Kultusan

Sore ini ibu memasak opor ayam kesukaanku. Wanginya semerbak menguar ke setiap sudut rumah. Cahaya matahari sore mendesak masuk setiap celah rumah dengan warna jingga kekuningannya. Wajah ayah nampak muram sejak kemarin. Aku tidak tahu persis apa yang sedang membelenggu pikirannya. Namun akhir-akhir ini sejak ayah pulang dinas, Ia tak pernah terlihat sumringah berada di rumah. Pagi tadi ia juga bercerita dengan mata yang tersulut emosi, katanya teman satu kantornya tak kunjung menepati janji. Perihal hutang-piutang rupanya menjadi alasan tensi ayah sedikit meninggi. Demikian juga dengan Ibu, wajahnya sayu dan menandakan kecemasan. Seakan pikirannya melayang jauh berkelana mencari jawaban atas kegundahan di hatinya.

Minggu sore itu ada ‘sedikit’ kejadian yang terjadi begitu cepat. Mungkin pada kurun waktu dua dasawarsa ke depan atau bahkan hingga ubanku mulai bermunculan, aku enggan melepaskannya dari memoriku. Sore yang hangat itu menjadi minggu sore yang amburadul dalam sekejap. Ibu melepas celemeknya yang penuh aroma rempah-rempah dan meletakkannya pada meja makan. Kompor tadi belum sempat ibu matikan, bau opor yang sudah siap untuk disantap masih menggantung di udara dengan uap panas yang membuat suhu dapur kian meningkat.

“La, kita pindah ya” Aku yang awalnya fokus pada komik yang sedang kubaca, seketika buyar. Tak paham dengan maksud ibu. Ku teliti raut wajah ibu yang penuh dengan kecewa. Sepertinya jantung ibu berdegup kencang sekali, nafasnya tersengal-sengal mengatur bagaimana ia akan melanjutkan kalimatnya. Sorot matanya menurun, Ia melihat baju yang ia kenakan. Ibu menimbang-nimbang dengan kalimat yang bagaimana Ia akan menjelaskan apa yang terjadi kepada anak semata wayangnya.

Bau sangit perlahan tercium dan menyebar ke seluruh dapur. Opor yang ibu masak tadi mulai hangus rupanya. Dengan cepat aku beranjak mematikan kompor dan menantikan kalimat ibu selanjutnya. Ayah sedari tadi diam dan duduk di ruang makan mulai menurunkan koran yang dibacanya. Ia siap mendengarkan seksama apa yang akan ibu katakan.

“La, kita pulang ya. Kita berangkat sekarang ke rumah nenek” Ibu terisak, ia menunduk, bersandar pada dinding dapur.

“Ada masalah apa, Ma?” Ayah mulai bersuara, suaranya lebih berat dari biasanya. Raut wajahnya bingung, Ayah seperti sedang berusaha menyembunyikan kalimatnya dibalik lidah.

“Aku sudah tahu semua” Ibu masih menunduk, isakannya sedikit mereda, kini emosi sudah berada pada pangkal lidah. Ayah berusaha tenang. “Alasan kamu pergi ke Surabaya bukan untuk dinas, kan? Sudah berapa kali kamu membohongi kami?”

“Aku gak paham kamu sedang bicara apa, Ma” Ayah kini sedikit menaikkan intonasinya. “Berhenti bicara melantur, ayo makan saja.” Lanjutnya beranjak menuju lemari piring.

“Iya Bu, ayo kita makan saja” aku meraih tangan ibu. Tangannya dingin tak karuan. Ibu melihatku dan tersenyum kecil.

Ibu mengambil langkah lemas dan duduk di ruang makan. Kedua tangannya terkulai di atas meja, “Ayah, setiap kamu pulang kerja sebisa mungkin semua makan malam sudah siap di meja, kurapikan setiap sudut rumah dan kuminta Nala agar selalu siap untuk makan malam bersama. Aku juga berdandan serapi mungkin agar kamu senang melihat aku dan Nala menyambutmu dengan baik di rumah. Lalu sampai rumah kamu selalu menutup pintu ruang kerjamu dan melanjutkan pekerjaanmu alih-alih menghabiskan waktu dengan kami. Aku dan Nala memaklumi itu karena kamu memiliki kesibukanmu sendiri. Aku meminta Nala untuk tidak memintamu menemaninya bermain karena kesibukanmu dan meminta Ia untuk mengerti itu. Saat kamu dinas di Surabaya pun aku meminta Nala untuk tidak memaksa kamu pulang cepat-cepat dan tidak sering menghubungimu karena kamu bilang kamu sibuk rapat. Aku sangat menghormati dan menghargai semua yang kamu lakukan. Tapi saat aku tahu kamu ke Surabaya bukan untuk dinas tapi untuk menemui perempuan itu, rasanya aku membenci diriku sendiri karena semua yang kulakukan untuk kamu ternyata sia-sia. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu bodoh atas semua kebohongan yang sudah kamu rangkai dan aku percaya.”

Ayah mulai terisak. Air matanya meluap bak air bah. Tidak lagi dengan ibu. Air matanya telah kering dengan luka yang masih menganga lebar di hatinya.

“Aku tahu aku salah—“

“Kamu akan tetap melakukan kesalahan itu lagi, kan? Kamu bahkan tahu seberapa aku membenci kebohongan. Apa aku harus runtuhkan bumi di atas kepala kamu, dan nantinya aku harus percaya lagi?”

Hatiku teriris melihat ibu. Suaranya bergetar hebat, raut wajahnya penuh kecewa. Nafasnya sudah tak karuan. Opor yang dimasak ibu kini mendingin, menjadi saksi perang dingin sore itu. Hangat tak lagi menghampiri dapur kami.

“Kasih aku kesempatan lagi, Ma” kini ayah berlutut. Jantungku berdegup kencang mengingat kejadian ini. Kuingat lagi semua aroma, atmosfer, mimik wajah orang tuaku, bagaimana suara mereka, cahaya matahari yang kian menjingga, dinding dapur yang tak lagi hangat. Mereka tak lagi saling tatap dengan penuh kasih sayang seperti yang mereka lakukan pada tahun-tahun yang lalu.

“Tidak ada yang harus kumaafkan. Tidak ada, Arif.” Ibu mengakhiri percakapan sore itu dengan memanggil nama ayah. Ibu beranjak dari posisinya dan berjalan cepat menuju kamar. Aku terdiam lama. Masih mengamati ayah di seberang sana. Ia menangis. Namun sepertinya tidak untuk menyesali apa yang telah ia lakukan. Ayah menangis karena ketahuan.

– 0 –

Kini tepat dua tahun setelah kejadian sore itu, Aku dan ibu kembali tegak percaya diri tanpa sosok ayah di samping kami. Ayah memilih meninggalkan pintu rumah kami, dan memutuskan menikah lagi. Kabarnya tak pernah terendus atau terbawa angin sampai ke tempat kami berada. Setidaknya tidak ada pihak yang dirugikan lagi. Aku dan ibu bahagia, ayah pun demikian.

⁃ 0 –

Sore itu, dua tahun lalu. Aku terdiam lama sekali. Ayah meminta maaf berkali-kali sambil memelukku erat. Aku tak tahu kenapa, yang jelas pada umurku yang masih tujuh tahun itu aku bertanya-tanya.

“Kenapa ada cinta yang pernah, kalau pada akhirnya ayah menyerah?” Air mataku mulai jatuh tak karuan. “Nantinya, ayah tidak akan pernah cukup. Sekarang aku kira pintu ibu sudah tertutup.”

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai