Dalam budaya Jawa, tata krama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan yang sangat penting. Tata krama tidak hanya menyasar kalangan bawah saja, tetapi juga kalangan elite seperti bangsawan, raja, bahkan pemuka agama. Bentuk tata krama ini pun nyatanya tidak sulit untuk ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penerapannya, tata krama dapat dilihat melalui cara berbicara masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa tidak menggunakan bahasa yang ‘sama’ karena setiap individu memiliki kedudukan yang berbeda-beda sehingga harus ada rasa hormat yang ditaruh saat kedua individu ini berhubungan satu sama lain. Walaupun memang terkesan membeda-bedakan serta tidak egaliter, masih ada hal-hal baik dari budaya ini yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terkait keluhuran, rasa hormat, dan cara berperilaku.
Secara umum, masyarakat Indonesia juga sudah seyogyanyapaham dengan tata krama serta cara berperilaku. Sudah sangat banyak kesempatan bagi kita untuk mempelajari hal-hal tersebut seperti dari mata pelajaran PKN yang diampu sejak jenjang sekolah dasar, rumah ibadah yang rutin kita kunjungi untuk mengaji, atau bahkan sekedar ‘salim’ kepada tetangga yang tinggal di sebelah rumah kita. Hal ini kembali membawa kita kepada poin bahwa seharusnya masyarakat sudah sangat matang untuk bersikap dan berperilaku sehingga tidak ada masalah berkaitan hal ini yang dapat menjerat kita.
Di samping itu, perkembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan beribu teknologi pun terus terjadi. Perkembangan tersebut bahkan melahirkan sebuah dunia baru yang mungkin belum pernah manusia pikirkan sebelumnya. Dunia baru itu adalah dunia virtual. Dunia virtual memungkinkan seseorang untuk ‘bertemu tanpa bertemu’. Manusia tidak perlu lagi menempuh perjalanan berhari-hari, melakukan transit di setiap bandara, dan mengantre berjam-jam untuk sekadar membeli tiket kereta api. Kini, manusia hanya perlu mengaktifkan perangkatnya lalu memanggil orang yang ingin dituju. Dengan begitu, orang yang terpisah beribu-ribu kilometer jaraknya pun dapat terkoneksi satu sama lain dari tempatnya masing-masing.
Hal ini membawa tugas baru bagi manusia yaitu kewajiban untuk beradaptasi di dunia virtual yang sudah tercipta. Dalam kenyataannya, tidak seluruh elemen masyarakat siap untuk menghadapi tugas baru tersebut. Rasa aman karena identitas yang dapat disembunyikan atau ketidakmungkinan seseoranguntuk mendatangi orang lain yang berada dalam platform virtual yang sama membuat masyarakat terlena akan kewajiban-kewajiban dalam kehidupan di dunia nyata untukditerapkan di dunia virtual ini. Fakta ini diperkuat dengan adanya survei Microsoft yang menyatakan bahwa netizenIndonesia merupakan netizen yang paling tidak sopan di dunia. Hal yang tentu sangat aneh untuk terjadi bagimasyarakat yang memiliki warisan budaya yang luhur sertaberbudi pekerti mulia.
Masih ada waktu bagi kita untuk berbenah dan bersiap untuk menjadi sebuah komunitas yang lebih baik di dunia virtual. Hal ini seharusnya tidak sulit mengetahui kita dapat ‘kembali’ berkaca kepada apa yang sudah kita miliki, tata krama dan segala budaya dengan sifat luhurnya. Semua ini penting karena ke depannya dunia virtual dan segala teknologi penunjangnya akan menjadi sarana utama bagi kelangsungan peradaban manusia. Dengan persiapan yang dapatdilaksanakan sesegera mungkin tersebut juga harapannya Indonesia Maju dan Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan pemerintah dapat terwujud dengan sempurna.
Fadhilah Rafif Pahlevi (24010120130036)