Aku menghela nafas menatap layar ponsel yang baru saja kumatikan itu. Baru saja aku menerima panggilan video dari Bapak dan Ibu di Jakarta. Sulit sekali rasanya melihat mereka hanya dari layar berukuran 6 inci ini. Memang, masih ada rasa hangat yang menjalar dalam raga ini ketika melihat wajah bahagia mereka. Namun, tanpa adanya pelukan dan suara lembut Ibu yang tidak terdistorsi gawai, semuanya terasa hampa.
“Aku rindu, Pak, Bu,” aku bergumam sebelum membersihkan diri, bersiap untuk tidur di kamar kosan yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari rumah.
-0-
Suara alarm membangunkanku untuk segera bersiap sholat Shubuh. Mataku masih menyesuaikan dengan cahaya matahari yang menyeruak menembus gorden tipis kamar. Nyawaku masih belum terkumpul sepenuhnya, tetapi aku sudah melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sekalian saja mandi, aku lupa hari ini lebaran, masjid terdekat masih mengadakan sholat ied, ada baiknya aku berangkat bersama Esti dan Mba Aila. Pikirku.
Selesai mandi dan sholat Subuh, aku menyalakan ponselku kembali dan membalas pesan dari Bapak dan Ibu yang baru saja dikirim lima menit yang lalu. Ucapan lebaran dan wejangan khas orangtua seperti biasa. Rasanya menggoda sekali untuk mengeluh saat itu juga, tetapi kupendam dalam-dalam godaan itu.
Aku mulai menyiapkan sajadah dan mukena yang akan kugunakan di masjid. Waktu masih menunjukkan pukul setengah 6, tetapi aku sudah melangkahkan kakiku untuk mengetuk pintu kamar kos sebelah kanan dan kiriku. Kuputuskan untuk mengetuk pintu kos Mba Aila terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum, Mba!” panggilku tanpa ragu karena kulihat lampu kamar Mba Aila sudah menyala.
“Wa’alaikumsalam,” keluarlah sang empunya suara dalam pakaian gamis dan hijab yang sudah rapih.
“Mba sholat ied di masjid, kan? Bareng ya?” pintaku. Mba Aila ini dua tahun di atasku dan aku sudah tidak canggung menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri.
“Gak kamu minta, aku tadi juga sudah berencana ngajak kamu, Dek. Esti mana?” tanyanya sambil menengokkan kepalanya keluar mencari orang yang disebutkan.
“Habis ini baru mau aku samper Mba orangnya,” kataku. Mba Aila hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, sebentar aku ambil tas dulu, kita samper dia bareng,” ujarnya yang langsung bergegas mengambil tasnya, “Ayo!”
Aku dan Mba Aila hanya perlu melewati pintu kamar kosku untuk mencapai kamar kos Esti.
“Assalamu’alaikum, Es Teh!” panggilku yang langsung menghasilkan sebuah pukulan ringan di bahuku. Mba Aila menatapku menahan tawa. Aku pun tersenyum lebar sambil meringis, “udah kebiasaan, Mba.”
Tak lama, pintu Esti terbuka, memunculkan sosoknya yang sudah berpakaian rapih, tetapi belum mengenakan hijabnya.
“Wa’alaikumsalam, Mba Aila,” jawabnya manis.
Aku merenggut sedangkan Mba Aila hanya tersenyum geli, “Masa Mba Aila aja?”
“Wa’alaikumsalam, sahabatku. Alhamdulillah sekarang lagi Idul Fitri sehingga kata-katamu mengenai “Es Teh” itu harus kumaafkan, beruntunglah sahabatmu ini pemaaf,” ujar Esti yang memasang senyum terpaksanya. Aku meringis kembali sambil menggumamkan kata maaf.
“Tunggu ya, aku pakai hijab dulu,” ucap Esti yang segera mengenakan hijabnya.
“Memangnya mau ngapain?” tanyaku jahil. Esti mendengus.
“Mba Aila, jinnya sudah berkeliaran ya? Mentang-mentang bulan Ramadhan sudah selesai,” gerutu Esti. Aku dan Mba Aila hanya tertawa mendengar sindirannya.
“Maaf, ih. Ayo cepat, telat nanti,” sahutku. Terkadang aku bertanya-tanya apakah kita bertiga tersambung oleh telepati. Kutepis pikiran tak terlalu berguna itu ketika Mba Aila menepuk pundakku. Aku melihat Esti yang sudah rapih di sebelahku.
“Ayo!” sahut Esti dengan semangat 45.
-0-
Sholat Ied telat selesai. Semua berjalan dengan lancar, begitu pun protokol kesehatan yang cukup ketat. Aku sudah melipat mukena dan sajadahku lalu berdiri, menunggu Esti dan Mba Aila merapihkan alat sholat mereka.
“Ayo, balik ke kosan!” ajak Esti. Aku dan Mba Aila hanya tersenyum dan mengangguk, melangkahkan kaki menuju kosan kami yang tercinta. Selama berjalan, pikiranku melayang ke Bapak dan Ibu di Jakarta. Sedang apa mereka? Mungkin sedang bercengkerama berdua menikmati masakan Ibu.
“Ngelamun terus astaga. Kadang takut aku kalau kamu sampai kesambet! Udah sampai nih,” celetuk Esti yang membuatku tertawa kecil.
“Rinai, mandi dulu, habis itu ke dapur ya,” ucap Mba Aila ketika kami bertiga sampai di depan kamar kosan. Aku merasa heran dengan ajakan Mba Aila tapi aku hanya menganggukkan kepalaku. Mataku tak melewatkan kerlingan mata Mba Aila yang menatap Esti di seberang sambil tersenyum penuh arti. Aku tak mengindahkannya.
Tubuhku sudah bersih dan segar. Aku menelpon Bapak dan Ibu sebentar untuk bertukar kabar dalam momen lebaran ini kembali, mengingat ajakan Mba Aila, aku segera menyelesaikan panggilan dan pergi ke arah dapur setelah mengunci pintu kamar kosan. Sesampainya di dapur, aku melihat Mba Aila dan Esti sibuk dengan sesuatu.
“Kalian ngapain?” tanyaku kepada dua orang yang membelakangiku ini. Mba Aila dan Esti segera membalikkan tubuh mereka menghadapku. Aku dapat mencium wangi masakan. Alisku terangkat sebelah.
“Kita tahu kamu pasti kangen banget sama rumah, Kan? Kaya tahun lalu Astaghfirullah, aku harus sogok kamu dulu biar gak sedih pakai Asinan Betawi Babe Ju-” Mba Aila menyikut pelan Esti dari samping. Esti menjadi kikuk dan terkekeh, “Eh, intinya biar kamu gak sedih lagi, aku sama Mba Aila buatin kamu makanan khas lebaran. Lihat nih, rendang super enak Mba Aila! Aku bantu nyuci piring aja kemarin, sama ngangetin buat pagi ini.”
Aku menatap mereka tidak percaya ketika mereka menunjukkan sepanci rendang yang sangat wangi itu. Mataku juga menangkap semangkuk opor ayam di meja dapur. Sebelum aku dapat berkata, Mba Aila bersuara.
“Mungkin gak seenak masakan Ibu kamu, Rin. Semoga kamu suka, ya? Sebenarnya, Mba juga lupa masak sayurnya, padahal sudah dipotong-potong,” ujar Mba Aila tersenyum menyesal.
“Nah justru itu! Belum lapar kan, Rin? Masak bareng yuk sayurnya! Biar kerasa lebarannya!” ajak Esti yang terlihat bersemangat. Rasanya aku ingin menangis, tetapi malu menangis di depan mereka. Bahagianya diriku mendapat sahabat seperti mereka. Tak kusangka Esti yang gayanya sedikit selengean itu dapat bertindak semanis ini bersama Mba Aila. Sebagai gantinya, tak hentinya aku bersyukur di dalam hati.
“Terima kasih, Mba Aila, Esti. Aku gak tahu lagi harus berkata apa, pasti enak kok, Mba… aku senang banget, serius,” kataku dengan suara yang sedikit bergetar.
Mereka menyadari aku ingin menangis, tetapi Esti merangkulku, “Yasudah, ayo masak. Jangan nangis, nanti kalau air matamu masuk ke panci, sayurnya jadi keasinan.”
Aku mencubit pelan pinggang Esti yang langsung mengaduh. Mba Aila tertawa melihat kami. Acara masak sayur itu berlangsung heboh karena Esti yang tidak sengaja memasukkan garam ketika yang harus dimasukkan gula. Alhasil aku tertawa meringis merasakan sayur yang benar-benar jadi asin itu. Mba Aila hanya menghela nafas pasrah. Sekali lagi aku bersyukur sepenuh hati, di hari Lebaran ini, waktu di mana aku tidak dapat pulang ke rumah untuk yang kedua kali, aku justru mendapatkan keluarga kedua yang hangat di kosan ini. Memang, sebuah keluarga bukanlah hanya orang yang terikat akan hubungan darah. Sebuah ikatan batin yang kuat seperti ini pun menjadikan kita keluarga.
‘Nak, Rinai gimana lebaran sendirian di kosan? Makan apa? Ngapain aja?’
Aku tersenyum melihat pesan dari Bapak dan Ibu, aku pun segera mengetik balasannya,
“Bapak sama Ibu tenang aja, Insya Allah kalau sudah memungkinkan aku pulang. Aku makan rendang sama sayur yang keasinan. Di sini aku juga punya keluarga, Pak, Bu. Ada Esti dan Mba Aila.”
Minal aidzin wal faidzin, kawan.
Fin.
Salma Assabila // LMA. 2120012