Film Dilan 1990 mungkin saat itu menjadi film yang sangat ramai dibicarakan di kelas. Tentang bagaimana Dilan mencuri hati Milea dengan gombalan-gombalan di atas rata-rata, yang membuat semua perempuan di kelas menjerit kegirangan dan berharap nantinya ada sosok laki-laki seperti Dilan yang menjadikannya Milea.
Dilan-Milea memang menyenangkan untuk dilihat. Mereka terlihat ‘waw’ menjadi pasangan pelajar yang sedang kasmaran. Tapi aku lebih suka, ceritaku.
Dimana aku menemukan dia di bawah gedung yang sama. Mungkin aku harus berterimakasih sebesar-besarnya kepada pendiri sekolah ini, atau kepala sekolahnya? atau panitia penerimaan siswa baru? atau pada semesta? yang telah menemukan aku pada dia yang tidak seromantis Dilan dengan gombalannya. Dia hanya, laki-laki luar biasa yang bisa segalanya. Termasuk membuat aku penuh tanda tanya, dengan segala teka-teki yang tidak pernah menjadi sederhana.
Tunggu. Kalau aku menceritakan semua tentang dia disini, akan berlembar-lembar dan tak pernah selesai. Jadi biar kuringkas saja.
Teka-teki itu sampai sekarang, aku tidak pernah paham. Termasuk pertanyaan bagaimana dulu dia pernah datang dan aku mempersilakan ia memasuki kehidupanku. Dengan secangkir teh hangat saat hujan reda, lalu semua terjadi begitu saja. Lagi-lagi aku dibuat berterimakasih pada salah satu ekstrakurikuler di bawah gedung berwarna merah bata ini.
Lalu waktu berjalan begitu cepat, dan menyenangkan. Dia lucu, dan dia tidak pernah sadar itu. Dan, aku banyak berterimakasih pada semesta karena banyak hal kecil menjadi menyenangkan, jika diperbincangkan dengan dia. Contohnya, saat aku naik ojek online. Dan dia minta mas-masnya untuk hati-hati. Karena pelanggan kali ini spesial. Dia kira aku ini martabak pakai telor? Kan. Aku bilang dia lucu.
Menghabiskan waktu setelah pelajaran berakhir hingga senja datang lalu mangkir, lalu percakapan kami tak ada habisnya hingga larut. Bernyanyi ‘berdua saja’ via suara. Menunggu jemputan di warung depan sekolah, diselingi candaan dan sorot matamu yang, sudahlah, aku suka. Iya, aku selalu suka.
Dan banyak lagi. Banyak kisah, di setiap sudut ruangan.
Tentang dia, tentang temanku, tentang tidak adanya cermin di tangga belakang wallclimb, atau tentang bagaimana asal-usul kamar mandi trapesium dinamakan demikian.
Banyak cerita di bawah gedung berwarna merah bata ini yang masih menjadi cerita tak terungkap dan dibungkam di balik mulut-mulut mungil manusia. Atau di setiap celah yang menunggu untuk diungkap.
– 17 Februari 2019, 21.52
Nurlaili Mardhiyah// LMA.2120009