi dapat melawan balik dan menghentikan Roan. Dimulai dari meminta uang dari neneknya untuk dibelikan handphone, lalu menghubungi nomor pamannya. Kemudian dia berlatih berbagai macam ilmu bela diri, belajar kalkulasi dan estimasi saham, mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang untuk membiayai prajurit bayaran, persenjataan, dan lainnya. Tentunya ia menyembunyikan segalanya dari adiknya, dan menjadi murid pendiam yang biasa-biasa saja agar tidak ada orang sekitarnya yang menjadi korban.
Lalu. . . .
“06/01/2020 – seorang murid baru datang. Entah kenapa, aku merasa kalau kita memiliki nasib kelam yang berkemiripan.”
“07/01/2020 – murid itu datang setelahku. Meskipun aku datang ke sekolah begitu pagi. Ia menatapiku. Apa yang sebenarnya ia inginkan.”
“08/01/2020 – ia terus melakukannya, mungkinkah ia adalah mata-mata Roan ?”
“09/01/2020 – aku berangkat lebih lambat dari biasanya, dan pergi kegedung belakang sekolah setiap kali jam istirahat. Aku tidak merasakan dia mengikutiku.”
“17/01/2020 – aku menemukannya telah diam-diam mengintipi ku dari balik tembok. Aku sama sekali tidak merasakan keberadaannya. Tapi ia hanya menyatakan cintanya. Untung saja, dia bukan mata-mata dari Roan.
“01/06/2020 – hari kuisioner. Aku melihat murid pindahan itu membuat ekspresi muka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Karena penasaran, aku mengikutinya. Dan tak kusangka aku akan menghiburnya selagi ia menangis. sepertinya ia ingin membatalkan pertunangannya. Jadi kami membuat kesepakatan, aku akan membantunya mencari solusi, dan ia akan menjaga adikku jika aku mati nanti.”
“25/07/2020 – hari ini Marcella bertemu dengan tunangannya, entah kenapa aku merasa tidak tenang
“26/07/2020 – Marcella mengabarkan kalau tunangannya mau membantunya. Namun entah kenapa, aku merasa sedikit iri ketika Marcella bisa berbicara akrab dengannya.”
“27/07/2020 – Marcella merasa ragu karena tidak ada kabar dari tunangannya. Aku menyemangatinya karena firasatku mengatakan tunangannya itu dapat dipercaya. Tapi entah kenapa aku lagi-lagi merasa iri karena Marcella menunggu kabar dari tunangannya.”
“30/07/2020 – Marcella semakin merasa ragu, tapi aku menegaskan kepadanya untuk tenang dan percaya kepadanya. Tapi dadaku terasa sesak ketika menyuruhnya untuk percaya kepada tunangannya.”
“31/07/2020 – Marcella mengabarkan kalau ia sudah mendapat kabar dari tunangannya, bahwa pertunangannya akan dibatalkan. Aku merasa lega dan senang. Tapi besok, aku harus mempersiapkan diri untuk pertempuran terakhirku.”
“01/08/2020 – aku membaca ulang buku harianku. Haha, sepertinya tanpa kusadari, aku telah jatuh cintah padanya. Aku tau ini tidak ada gunanya lagi, tapi aku berharap, aku bisa bertemu dengannya lagi untuk terakhir kalinya.”
“Bodoh. . . . Leon kamu bodoh” bisikku sambil mengusap air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Masih tersisa beberapa halaman dari buku ini. Aku membalik halaman demi halaman, hingga dihalaman terakhir, tertuliskan di baris paling bawah
“untuk halaman kosong yang tersisa, kuserahkan padamu, orang yang paling kupercayai.”
Keesokan harinya, adalah hari pemakaman korban-korban dari insiden tadi malam. Di sana aku menemani adik dari Leon, Leona. Dan mulai dari hari ini, aku akan merawatnya, menjaganya, dan melindunginya. Tapi sebelum itu, masih ada urusan yang perlu kuselesaikan.
Malam hari, di sebuah rumah megah bertingkat lima dengan taman seluas lima ribu meter persegi yang semua orang akan langsung iri melihatnya. Bunga-bunga indah bermekaran, air mancur di tengah taman yang memantulkan cahaya bulan, arsitektur dan dekorasi yang harganya tidak bisa diperkirakan. Kini, aku mewarnainya dengan warna merah kental, dan mayat dari orang-orang yang kuanggap layak mati. Pengawal, pembunuh bayaran dan bahkan Sebastian, salah satu pembunuh tercerdas dan terkuat nomor dua setelah ayah tidak dapat memberikan banyak perlawanan.
Pertarunganku dengan ayah, berlangsung cukup lama, mungkin butuh satu jam bagiku untuk membuatnya lengah dan berhasil memotong kedua kakinya, lalu aku memotong-motongnya, mulai dari jemarinya, lalu tangannya, sepotong hingga sepotong, lalu aku memotong lidahnya, mencongkel matanya, hingga akhirnya aku memotong lehernya. Aku melangkah, menuju sebuah ruangan terakhir yang merupakan kamar adikku, Froya Black.
Aku menendang pintunya hingga hancur terpental. Didepanku berdiri Ange yang siap bertempur melindungi Froya. Aku mengarahkan belatiku yang penuh darah kearah mereka berdua.
“Katakan yang sebenarnya, apa kau sudah mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi waktu itu. Apa kau tau apa yang akan terjadi pada Leon ?!” Tanyaku dengan nada mengancam.
“Leon. . . jadi itu adalah nama lelaki itu. Ya, aku tahu dari masterku, dan dia mengetahuinya dari kenalan masternya, jadi dia tidak mengetahui kalau namanya adalah Leon. Tapi masterku bilang padaku, untuk menyerahkan misi ini pada lelaki itu dan membersihkan sisa kekacauan.”
“Katakan padaku siapa mastermu dan siapa musuh kita sebenarnya yang kau katakan waktu itu”
“Tentu saja, tapi berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, jangan sampai apa yang kukatakan ini terdengar oleh orang lain, terkecuali oleh orang-orang yang sangat kamu percayai.”
“Ya, aku berjanji.”
“Nama masterku adalah master Yue-ying Lin, murid kedua dari master Luna. Sayangnya aku belum bisa memberitahumu mengenai organisasi kami, tapi aku dapat memberitahu mu satu hal ini. Kami memiliki satu tujuan, yaitu membasmi orang-orang jahat yang kami sebut sebagai The Root. Seseorang yang merupakan target Leon, tidak lain adalah anak buah salah satu dari the seven big roots. Atau istilah sederhananya, anak buah salah satu dari 7 bos besar the root.”
“Dan kau berada dipihak siapa?”
“Tentu saja, lawan dari the root.”
“Apa yang akan kau lakukan dari sekarang.”
“Bergantung padamu. Jika kamu ingin meninggalkan keluarga ini, maka aku akan mengurusnya. Jika kamu ingin mengurus keluarga ini, maka aku akan meninggalkannya.”
“Satu lagi, sejak kapan Ange bekerja untukmu?”
“Sejak sebelum ia bekerja untuk ayahku. Aku menyelamatkannya ketika ia sedang sekarat. Kini dia adalah salah satu orang yang paling kupercayai. Tentunya, dia masih tidak bisa menahan nafsunya terhadap uang. “
“Haah.” Aku menghela nafas dan menurunkan belatiku “aku serahkan rumah ini padamu.”
“Baiklah. Apabila kamu perlu sesuatu, jangan sungkan untuk meminta bantuanku.”
“Froya, kau tidak akan menjadi musuhku kan?”
“Selama kamu tidak memihak kepada the root, dapat kupastikan tidak.”
“Kalau begitu selamat tinggal, ku serahkan padamu untuk membersihkan kekacauan di rumah besar ini.”
“Baiklah, kakak.”
Aku melompat keluar jendela, dan berlari meninggalkan rumah itu tanpa menengok kebelakang.
satu bulan kemudian. . . .
Kini, aku memulai kehidupan baruku. Melanjutkan kehidupan sekolahku juga merawat Leona sambil kerja paruh waktu untuk menafkahi kehidupan kami.
Namun ketika malam tiba, aku akan berubah menjadi menjadi pembunuh bengis berdarah dingin dengan baju serba hitam, yang membunuh dan membantai semua orang yang berhubungan dengan the root. Semua ini kulakukan demi menemukannya, the seven big roots, Lust
Marcella – The end
CHAPTER – 5,5 : AFTER STORY
Empat tahun berlalu, aku terus memburu mereka hingga aku dikenal sebagai pembunuh hitam, Mr. Black. Tak lama setelah aku mendapat julukan itu, aku bertemu dengan seseorang yang juga memburu the root dan kami sepakat untuk bekerja sama. Grup kami bertambah hingga sekarang berjumlah empat orang ditambah satu A.I.
Lonesky pemimpin kami yang ceroboh tapi merupakan yang terkuat di pertempuran jarak dekat, Vesna dengan jebakan benang setajam siletnya, Prof. Neverie dengan kejeniusannya dalam hacking dan menciptakan teknologi serta persenjataan canggih, bersama Artificial Intellegent-nya yang bernama Axisnetto, atau biasa kami panggil Neo, dan aku, Mr. Black dengan tembakan jitu dari jarak yang sangat jauh. Bersama-sama, sebagai aliansi luka hitam, kami akan memburu dan membasmi the root.
Tapi itu akan menjadi cerita di lain waktu.