A Short story written by LoneSky
supported by : Lemma and TheBlackscar Creative Studio
Ini adalah sebuah karya fiksi. Nama tokoh, cerita/peristiwa, merupakan unsur fiktif belaka.
Hari ini adalah hari pertamaku pindah ke sekolah baru. Pagi hari yang begitu cerah diikuti udara sejuk. Aku melangkah menuju kelas baruku, diiringi bel masuk sekolah. Ibu guru menyuruhku masuk dan kemudian mempersilahkanku untuk memperkenalkan diri.
“Namaku Marcella Black, aku berasal dari Amerika. Aku pindah ke sekolah ini karena pekerjaan ayahku. Aku harap kita bisa berteman baik,” ucapku dengan wajah tersenyum.
Aku mendapat tempat duduk paling belakang dekat dengan jendela. Teman dudukku, seorang pria berkulit sawo matang, rambut hitam agak panjang hingga tengkuk dan menutupi keningnya, matanya seperti kurang tidur, badan yang tidak begitu tinggi, dan dari cara ia bergerak, sepertinya ia seorang penyendiri. Setelah aku menempati tempat dudukku, pelajaran dimulai.
Setelah dua setengah jam belajar, akhirnya bel istirahat berbunyi. Seperti sekolah-sekolah tempat aku pindah sebelumnya, teman-teman sekelasku langsung mengerumuniku dan mengenalkan diri mereka serta bertanya banyak hal, mengingat aku berasal dari luar negeri. Tentunya aku menjawab mereka satu demi satu dengan wajah tersenyum. Tapi, murid yang duduk di sampingku itu tetap duduk di sana menatap buku tanpa ada ketertarikan terhadap sekitarnya.
“ah dia-” ucap salah satu orang kepadaku karena melihatku sempat memerhatikannya “Namanya Francis Leon, semenjak kelas satu dia sudah terkenal sangat pendiam dan tidak mau bergaul dengan siapapun. Meskipun dia selalu memantengi buku, nilainya tidak pernah jauh dari KKM.”
Meski dia adalah orang yang seperti itu, aku tidak tau mengapa, tapi sesuatu menarik perhatianku terhadapnya, seakan akan kita memiliki suatu kemiripan yang begitu dalam, yang kami tidak ingin diketahui oleh siapapun.
Sehari kemudian, aku mulai terkenal sebagai murid pindahan cantik berkulit putih mulus dan berambut pirang yang begitu ramah dan lemah lembut. Saat pelajaran olahraga, aku mencetak waktu yang menandingi klub pelari, dan pada soal tes kemarin, aku mendapat nilai yang sempurna meskipun beberapa soal bisa dibilang cukup sulit. Selama seharian penuh, satu demi satu murid mencoba menembakku. Tentunya aku menolak mereka semua.
Keesokan hari, demi menghindari kerumunan murid-murid di aula kelas, aku datang lebih cepat dari biasanya. Di dalam kelas belum ada yang datang kecuali murid penyendiri itu. Sambil menunggu teman-teman lainnya, aku menatapi kelas, namun tanpa kusadari, tatapanku terfokus kepada pria itu. Disaat itulah aku menyadari, meski matanya dipenuhi konsentrasi tinggi, tapi tatapannya terlihat begitu hampa, seakan-akan ia berada dalam penderitaan dan keputusasaan yang begitu dalam, —sama seperti diriku. Tak lama kemudian murid-murid mulai berdatangan, dan hariku dimulai seperti biasa.
Hari-hariku pun berlalu seperti biasa, bergaul dengan teman-temanku, belajar dalam kelas, dan lainnya. Terkadang tanpa kusadari, kudapati diriku menatapi Leon, bahkan hingga salah satu temanku mengira bahwa aku jatuh cinta padanya. Tentu saja itu tidak mungkin terjadi bukan? aku hanya tertarik padanya karena kemiripan yang sepertinya kita miliki, . . . . dan lagipula, —ini adalah aku yang kita bicarakan.
Dua minggu telah berlalu, hari-hariku tidak banyak berubah, hanya saja terkadang kudapati Leon melirik ke arahku dengan wajah kesal ketika aku sedang menatapinya. Beberapa hari kemudian, setiap waktunya istirahat ia akan pergi ke suatu tempat seorang diri. Sepertinya dia mencoba untuk menghindariku.
Seperti biasa, teman-temanku mengerumungiku dan mengobrol denganku. Tapi entah kenapa, aku tetap merasa, . . kesepian. Hari demi hari, aku tidak melihatnya Ketika waktu istirahat. Aku mencoba untuk mengabaikannya . . . bukan . . . aku mencoba untuk menolak perasaan ini. Mungkin karena ini adalah kali pertama aku merasakan hal ini. Aku merasa, . . . begitu terganggu dengan ini. Aku tidak menyukai ini. Aku harus segera mengatasinya.
Tiba keesokan hari, dan kali ini, aku memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam. Kemudian sampailah di belakang gedung sekolah, dimana tidak ada siapa-siapa selain dirinya disana. Seperti yang biasa ia lakukan ketika istirahat, membaca buku dan memakan sepotong roti.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Tanpa kusadari, aku telah menontoninya secara diam-diam dari balik tembok. Sungguh, apa yang sebenarnya kulakukan! Aku langsung bergegas kembali ke kelas agar tidak ketahuan telah diam-diam menontoninya. Aku malu pada diriku sendiri! mengapa aku tidak bisa mengendalikan diriku dengan hal apapun yang berhubungan dengan dia?!
Namun . . . lagi-lagi aku melakukannya di jam istirahat kedua, lagi di keesokan hari, bahkan tanpa kusadari, aku telah melakukannya hingga seminggu berturut-turut. Teman-temanku bertanya-tanya mengapa aku suka tiba-tiba menghilang di jam istirahat, namun aku hanya memberitahu mereka bahwa aku sedang memiliki urusan pribadi.
Hal ini terus kulakukan hingga suatu hari, karena aku sudah terlalu sering melakukannya, aku lengah. Hari itu, tepat setelah istirahat kelas kami akan diajari oleh guru paling killer disekolah. Bel masuk berbunyi, aku hanya menoleh kearah jalan menuju kelas dan tidak segera bergegas ke kelas. Tiba-tiba. . .
“Hey. . . apa yang kau lakukan disini ?!” tegur Leon. Aku menoleh kearahnya dengan panik. Wajahnya pucat dengan alis mengerut dan mata melotot sambil menggertakkan gigi, seakan-akan ia marah, panik dan ketakutan secara bersamaan. Kami berdua terpaku saling menatap mata, keringat kami mengalir dan menetes dari kepala hingga dagu.
“Hey, jawab aku! Apa yang kau lakukan di sini, dan sudah berapa lama kau disini ?!” tanya dengan nada yang cukup mengintimidasi. Aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang selalu terlihat tenang dan pendiam bisa menjadi seperti ini.
“Bi- bisakah kau tidak melihatku dengan wajah seperti itu,” jawabku. Lagi-lagi, mulutku bertindak sebelum sempat berpikir. Namun hanya dengan mengatakan itu, meski tidak banyak berubah, wajahnya menjadi sedikit lebih tenang.
“Baiklah, kini jelaskan padaku,” ucapnya setelah menghela nafas.
Jantungku berdetak begitu kencang, tubuhku terasa begitu panas, aku telah melewati begitu banyak situasi dalam hidupku, namun aku tidak pernah merasa sepanik ini seumur hidupku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan disini. Aku harus menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak bermaksud buru-buru.
“ ma- MAU KAH KAU MENJADI PACARKU ?!” Ya, . . . akupun tidak paham mengapa aku mengatakannya. Someone please kill me.
Untuk kedua kalinya mulutku bergerak lebih cepat dari otakku. Aku menundukkan kepala, Mataku melihat ketanah tidak mampu menatap langsung matanya, tubuhku semakin memanas, keringatku mengalir deras, tanganku mengepal begitu keras, menunggu jawaban darinya.
“sigh, . . .” Leon menghela nafas. “Ternyata begitu. Maaf, tapi aku tidak mau berpacaran sekarang,” jawabnya sambil membalik badan dan berjalan meninggalkanku.
Haha,.. jadi seperti ini rasanya ditolak ya. Rasa sedih, frustasi, dan lainnya, terjadi secara bersamaan. Ingin rasanya aku menangis, tapi sudah lama aku tidak bisa menangis. Aku hanya bisa tersenyum sambil meratapi tanah dan bayangan gelapku sendiri.
Tapi, . . . mengapa setelah aku mengatakan itu, dia seperti merasa lega? Dengan menahan dan menyembunyikan rasa bingung, diikuti dengan patah hati dan sedih ini, aku bergegas kembali kelas.
Keesokan hari, begitu juga dengan hari-hari berikutnya, aku kembali pada aktivitas yang biasa ku lakukan biasanya, hanya saja kini aku tidak lagi menatapi Leon, atau lebih tepatnya, aku tidak lagi bisa membawa diriku untuk melihatnya. Meskipun seharusnya, aku tidak lagi memiliki emosi seperti ini. Mengetahui hal ini, Leon tidak lagi keluar kelas ketika jam istirahat, namun sepertinya dia tidak merasa terganggu dengan apa yang terjadi sebelumnya.
Tanpa kusadari, 6 bulan telah berlalu, dan kami sudah melewati ujian tengah semester. Tidak ada hal-hal signifikan terjadi setelah kejadian itu hingga sekarang. Tinggal 6 bulan lagi, dan kita akan naik ke kelas 3. Tradisi dari tahun ke tahun di sekolah ini, setelah libur ujian tengah semester, setiap siswa akan mengajak orang tua atau walinya untuk berdiskusi kepada wali kelas untuk membicarakan karirnya. Tapi, —takdirku sudah lama ditentukan oleh mereka, lalu apa gunanya ?
Ibu guru membagi selebaran kertas yang berisikan kuisioner karir impian kami. Setelah satu jam waktu mengisi, ibu guru Kembali mengumpulkan selebaran kuisioner, beberapa kali dia mengomeli anak- anak karena mengisi dengan tidak serius. Namun, Ketika ibu guru datang untuk mengambil lembaranku, ia terlihat cukup terkejut.
“Marcella. . . mengapa kamu mengosongkan semuanya?” tanya ibu guru dengan lemah lembut.
Aku terdiam, tidak menjawab. Aku hanya menatap meja kosongku, tidak dapat melihatnya langsung. Aku dapat merasakan Leon melirik kearahku, tapi aku tetap terdiam. Beberapa siswa melihat kearahku, kebingungan. Lalu ibu guru mengembalikan lembaranku.
“Marcella, ibu guru akan menunggu hingga besok. pikirkanlah apa yang ingin kamu lakukan untuk masa depanmu. Ingatlah, masa depanmu adalah milikmu.” ujar ibu guru.
Aku tidak meyukai ini, apakah ibu guru pilih kasih padaku hanya karena aku adalah primadona disekolah ini sekarang? meskipun dia mengomeli murid-murid yang lain? Tanpa kusadari, aku menolehkan wajahku kearah ibu guru, ia terlihat tersenyum, senyuman yang begitu lembut dan tulus, tanpa ada tanda-tanda maksud buruk sedikitpun, bukan karena ia merasa kasihan padaku, tapi karena dia tahu itulah yang harus dilakukan seorang guru kepada muridnya. sepertinya, dia menyadari raut wajahku yang tidak begitu, “normal” seperti biasanya.
Melihat wajahnya yang begitu tulus, aku merasa tidak ingin mengecewakannya. . . . tapi, aku hanya bisa menganggukkan kepala, —karena aku tahu hidupku lebh dari siapapun.
. . . .
Atau mungkin tidak.
Untuk pertama kalinya, aku merasa ragu kepada diriku sendiri.
Sepulang sekolah, tidak seperti biasanya dimana aku langsung pulang kerumah, kini aku menyelusuri jalanan, tanpa tahu mau kemana, aku hanya terus berjalan, hingga berjam – jam, kemudian tanpa kusadari, sampailah aku dipesisir pantai, hari mulai semakin gelap. Aku duduk disana, sambil menyaksikan terbenamnya matahari.
Kini, langit telah berubah menjadi gelap gulita, dilapisi kabut polusi tanpa dihiasi bintang-bintang yang indah. Namun, aku tidak bergerak dari sana, aku hanya duduk terdiam dan terus melihat kearah langit hitam itu, tanpa memikirkan apapun. Mungkin ini, adalah kali kedua, pikiranku terasa begitu hampa.
Tiba-tiba sesuatu yang begitu dingin menyentuh pipi kananku hingga membuatku terkejut.
“Hey, minumlah,” ucap Leon yang tiba-tiba datang entah darimana yang sedang memegang 2 kaleng soda dingin. Sepertinya pikiranku begitu terganggu hingga tidak menyadari kehadirannya. Setelah aku menerima soda darinya, ia duduk disampingku sambil meminum soda miliknya.
“Ada apa ini? Merasa kasihan dengan gadis yang kau tolak?” tanyaku yang lagi-lagi kukatakan tanpa pikir panjang.
“Entahlah, sepertinya tanpa sadar aku masih memiliki hati nurani,” jawabnya. “Jadi, apa masalahmu?” tanyanya dengan tatapan yang sepertinya tidak begitu hampa seperti biasanya.
“Apa pedulimu?” jawabku.
“Bukankah sudah kujawab sebelumnya, tapi jika aku harus berkata jujur, mungkin karena aku merasakan suatu kemiripan diantara kita berdua.”
“Huhu, sepertinya kita merasakan hal yang sama ya?” Aku tertawa kecil, tanpa kusadari, moodku sedikit membaik. “hey, bisakah kamu menjaga rahasia? Aku akan memberitahumu karena ini adalah kamu. “
“Tentu saja” jawab Leon dengan wajah tulus.
“Orang tuaku tak lama lagi akan menunangkanku dengan seorang anak dari temannya yang sangat kaya. Tentunya, ini akan menjadi pernikahan politik dan itu sudah lama direncanakan dan ditetapkan, tentunya jika itu terjadi aku tidak mungkin bisa memiliki kebebasan lagi. Ya itu bukan berarti aku memilikinya sejak awal. . . Tapi yang ibu guru lakukan tadi, apa yang ia katakan mengingatkanku pada sepucuk harapan yang dulu pernah kumiliki,” jelas ku dengan suara tersendat-sendat seperti menahan tangis. “Hey Leon, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?”
“Begitu ya, aku paham, . . .” jawabnya sambil meminum soda “Hey, katakan padaku, berapa nyawa yang bisa kau selamatkan jika kau melakukan apa yang orang tua mu inginkan?”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Cukup jawab pertanyaanku”
“Mendekati nol, dan mungkin. . . . minus.”
“Kalau begitu kau tidak perlu melakukannya bukan? Aku tidak tau begitu dalam tentang masalah keluargamu, tapi aku tau, secara psikologis kau takut untuk melawan keluargamu sendiri.”
Aku terdiam tidak bisa membantahnya.
“Hey, mari kita buat kesepakatan,” lanjut Leon.
“Apa maksudmu ?”
“Aku akan membantu mengatasi masalahmu dengan bagaimanapun aku bisa, sebagai gantinya aku ingin kau membantuku.”
“Aku tidak ingin melibatkanmu dalam ini, ini terlalu berbahaya.”
“Jangan khawatir, aku tahu apa yang kulakukan.”
“Aku tidak yakin aku bisa melakukan ini.” Suaraku semakin tersendat-sendat.
“Aku berada dibelakangmu untuk membantu.”
“Mengapa kau melakukan sejauh ini untuk menolongku ?” Mataku semakin buram.
“Karena aku juga membutuhkan bantuanmu.”
“Hey, apakah ini adalah hal benar yang harus kulakukan?”
“Percayalah pada dirimu sendiri.” Leon berdiri lalu berlutut kedepanku dan menghadapkan wajahnya kepadaku. “Hey, ingatlah, masa depanmu adalah milikmu. Kau adalah tokoh utama dalam hidupmu sendiri. Jadi, Raihlah apa yang kau inginkan, kau masih memiliki kesempatan.”
Tetesan air mata mengalir keluar dari mataku. Setetes, dua tetes, kemudian begitu deras. “Huwaaa !” Aku menangis begitu kencang, sambil menyenderkan kepalaku kepundaknya. Ia mengelus kepalaku tanpa mengatakan apapun hingga air mataku mengering.
Setelah tenang, kami duduk berdampingan, sambil menatapi langit malam.
“Hey Leon, kau berjanji akan membantuku dengan bagaimanapun kau bisa kan?” tanyaku sambil mengusap mata.
“Aku tidak akan menarik ucapan dan janjiku, ya, kecuali jika kau melakukannya duluan.”
“Kalau begitu” aku menengok ke arahnya. “Hey, jadilah pacarku.”
“Kau masih kukuh dengan hal itu. . .” balas Leon dengan wajah sedikit jengkel.
“Tentu saja. lagi pula, itu akan menjadi langkah awal dan senjata utama untuk membatalkan pertunangan itu. Tentunya aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlalu melibatkanmu.” Jelasku panjang lebar. “Jadi. . . bisakah kamu memberikan jawabanmu ?”
“hhhmm. .” Leon memalingkankan wajah. Lalu setelah beberapa saat ia menoleh ke langit menghela napas, kemudian kembali menghadap ke arahku. “Baiklah, jika kau tidak apa-apa denganku.”
Aku tersenyum, begitu lebar dan lebih Bahagia dari kapanpun selama seumur hidupku “ya”.
Malam pun berakhir dan tiba esok hari. Sesuai janjiku dengan ibu guru, aku mengumpulkan lembaran kuisioner yang telah terisi.
“Kamu ini benar-benar murid nakal, ya,” jawab ibu guru dengan wajah tersenyum.
“Yap.” jawabku dengan senyum lebar.
. . . .
Tapi,.. bantuan yang ia minta dariku, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
To be continue. . . . .